
Emran berada di dalam kamarnya seorang diri, entah kenapa ia merasa kesepian malam ini, padahal biasanya juga ia selalu sendiri. Pintu kamar terbuka, muncullah sang istri memasuki kamar.
"Aku kira kamu beneran tidur sama Afrin," ucap Emran.
"Maunya gitu, tapi kasihan suamiku, tidur sendirian."
Yasna merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong, ia bingung harus bagaimana. Padahal dia sudah pernah bersuami, entah kenapa ia merasa malu, seperti seorang gadis saja.
"Kenapa di pinggir sekali, nanti jatuh, ke sinilah." Emran meminta Yasna tidur di lengannya.
Yasna menurut saja, tanpa banyak kata, ia tidur dengan berbantalkan lengan Emran dan memeluk suaminya. Ia sangat gugup sekali, jantungnya berdetak lebih cepat, mungkin Emran bisa mendengarya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukannya malam ini, aku tahu kamu pasti lelah."
Yasna diam, ia merasa malu, ia menyembunyikan wajahnya dalam pelukan suaminya. Emran tahu kegugupan Yasna, karena ia pun sama, entah kenapa, padahal sebelumnya mereka sering bertemu.
"Apa lengan Mas tidak sakit, kalau seperti ini terus?"
"Tidak," jawab Emran. "Na, kalau aku meminta kamu berhenti bekerja, apa kamu bersedia?"
"Jika menurut Mas itu baik, aku akan berhenti."
"Apa kamu tidak marah atau kecewa padaku?"
"Tidak, untuk apa? Aku yakin itu untuk kebaikan kita semua."
"Iya, benar. Kamu tahu kalau aku menikah bukan hanya untuk menjadikan kamu istriku saja, tapi juga menjadi ibu untuk anak-anakku. Bukan maksudku menjadikanmu baby sitter untuk mereka, aku hanya ingin mereka tidak kekurangan kasih sayang."
"Aku mengerti maksud Mas dan aku dengan senang hati merawat dan menyayangi mereka."
"Terima kasih." Emran menatap Yasna dengan penuh cinta. "Tidurlah, kamu pasti sangat lelah."
Yasna mempererat pelukannya, ia merasa nyaman saat ini jadi, biarlah untuk kali ini ia memikirkan dirinya sendiri. Mereka tidur sambil berpelukan hingga menjelang subuh.
*****
"Zahran belum pulang, vi?" tanya Faida.
"Belum," jawab Avi singkat.
"Kamu seharusnya lebih perhatian sama suami, biar suami betah di rumah."
"Aku kurang apa lagi, Ma? Aku sudah melakukan semuanya, tapi dia sama sekali tidak pernah melihatku. Sekarang, bahkan dia tidak memperhatikan Putri lagi."
__ADS_1
"Kamu usaha lebih keras lagi, dong!"
"Usaha lebih keras seperti apa lagi? Aku bahkan sampai hampir mendekam di penjara, itu semua aku lakukan untuk apa lagi, Kalau bukan agar Zahran hanya melihatku. Namun, pada akhirnya aku yang salah di mata semua orang, termasuk Mama."
Faida tidak bisa berkata apa-apa lagi, memang benar, saat itu dia juga menyalahkan Avi, atas apa yang terjadi pada Yasna. Bagaimanapun Yasna pernah menjadi menantunya dan hubungan mereka dulu sangat dekat.
"Mama sebenarnya masih sayang, sama mantan menantu Mama itu, kan?" tanya Avi saat melihat keterdiaman Faida.
"Apa maksudmu?"
"Dari reaksi Mama saja sudah terlihat, kalau Mama sangat menyayanginya, tapi itu tertutupi dengan keinginan Mama untuk memiliki cucu."
"Kamu benar, aku memang menyayanginya, dia wanita yang sangat baik, berkali-kali aku menghinanya, tapi tidak sekalipus dia membalas. Saat aku membawamu pulang ke rumah Zahran, itu pertama kalinya dia membantahku bahkan dia berteriak padaku, aku tahu dia melakukannya karena hatinya telah terluka, aku bisa melihat matanya yang dipenuhi kepedihan, tapi sebagai seorang ibu, aku tidak ingin anakku selamanya hanya hidup berdua dengan istrinya."
"Jika aku yang ada di posisi Mama, aku tidak akan memisahkan mereka. Lebih baik tidak memiliki anak, daripada mempunyai anak, tapi tidak bisa memberi mereka kasih sayang." Avi meninggalkan Faida, ia juga seorang ibu, ia merasa sedih saat melihat putrinya merengek karena tidak lagi diperhatikan oleh ayahnya. Avi memasuki kamarnya, ia juga ingin menenangkan diri.
Faida termenung seorang diri, kini semua orang menganggapnya jahat. Mereka tidak tahu, bagaimana perasaan Faida saat melakukan ini semua, ia juga merasakan perang batin dalam dirinya. Namun, ia berusaha keras agar kuat, karena semua demi masa depan putranya.
*****
Yasna bersama Bik Ima sedang menyiapkan sarapan pagi, ini hari pertama baginya melaksanakan tugas sebagai istri, ibu dan menantu jadi, ia akan berusaha sebaik mungkin, ia tidak ingin mengecewakan semua orang.
"Kalian bangun jam berapa? Kok sudah matang semua?" tanya Karina yang baru saja datang.
"Bik, jangan panggil nyonya, Bibik kan lebih tua dari saya, panggil Yasna saja," sela Yasna.
"Bibi nggak enak, Nyonya majikan saya. Panggil ibu saja, Ibu Yasna, boleh, kan?" tanya Bik Ima.
"Aku berasa tua deh, Bik!"
"Nggak papa, itu lebih baik," sahut Karina tersenyum, ia bukan orang yang gila hormat, dia hanya tidak ingin orang lain merendahkan menantunya suatu saat, jika tahu Bik Ima memanggil Yasna hanya namanya saja.
"Ya sudah, terserah Bibik saja."
"Anak-anak belum bangun, Na?" tanya Karina.
"Aku belum lihat, Ma. Aku lihat dulu." Yasna pergi menuju kamarnya, untuk menyiapkan keperluan suaminya terlebih dahulu.
"Mas, sudah kerjanya, mandi dulu sana!" peeintah Yasna yang melihat sang suami masih asyik dengan laptopnya.
"Iya."
"Keperluan buat kamu, aku letakkan di ranjang, ya! Aku mau lihat anak-anak"
__ADS_1
Yasna pergi ke kamar Aydin terlebih dahulu, karena kamarnya lebih dekat.
Yasna mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan atau pergerakan dari dalam. Ia kembali mengetuk pintu dengan lebih kuat, hingga pintu terbuka, nampak wajah kesal dari Aydin.
"Ada apa sih?"
"Sudah waktunya kamu mandi, nanti terlambat. Hari ini sekolah, kan?"
"Heemm." gumam Aydin.
"Bunda bangunin Adek dulu, kamu mandi, jangan tidur lagi." Yasna pergi meninggalkan Aydin yang masih kesal.
Yasna pergi ke kamar Afrin, di ketuk kamar Afrin lalu ia masuk, ternyata Afrin masih tidur.
"Sayang, ayo bangun! Hari ini Afrin harus sekolah."
"Nggak mau, aku libul saja."
"Eh, nggak boleh. Kemarin sudah libur, sekarang harus sekolah, ayo, cepat bangun! Mau Bunda mandiin?"
Afrin mengangguk dengan mata yang masih tertutup. Yasna menggendong Afrin, membawanya ke kamar mandi dan memandikannya.
Setelah semua keperluan Afrin siap, mereka menuju ruang makan, ternyata semua orang sudah siap.
Saat mereka sedang menikmati sarapan, terdengar bel rumah berbunyi, siapa pagi-pagi sekali datang? apa salah satu kerabat yang kemarin tidak datang jadi, hari ini datang pagi-pagi sekali.
"Bik, tolong buka pintunya!" pinta Karina.
'Iya, Nyonya." Bik Ima segera keluar membukakan pintu untuk tamu itu.
"Bunda nggak sekolah?"
"Tidak, mulai hari ini Bunda yang antar jemput Afrin jadi, Bunda tidak sekolah lagi."!
"Selamat pagi," sapa seorang wanita yang baru saja datang.
.
.
.
.
__ADS_1
.