Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
140. S2 - Menolak lamaran


__ADS_3

Nayla sedang bersiap di dalam kamarnya. Hari ini, gadis itu akan menyambut tamu yang akan datang melamarnya. Dia sendiri tidak tahu siapa pria itu. Nayla berdoa dalam hati, siapa pun dia Jika memang orang baik yang Tuhan berikan kepadanya gadis itu akan ikhlas menerima.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah keluarga Doni, membuat jantung Nayla berdetak lebih kencang. Tiba-tiba gadis itu merasa gugup. Padahal sebelumnya dia terlihat biasa-biasa saja.


Nayla berusaha mengendalikan dirinya, gadis itu tidak ingin membuat bibinya malu. Dia sudah menganggap Rini dan Doni sebagai orang tuanya. Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang berada di luar yang tidak lain adalah rini.


"Nay, tamunya sudah datang. Ayo, keluar!" panggil Rini dengan suara lebih keras.


"Iya, Bi," sahut Nayla sambil membuka pintu kamar. Terlihat Rini yang tersenyum kearahnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Rini sambil menatap keponakannya itu.


"Insya Allah sudah, Bik," jawab Nayla.


"Ayo, turun! Semuanya sudah menunggu di bawah." Rini menggandeng tangan Nayla.


Mereka keluar dengan beriringan, Rini dapat merasakan jika saat ini Nayla tengah gugup. Tangan Gadis itu juga terasa dingin dan hanya menundukkan kepalanya saat berjalan. Nayla tidak berani menatap kedepan dan melihat siapa tamunya, yang hanya akan membuat dia semakin gugup.


"Ayo, duduk, Nay!" ajak Rini.


Nayla duduk diapit oleh Doni dan Rini dengan masih menunduk, tanpa mau melihat tamu yang ada di depannya. Dia merasa seakan hidupnya akan berakhir jika melihat siapa tamunya.


"Kenapa menunduk terus? Apa kami begitu menakutkan?" tanya Yasna, membuat Nayla sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya karena dia merasa mengenali suara itu.


"Bunda!" seru Nayla. Dia terkejut ternyata tamu yang dimaksud oleh Rini adalah keluarga Yasna lalu, siapa yang akan melamarnya? Apakah Aydin? Tidak terlihat juga ada pria lain di sana selain Aydin dan Emran.


"Iya, Sayang. Kamu terkejut melihat keberadaan Bunda di sini?" tanya Yasna.


Namun, Nayla hanya diam. Dia terlihat bingung dan masih belum sadar dengan semua keadaan ini. Semua terasa mengejutkan. Belum hilang rasa gugupnya, kini bertambah dengan keadaan yang mengejutkan ini.

__ADS_1


Nayla menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berharap mendapat jawaban, siapa yang akan melamarnya untuk dijadikan istri. Akan tetapi, tidak ada orang lain lagi di ruangan itu.


"Maafkan Bunda, sudah membuatmu terkejut dengan kehadiran kami," ucap Yasna yang tanpa sadar diangguki oleh Nayla.


Semua orang tersenyum karena merasa lucu dengan tingkah gadis itu. Sadar jika menjadi bahan tertawaan, Nayla segera menundukkan kepalanya. Dia merasa malu, bagaimana bisa gadis itu bersikap seperti orang bodoh? Nayla merutuki dirinya dalam hati.


"Begini, Pak Doni, Bu Rini dan juga Nayla. Saya selaku ayah dari Aydin, datang ke sini dengan niat ingin melamar Nayla untuk menjadi istri Aydin, seperti yang dikatakan oleh istri saya sebelumnya. Kami tidak akan memaksa Nayla untuk menerima. Semua keputusan ada padanya, tetapi tentunya kami sangat berharap Nayla mau menerima lamaran kami," ujar Emran.


Aydin menatap gadis yang ada di depannya, berharap dia menjawab iya. Namun, hingga beberapa menit tak juga ada kata yang keluar dari bibirnya. Semua orang menunggu dengan harap-harap cemas berharap apa pun jawaban yang Nayla sampaikan membuat mereka ikhlas menerimanya.


"Nay, kenapa diam? Pak Emran sedang bertanya," tanya Rini, dia merasa tidak enak karena semua orang masih menunggu jawaban dari Nayla, tetapi gadis itu hanya diam.


'Bismillah,' ucap Nayla dalam hati. "Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas kedatangannya, jujur saya terkejut dengan semua ini dan saya minta maaf pada Om Emran dan sekeluarga. Saya tidak bisa menerima lamaran ini."


Semua orang terkejut mendengar jawaban Nayla. Sebelumnya mereka sangat yakin jika gadis itu akan menerima Aydin, tetapi semuanya berakhir sebaliknya.


Hilang sudah senyum di wajah Aydin. Begitupun dengan Yasna, tetapi wanita itu mencoba untuk mengerti apa pun pilihan dari Nayla. Pasti gadis iti punya alasan tersendiri.


Yasna menatap sang suami. Bagaimana suaminya bisa berkata seperti itu? Apa benar Nayla mencintai Aydin? Akan tetapi, kenapa sekarang menolak lamarannya? A Emran mengetahui alasan gadis itu menolak Aydin?"


"Katakan saja, Nay. Kami akan mendengarnya. Kami juga sudah menerima apa pun keputusan kamu," sahut Yasna.


Dia juga ingin tahu apa penyebab gadis itu menolak lamaran putranya. Nayla terlihat salah tingkah. Ternyata Emran benar jika dia menyukai Aydin dan gadis itu juga memiliki alasan menolak lamaran.


"Saya masih memiliki seorang ayah dan saya masih tanggung jawab beliau meskipun beliau sudah tidak mau bertanggung jawab. Sebelumnya saya sudah akan bertunangan dengan seorang pria dan semua itu gagal. Saya berpikir mungkin itu karena tidak ada restu dari ayah. Dari situ aku bertekad jika ada seorang pria yang akan menikahiku, maka dia harus mendapat restu dari ayah walaupun dia bukan orang yang yang patut untuk di minta restu. Bagaimanapun juga, dia ayah kandung saya." Nayla berusaha kuat untuk mengatakan semua itu, padahal dalam hatinya semua terasa berat dan menyakitkan.


"Jadi, maksudmu kami harus melamarmu kepada ayah kandungmu? Apa pun jawaban dari ayahmu, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Emran. Dia ingin tahu jawaban pasti dari Nayla.


"Saya akan menerimanya," jawab Nayla dengan yakin. Dia sebenarnya sangat tidak ingin bertemu dengan ayahnya, tapi setiap wanita yang akan menikah harus dengan wali ayah kandungnya karena itu, mau tidak mau Nayla harus bertemu dengan ayahnya.

__ADS_1


"Apa kamu tahu di mana alamat ayah kamu saat ini?"


"Itu yang tidak saya ketahui. Sudah sangat lama saya tidak pernah berkomunikasi dengan beliau. Saya dengar istrinya sudah meninggal dan anak dari istrinya itu mengusirnya dari rumah. Sampai sekarang saya tidak pernah tahu di mana keberadaannya."


Emran menganggukkan kepala. Sebelumnya dia juga tahu tentang ayah Nayla, tetapi tidak tahu keberadaannya karena saat itu dia tidak memiliki kepentingan mencari tahu keadaan ayah gadis itu.


"Bagaimana Aydin? Apa kamu menerima syarat dari Nayla?" tanya Emran pada Aydin dengan menatap putranya itu.


"Saya akan berusaha," jawab Aydin. "Boleh saya tahu foto ayahmu dan alamat keluarga almarhum istrinya?"


"Boleh, nanti saya akan mengirim lewat pesan kepada Mas Aydin."


"Jika ayahmu menerimaku, apa kamu juga akan menerimaku?"


"Seperti yang aku katakan tadi, aku akan menerima keputusan apa pun yang ayah putuskan."


Aydin lega mendengarnya. Kini dia harus berjuang, bagaimana caranya agar bisa mendapat restu dari calon ayah mertuanya itu.


"Baiklah, saya akan berusaha untuk mendapatkan restu dari ayahmu."


Nayla mengangguk, dia tidak tahu Aydin bisa melakukannya atau tidak, yang penting gadis itu bisa melihat bagaimana keadaan ayahnya. Nayla juga bisa menikah dengan wali ayah kandung seperti gadis pada umumnya.


Gadis itu pun bercerita sedikit tentang ayah dan juga tentang almarhum ibunya. Keluarga Aydin juga perlu mengetahui tentang kejelekan dari ayahnya. Dia tidak ingin suatu hari nanti keluarga Emran mengetahui semuanya dan mengatakan jika Nayla tidak jujur mengatakan tentang ayahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2