
"Ma, Khairi sudah sampai dan saat ini dia ada di apartemennya. Aku ingin ke sana, Mama, ngizinin, nggak?" tanya Hamdan pada istrinya. "Papa ingin bertemu dengan Laily–putriku."
Merry terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kalau Papa mau ketemu Laily, silakan saja, tapi Mama boleh ikut, kan? Mama juga ingin kenal sama putri Mama."
"Tentu saja boleh," sahut Hamdan.
Dia senang Merry mau menerima anak-anaknya seperti anak sendiri. Sebelumnya Hamdan takut Merry tidak menyukai Laily, bahkan tidak mengizinkannya menemui sang putri. Kini pria itu bisa tenang bisa menemui putri kandungnya.
"Papa mau ganti baju dulu, Mama mau ganti baju juga?" tanya Hamdan seraya berdiri.
Wanita itu hanya mengangguk dan mengikuti suaminya memasuki kamar. Terlihat pria itu sangat bahagia. Sepanjang memilih baju sampai selesai memakainya, senyum tidak pernah luntur dari bibirnya. Merry tidak sampai hati melarang Hamdan pergi.
Selesai bersiap, keduanya pergi dengan Dodi–sopir baru mereka.
"Ma, apa mereka akan menerima kehadiran Papa?" tanya Hamdan saat mobil sudah melaju.
"Tentu, Papa adalah orangtua Khairi dan Laily, sudah pasti mereka akan menerima," jawab Merry.
Meski sebenarnya dia ragu, apa Nur dan Laily bisa menerima kehadiran Hamdan, setelah apa yang pria itu lakukan dulu. Terlepas dari ketidaktahuannya mengenai kehamilan Nur saat itu. Akan tetapi, dia juga wanita yang sangat tahu bagaimana rasa sakitnya ditinggal saat hamil.
"Semoga benar, ya, Ma. Papa tidak sabar bertemu dengan Laily," ucap Hamdan pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
'Papa tidak sabar bertemu Laily atau ibunya? Seharusnya aku tidak ikut menemui mereka. Bagaimana jika kedatanganku hanya akan menambah sakit hatiku saja? Aku memang bodoh,' batin Merry.
Sepanjang perjalanan hanya Hamdan yang berbicara. Merry hanya menimpali sesekali. Hati wanita itu sudah kacau dengan berbagai pemikiran yang ada di kepalanya. Meski sang suami sudah berkali-kali meyakinkannya, tetap saja di dalam hatinya merasa goyah.
"Ma, ayo, turun! Kita sudah sampai," ucap Hamdan membuyarkan lamunan istrinya.
"Emm ... aku nunggu di sini saja. Papa masuk sendiri, tidak apa-apa, kan?"
Hamdan menatap istrinya yang salah tingkah. Dia tahu jika hati Merry tidak tenang. Seharusnya pria itu mengerti dan tidak datang ke sini dulu sebelum hati wanita itu tenang. Hamdan menatap gedung apartemen kemudian menatap istrinya.
__ADS_1
"Kita kembali pulang saja, Pak," ucap Hamdan pada Dodi.
"Hahh?" Dodi melongo mendengar perintah dari atasannya. Kalau sampai parkiran sudah ingin pulang, kenapa tadi ke sini?
"Jangan, Pak Dodi!" sela Merry. "Kenapa pulang, Pa? Bukannya Papa ingin bertemu dengan Laily? Kalau pulang, sia-sia kita datang kesini!"
"Aku akan masuk kalau kamu ikut. Aku tahu kamu masih belum yakin dengan kedatanganku ke sini karena itu lebih baik kita pulang. Aku tidak mau menyakitimu, apalagi sampai membuatmu menangis. Aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama."
Merry terharu mendengar kata-kata sang suami. Dia tidak menyangka Hamdan sangat menjaga hatinya. Pria itu rela tidak menemui Laily, hanya agar tidak membuat hatinya terluka.
"Ayo, Mama akan ikut ke dalam. Bukankah tadi Mama sudah bilang ingin berkenalan dengan anakku?" ajak Merry sambil tersenyum.
"Mama yakin?" tanya Hamdan sambil menatap istrinya. Merry hanya mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah, ayo!"
Hamdan dan Merry bergandengan tangan menuju apartemen Khairi. Keduanya tidak malu menjadi bahan perhatian orang lain. Meski usia mereka tidak muda lagi. Begitu sampai di depan pintu apartemen, Hamdan mengetuk pintu beberapa kali, hingga seseorang membukanya dan ternyata Afrin.
"Papa, Mama, silakan masuk," ucap Afrin sambil membuka pintu. Dia terkejut dengan kedatangan mertuanya.
Wanita itu bingung harus bagaimana. Khairi tidak mengatakan apa pun jika orangtuanya akan ke sini, tetapi dia juga tidak mungkin mengusir mertuanya. Dalam hati Afrin berdoa, mudah-mudahan mereka saling memaafkan dan saling memahami satu sama lain.
"Oh, ini ... Papa sama Mama," jawab Afrin dengan tersenyum paksa.
"Laily! Kamu Laily, kan? Ini Papa, Nak!" seru Hamdan sambil berjalan mendekati putrinya.
Semakin Hamdan mendekatinya, gadis itu semakin menjauh. Laily memang sudah menerima kehadiran Khairi meski belum sepenuhnya, tetapi Hamdan. Tidak semudah itu gadis itu menerimanya. Terlalu banyak kesakitan yang pernah dialami gadis itu.
Dia sudah banyak merasakan selama ini. Baik itu dalam bentuk fisik maupun hati. Semua dirasakannya dan itu semua karena pria yang ada dihadapannya ini. Laily sudah mendengar semua cerita tentang keluarganya dulu. Tidak mudah bagi gadis itu untuk memaafkan sang ayah begitu saja.
"Tidak, aku tidak punya Papa," gumam Laily dengan mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Sayang, ini Papa! Jangan seperti itu."
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak punya Papa!" teriak Laily kemudian berlari ke lantai dua menuju kamarnya.
Khairi dan Nur yang berada di dapur pun terkejut mendengar teriakan Laily. Keduanya keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal gadis itu baru saja keluar, tapi kenapa langsung teriak-teriak? Pikir mereka.
"Ada apa, Sayang? Kenapa Afrin teriak-teriak?" tanya Khairi pada istrinya.
"Ada Papa sama Mama, Mas," jawab Afrin pelan.
Sementara Bu Nur sempat menghentikan langkahnya mendengar jawaban dari Afrin. Namun, dia mencoba terlihat biasa-biasa saja. Wanita itu melangkahkan kakinya kembali dan menyapa Hamdan yang datang bersama istrinya.
"Ada tamu? Maaf saya baru tahu," ucap Nur sambil berjabat tangan dengan Hamdan dan Merry. "Silakan duduk. Tadi ada apa? Kenapa Laily teriak-teriak?"
Hamdan tidak enak, bertemu dengan Nur dalam keadaan seperti ini, ditolak putri kandungnya. Sementara Merry hanya menatap wanita dari masa lalu suaminya sambil tersenyum. Wanita itu mengakui jika Nur memang cantik meski hanya tampil sederhana tanpa polesan make up, apalagi skin care.
Khairi dan Afrin saling pandang. Keduanya tidak tahu harus melakukan apa.
"Kenapa diam? Tadi Laily kenapa teriak-teriak? Afrin, ada apa?" tanya Nur.
"Laily tidak mau bertemu Papa," jawab Afrin dengan pelan. Dia merasa tidak enak dengan mertuanya.
Nur menganggukkan kepalanya. Dia mengerti perasaan putrinya. Kalau bisa, wanita itu juga ingin mengusir Hamdan dari sini. Akan tetapi, itu tidak ada gunanya. Menyimpan dendam hanya akan semakin menyakiti hati.
"Sebentar, biar saya bicara dengannya."
Nur berjalan menuju kamar Laily yang ada di lantai atas. Semua orang hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka berharap wanita itu bisa membujuk putrinya.
"Laily, ini Ibu, bisa ibu bicara?" tanya Nur setelah mengetuk pintu.
"Nggak mau. Kalau Ibu cuma bilang agar aku memaafkan pria itu, tidak perlu! Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku tidak punya Papa, dari dulu dan sampai kapan pun!" teriak Laily dari dalam kamar.
.
__ADS_1
.
.