Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
304. S2 - Apa bisa?


__ADS_3

"Maaf, Mas. Aku tidak bisa memaksa putriku. Sepertinya dia belum bisa menerima kehadiranmu," ujar Nur.


"Tidak apa-apa, tapi bolehkah aku bicara dengannya? Walaupun hanya dari depan pintu?" tanya Hamdan.


"Silakan saja, tapi jangan memaksanya. Sudah cukup kesedihan yang dirasakannya selama ini. Aku setuju ikut ke sini agar dia bahagia," ucap Nur tanpa melihat lawan bicaranya.


Hamdan hanya mengangguk. Dia pergi menemui sang putri. Sementara di ruang tamu menyisakan Nur bersama Merry. Suasana mendadak terasa kaku, keduanya tidak tahu harus berkata apa.


"Sebentar, saya ambilkan minum dulu," ucap Nur yang segera masuk ke dapur dan membuat dua gelas teh.


Merry hanya diam sambil menatap punggung wanita dari masa lalu suaminya, hingga hilang dibalik tembok. Dia menghela napas, guna menetralkan rasa tidak nyamannya.


"Silakan diminum, Mbak," ucap Nur setelah meletakkan gelas.


"Iya, terima kasih." Merry pun meminumnya untuk menghormati tuan rumah.


Hening ... keduanya tidak ada yang berbicara. Hingga Merry memberanikan diri membuka mulutnya.


"Kenapa kamu tidak menikah?"


Nur terkejut mendengar pertanyaan dari Merry, tetapi dia berusaha untuk terlihat biasa saja. Wanita itu mengerti, pasti istri dari Hamdan ini khawatir jika dirinya merayu dan merebut suaminya.


"Tidak ada niat ke sana. Aku hanya ingin membesarkan anakku dan memberinya kasih sayang, itu saja."


Merry masih menatap wanita yang ada di depannya dengan saksama. Dia ingin tahu seperti apa Nur sebenarnya. Apa benar wanita itu baik? Atau hanya berpura-pura baik?


"Aku tahu kamu pasti masih mengharap Mas Hamdan kembali padamu, kan?"


"Atas dasar apa, aku ingin dia kembali? Bahkan membayangkannya saja, aku tidak pernah. Kamu bisa mengatakan aku munafik, tetapi perlu kamu tahu jika kesulitan dan kesakitan telah mengajarkanku, untuk mengerti akan kebersamaan dan kepercayaan."


"Kuharap ucapanmu bisa dipercaya."


"Tentu, kalau perlu larang juga suamimu untuk datang ke sini. Kedatangannya hanya membuat putriku menangis."

__ADS_1


Sebenarnya Nur tidak bermaksud untuk menjauhkan anak dan ayah itu, tetapi mendengar kata-kata Merry, seolah dirinya wanita rendahan yang suka merayu dan merebut suami orang. Jangankan untuk merayu, berbicara saja dia malas.


Merry tidak bicara, apalagi saat dia mendengar suara sepatu. Wanita yakin itu suaminya karena tidak ada pria lain di rumah ini. Ternyata benar, Hamdan turun dengan wajah yang kusut. Merry pun mencoba untuk tersenyum.


"Sudah, Mas?" tanya Merry


Hamdan menggelengkan kepala dan mendesah berat. Tentu saja jawaban dari pria itu sudah dapat dipahami kedua wanita yang sedari tadi menunggunya. Merry pun mengusap bahu sang suami agar tidak merasa down.


"Lalu, sekarang bagaimana, Mas?" tanya Merry.


"Kita pulang saja, besok ke sini lagi."


"Mohon maaf, tapi sebaiknya jangan ke sini setiap hari. Aku tidak ingin mendengar gosip mengenai keluargaku. Apalagi dulu ada masa lalu diantara kita. Kuharap kamu mengerti," sela Nur.


"Maaf, aku hanya ingin meminta maaf pada putriku. Aku hargai keputusanmu, tapi aku akan tetap ke sini sesekali hingga Laily memaafkanku dan kami bisa bertemu di luar. Kami permisi, assalamualaikum," ucap Hamdan yang segera beranjak bersama dengan istrinya.


"Waalaikumsalam," gumam Nur.


*****


Nur menceritakan kejadian tadi pagi pada Khairi, tetapi wanita itu tidak mengatakan pembicaraannya dengan Merry. Nur takut sang putra dilema antara dia dan mamanya.


"Apa, Ibu, tahu apa yang papa katakan pada Laily?" tanya Khairi.


"Tidak, Ibu menunggu di ruang tamu bersama mamamu. Ibu pikir ayahmu juga butuh privasi untuk bicara dengan adikmu."


"Biar aku bicara dengan Laily sebentar." Khairi berlalu menuju kamar adiknya.


Afrin dan sang mertua duduk di ruang keluarga. Nur merutuki dirinya sendiri. Seharusnya tadi dia mengikuti Hamdan. Kalau seperti ini, wanita itu merasa bersalah karena tidak tahu apa-apa.


Sementara di lantai dua, Khairi mencoba mengetuk pintu kamar adiknya. Hingga dua kali, barulah pintu terbuka. Tampak wajah Laily yang sayu dan sembab, membuat pria itu tidak tega.


"Boleh, Kakak, masuk?" tanya Khairi sambil tersenyum.

__ADS_1


Laily hanya mengangguk dan melebarkan pintunya. Khairi masuk dan duduk di tepi ranjang, diikuti gadis itu yang duduk sedikit jauh. Pria itu memakluminya karena sampai detik ini Laily belum mau disentuh olehnya.


"Kenapa kamu nggak mau ikut jalan-jalan? Padahal tadi kamu setuju saja!" tanya Khairi dengan menatap adiknya.


"Aku lagi malas saja, Kak," jawab Laily seadanya.


"Kalau kamu merasa risih dengan apa yang ada di sekitarmu, katakan padaku. Aku mengajakmu ke kota agar kamu bahagia dan nyaman, tapi kalau di sini kamu merasa tertekan, aku akan sangat merasa bersalah. Aku ingin kamu dan ibu bahagia di sini jadi, apa pun yang kamu rasakan, katakan!"


Tiba-tiba saja Laily menangis, tentu saja hal itu membuat Khairi kebingungan. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Pria itu ingin memeluk adiknya, tetapi takut jika gadis itu akan marah.


Akhirnya Khairi pun terpaksa membeli adiknya. Terserah jika nanti dia marah, asal sekarang tenang dulu. Tanpa disangka Laily membalas pelukan kakaknya membuat pria itu terkejut sekaligus senang. Cukup lama Isak tangis terdengar di kamar, hingga akhirnya Laily mengusap air matanya.


"Maaf, Kak. Baju Kakak basah," ucap Laily sambil melihat ke arah baju Khairi yang basah.


"Tidak apa-apa, nanti bisa dicuci. Kakak senang kamu mau meluk Kakak," ucap Khairi membuat Laily tersenyum.


"Kakak, kan, Kakakku."


Khairi pun ikut tersenyum mendengarnya. Itu artinya Laily sudah menerimanya. Pria itu terharu hingga membuat matanya berkaca-kaca. Tidak disangka akan semudah ini jika melakukannya dengan ikhlas.


"Kamu mau cerita sama Kakak?"


Hening ... tidak ada jawaban.


"Kalau kamu tidak suka dengan kedatangan papa ke sini, Kakak akan minta dia supaya tidak datang lagi, tapi jangan menghalanginya berusaha untuk mendapatkan hati putrinya kembali jika di luar. Dia sudah sangat merasa bersalah. Ini pasti akan terasa tidak adil untukmu, tapi hanya satu keinginanku. Kita bisa hidup bersama dengan berdampingan. Meski ibu dan papa tidak bisa bersatu."


Laily menatap kakaknya yang memiliki harapan besar. Gadis itu juga tidak ingin menyimpan dendam. Akan tetapi, setiap melihat pria paruh baya itu, semua rasa sakitnya kembali terasa. Mungkin benar apa yang dikatakan ibunya. Dia harus ikhlas.


'Apa mungkin aku bisa ikhlas? Melihatnya saja membuatku ingin marah,' batin Laily.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2