
"Kenapa kamu lihatin saya seperti itu?" tanya Yasna pura-pura tidak mengerti.
Wanita itu kemudian mengambil minuman yang ada di meja dan meminumnya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara semua orang masih dibuat kebingungan, kecuali Emran. Dia sudah mengerti apa maksud istrinya.
Semua penghuni rumah Emran menghela napas panjang. Mereka mulai mengerti maksud dari yang dilakukan oleh Nyonya rumah ini. Hanya Emran dan Ivan yang dilanda kebingungan.
"Nyonya lagi ngerjain saya?" tanya Ivan. Namun, Yasna tidak menjawabnya. Dia masih asyik dengan minumannya.
"Sebenarnya ini ada apa, sih, Bunda?" tanya Khairi, sebagai menantu, tentu saja dia tidak mengerti maksud dari Yasna. Dia belum mengenal betul sifat mertuanya.
"Tidak apa-apa, sudah waktunya makan malam. Ayo, kita makan malam dulu!" ajak Yasna pada semua orang.
"Nyonya, yang tadi itu tidak benar, kan? Anda tidak berniat untuk menikahkan Rani dengan pria lain, kan?" tanya Ivan ingin meyakinkan dirinya. Meski dia sudah tahu tujuan Yasna tadi, tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebelum wanita itu memberi penjelasan dengan yakin.
"Pikirkan saja sendiri! Kalau kamu masih bersikap dingin pada Rani. Tunggu saja pembatalan pernikahan itu."
"Tidak, Nyonya, saya akan mencoba untuk merubah sikap saya," sahut Ivan.
"Jadi, tadi itu Bunda hanya ngerjain Ivan?" tanya Khairi yang mulai mengerti semuanya.
"Dia kalau enggak di kasih pelajaran masih saja bersikap seperti itu. Kasihan Rani, dong! Punya suami es balok," jawab Yasna berlalu bersama suaminya menuju ruang makan.
Afrin menahan tawanya, benar apa yang dikatakan Yasna. Ivan memang terlalu kaku untuk ukuran seorang calon suami kepada calon istrinya. Mungkin dengan begitu dia bisa merubah sikapnya.
Sementara Khairi yang baru mengerti hanya bisa menghela napas panjang. Ternyata mertuanya itu suka jahil juga dan jahilnya luar biasa ekstrem. Dia saja sampai terpengaruh.
"Ayo, Mas! Kita ke ruang makan," ajak Afrin pada suaminya kemudian menegur Rani. "Ajak calon suaminya, jangan diam saja."
"Jadi benar, Non. Tadi Bu Yasna cuma ngerjain Mas Ivan?" tanya Rani yang juga masih belum mengerti dengan keadaan.
"Bunda tadi cuma mau Kak Ivan peka sedikit saja," jawab Afrin dengan menahan tawa.
Semua orang berjalan menuju ruang makan. Di ruang tamu hanya tinggal Rani dan Ivan. Mereka saling lirik, tidak berani menatap wajah masing-masing.
"Mari, Mas Ivan! Kita makan malam dulu," ajak Rani kemudian berbalik, baru satu langkah Ivan memanggilnya.
"Ran, jika Nyonya Yasna benar-benar ingin membatalkan pernikahan kita, kamu jangan mau, ya!" ucap Ivan membuat Rani mengulum senyum.
__ADS_1
Dia tidak menyangka jika pria itu akan mengatakan hal seperti itu. Berarti Ivan mencintainya. Hati Rani begitu berbunga-bunga.
"Tergantung sikap, Mas Ivan, padaku," sahut Rani yang kemudian berlalu meninggalkan Ivan sendiri.
"Sepertinya Rani sudah terkena virus keluarga Pak Emran. Aku harus mulai hati-hati dengannya. Kalau tidak, aku akan bucin seperti Tuan Khairi, yang mampu melakukan apapun untuk istrinya." gumam Ivan.
Pria itu pun mengikuti Rani menuju ruang makan. Semua orang sepertinya tidak mempedulikan bagaimana perasaan Ivan saat ini, yang tadinya dibikin syok kini ditinggal begitu saja. Dia pun menghela napas kasar dan mengambil makanan yang ada di depannya.
"Kamu harus terbiasa dengan sikap mereka. Lama-lama kamu akan jatuh cinta pada keluarga ini," bisik Khairi yang duduk disampingnya.
"Sepertinya itu tidak mungkin, saya tidak mungkin mencintai keluarga ini. Semuanya sangat aneh," balas Ivan dengan berbisik juga.
"Sekarang kamu bilang aneh, tapi nanti kamu akan bilang jika keluarga ini luar biasa," bisik Khairi lagi yang tidak ditanggapi oleh sekretarisnya.
"Afrin sama Khairi mau nginep di sini?" tanya Yasna.
"Tidak, Bun. Besok aku ada kelas pagi sekali. Kalau dari sini males, enakan dari sana lebih cepat," jawab Afrin sambil nyengir.
Mereka semua kembali menikmati makan malam. Yasna merasa senang bisa berkumpul dengan semua anak-anaknya seperti ini. Meski harus membuat seseorang stres terlebih dahulu.
"Kamu ngetawain apa, sih, Mas?" tanya Afrin saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Tidak ada, aku hanya ingat kejadian tadi saja. Aku tidak menyangka Bunda bisa merencanakan hal seperti itu," jawab Khairi yang masih tertawa mengingat kejadian tadi.
"Sebenarnya aku tadi sudah menyangka hal itu. Sempat takut juga, bagaimana jika Kak Ivan mengiyakan pembatalan pernikahan itu, kan, kasihan Mbak Rani. Sudah pasti Bik Rahmi akan membawanya ke kampung. Apalagi ada kakaknya itu yang sok menjadi tuan rumah."
"Kamu nggak boleh gitu, bagaimanapun juga dia itu tetap kakaknya Mbak Rani."
"Iya, tetap saja aku nggak suka. Dia itu sok berkuasa menganggap dirinya paling hebat."
"Memang kamu pernah bertemu dia, Sayang?"
"Pernah, waktu dulu mau jemput Bik Rahmi pulang, kan, dia datang sama suaminya."
"Kamu kan hanya bertemu sekilas, kamu tidak tahu bagaimana kehidupannya sehari-hari."
"Meskipun cuma sekilas, tapi itu sudah sangat jelas, Mas."
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah membahas orang lain, tidak baik," ucap Khairi yang diangguki oleh Afrin.
Sebelumnya Khairi mendengar tentang kakaknya Rani dari Ivan sekarang Afrin. Apa sebegitu menyebalkan, kah, wanita itu?
"Tapi, Bunda kok bisa, ya, kepikiran sampai sana? Aku tadi juga sempet syok. Itu kejadiannya sama seperti saat kamu membatalkan pernikahan kita. Waktu kemarin, kamu yang membatalkan. Sedangkan sekarang Bunda sendiri yang membatalkan. Bukankah ini lebih parah dari kejadian kita kemarin? Kemungkinannya sudah pasti sangat kecil untuk mereka bisa bersama."
"Kenapa begitu, Mas?" tanya Afrin dengan menyernyitkan keningnya.
"Tentu saja, Mbak Rani, kan, selalu mengikuti perintah Bunda."
"Iya, tapi Bunda juga nggak akan setega itu. Sama Mbak Rani."
"Itu makanya, Sayang, aku tadi sempat syok, takutnya apa yang dibilang bunda akan jadi kenyataan. Apalagi papa dari tadi juga diam saja, tidak melakukan apa pun."
"Karena memang papa, kan, sudah sangat tahu istrinya. Dia pasti tahu jika istrinya memiliki tujuan mengatakan hal itu."
Khairi mengangguk, seorang suami dan istri memang harus saling mengerti dan pengertian satu sama lain. Dia bisa mengambil contoh dari mertuanya. Mereka memang panutan untuk semua pasangan suami istri.
"Papa selalu seperti itu sayang?" tanya Khairi.
"Seperti itu bagaimana?"
"Selalu menuruti semua keinginan Bunda?"
Sebagai pria, kadang dia merasa iri pada mertuanya yang selalu mampu memanjakan istri dan anaknya. Apa pun permintaan mereka Emran selalu dapat memenuhinya. Sedangkan dia yang ingin membuat Afrin bahagia saja, perlu kerja keras.
"Tidak juga adakalanya papa juga membantah apa yang dikatakan bunda, saat dia punya pandangan sendiri. Papa sama bunda juga pernah berdebat."
"Jika sudah seperti itu, apa mereka tetap mempertahankan ego masing-masing?"
"Sejauh ini, sih, belum pernah. Kalau papa nggak mau ngalah, pasti bunda yang lebih dulu mengalah, tapi bukan berarti bunda mau ngikutin pemikiran papa. Bunda mengalah agar tidak terjadi perdebatan dan saat ada waktu untuk membicarakannya dengan baik-baik. mereka akan saling bicara," ujar Afrin yang semakin membuat Khairi kagum pada mertuanya.
.
.
.
__ADS_1