Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
259. S2 - Membeli perhiasan


__ADS_3

Afrin berjalan keluar dengan membawa segelas minuman untuk Mama Merry. Namun, baru beberapa langkah ternyata dia melihat suami dan mertuanya memasuki dapur.


"Mama! Aku baru mau bawa minum ke luar. Ya sudah, Mama duduk di sini saja," ucap Afrin sambil meletakkan minuman di atas meja makan.


"Kamu masak apa, Sayang?" tanya Khairi.


"Ayam balado, Mas. Kebetulan masak banyak, nanti bisa makan sama-sama, ya, Ma!"


"Kamu bisa masak?" tanya Mama Merry dengan memicingkan matanya.


"Iya, bisa," jawab Afrin dengan aneh.


Kenapa mertuanya bertanya seperti itu? Bukankah wajar seorang wanita bisa memasak? Apa karena dia yang masih muda jadi, Mama Merry meragukan hasil masakannya? Bahkan di luar sana ada anak yang masih SD, tapi sudah sangat pandai mengolah makanan.


"Tehku mana, Sayang?" tanya Khairi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bentar, ini." Afrin memberikan segelas teh hangat pada suaminya.


"Terima kasih."


"Duduk dulu, biar aku siapin sarapannya." Afrin tersenyum dan berlalu meninggalkan mertua dan suaminya.


Khairi menyusul istrinya dan membantu untuk menyiapkan sarapan. Pria itu memang selalu membantu pekerjaan istrinya, jika dia tidak ada pekerjaan karena Afrin menolak saat suaminya menawari seorang asisten rumah tangga. Semua makanan sudah matang. Hanya tinggal menghidangkan saja.


"Duduk di sana saja, Mas. Biar aku yang siapin sendiri."


"Tidak apa-apa, kita kerjakan sama-sama," ucap Khairi membuat Afrin tersenyum.


Keduanya pun menyiapkan sarapan dan memakan makanan bersama-sama. Merry dibuat kagum dengan hasil masakan menantunya. Dia tidak menyangka kalau Afrin bisa masak seenak ini.


"Masakan kamu enak, kamu belajar di mana?" tanya Merry.


"Sama Bunda, Ma. Aku sering diajak Bunda belajar masak makanan atau sekadar buat kue. Kalau tidak mau, pasti bunda akan marah sepanjang hari," ucap Afrin dengan menahan tawa.


"Bunda kamu di rumah selalu masak sendiri? Apa tidak ada asisten rumah tangga?"


"Ada, cuma Bunda memang selalu suka masak sendiri. Hanya terkadang saja kalau Bunda lagi ada kerjaan atau ada sesuatu kegiatan. Kalau seperti itu, Mbak Rani sendiri yang masak, tapi kalau bunda di rumah, ya, bunda yang masak. Mbak Rani cuma bantu saja."


Merry menganggukkan kepala. Dalam hati dia terkesan dengan besannya itu. Wanita itu tidak menyangka istri dari pengusaha kaya itu mau sibuk di dapur. Merry saja sangat malas untuk menyentuh peralatan dapur. Hanya terkadang saja, saat dirinya ingin masak sesuatu, baru dia akan turun ke dapur.

__ADS_1


Wanita itu bersyukur karena sang suami tidak pernah protes. Pantas saja Khairi sangat betah di rumah berdua dengan istrinya. Afrin begitu sigap melayani suaminya.


Setelah sarapan, Mama Merry berpamitan. Dia pulang karena Papa Hamdan mencarinya. Tadi saat wanita itu pergi suaminya itu sedang tidur. Merry tadi pamit untuk belanja.


"Mama pulang dulu, ya, kalian jaga diri baik-baik," ucap Merry.


"Iya, ma. Mama juga hati-hati di jalan," sahut Afrin.


"Iya, Mama pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Afrin kemudian menutup pintunya, setelah Mama Merry pergi. Tadi wanita itu sempat khawatir jika sang mertua memojokkannya dengan berbagai alasan. Salah satunya, tidak becus melayani suaminya, tetapi kini dia bisa bernapas lega karena semua itu kekhawatirannya saja.


"Mas, ayo, kita pergi cari kado buat Kak Ivan dan Mbak Rani! Kita belum beli apa-apa buat mereka," ajak Afrin begitu melihat suaminya yang masih duduk di meja makan.


"Tapi aku sekarang lagi malas, Sayang."


"Ya sudah, kalau begitu, aku pergi sendiri saja."


"Jangan, Sayang, masa kamu sendiri! Nanti kalau ada yang ngambil kamu bagaimana?"


"Ya, karena kamu, kan, memang sangat cantik, semua pria pasti ingin memiliki kamu."


"Gombal! Aku mau mandi habis ini beli kado buat Mbak Rani," ucap Afrin yang beranjak dari duduknya.


"Tadi pagi bukannya kamu sudah mandi, Sayang?" tanya Khairi mengikuti langkah istrinya.


"Iya, tapi habis masak juga keringatan lagi, Mas."


"Mau mandi bareng?" tawar Khairi dengan menaik turunkan alisnya.


"Nggak mau, Mas, mandi di kamar sebelah saja."


"Sayang, kita selama menikah belum pernah mandi bersama, lho!"


"Memangnya kenapa? Kan nggak harus mandi bersama juga, yang ada nggak jadi mandi."


Afrin berlalu dengan cepat memasuki kamar mandi dan menguncinya. Dia tidak ingin suaminya ikut masuk. Wanita itu berpikir, apa semua pria seperti suaminya. Mau tidak mau akhirnya Khairi mandi di kamar sebelah.Setelah selesai mereka bersiap dan pergi menuju mall.

__ADS_1


"Mas, kita beli kado buat Kak Ivan dan Mbak Rani apa?" tanya Afrin saat mereka masih dalam perjalanan.


"Aku nggak tahu, Sayang. Terserah kamu saja mau beli apa, aku juga bingung mau ngasih apa."


Afrin berpikir, kira-kira apa yang akan diberikan pada Rani? Hingga dia mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau satu set perhiasan saja, Mas, tapi itu artinya buat Mbak Rani doang, dong?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Itu saja, nanti buat Ivan kita beli jam tangan dan jangan lupa kita harus memberikan mereka lingeri."


"Otak laki-laki memang tidak jauh dari sana," cibir Afrin membuat Khairi tertawa.


Benar apa yang dikatakan istrinya. Kenapa setelah menikah dia selalu berpikir ke arah sana, tetapi tidak masalah bukan? Pria itu juga tidak menginginkan wanita manapun, hanya istrinya yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Khairi tidak malu jika dikatakan takut istri karena baginya Afrin adalah pemilik hati, pikiran, hidup, dan dunianya.


Tidak lama setelah itu, mereka sampai di sebuah mall terbesar di kota ini. Keduanya mencari toko perhiasan yang sudah biasa menjadi langganan keluarga Emran. Afrin juga cukup mengenal pemiliknya.


"Kita ke toko itu, ya, Mas? Nggak papa, kan?" tunjuk Afrin pada sebuah toko perhiasan.


"Terserah kamu saja, Sayang. Berapa pun harganya, pasti aku bayar, kok! Kalau kamu sekalian mau beli juga nggak papa."


"Nggak, ah, buat apa juga banyak-banyak perhiasan. Di rumah aja nggak pernah kepakai."


"Ya, barangkali mau mengoleksi."


"Tidak, Mas. Aku tidak suka mengoleksi, apalagi mengoleksi cinta."


Afrin dan Khairi sama-sama tergalak dengan candaan wanita itu. "Kamu sekarang sudah mulai suka merayu, ya, Sayang," ucap Khairi yang membuat Afrin semakin tertawa.


"Sekali-kali boleh, lah, Mas. Bosan juga terlalu serius." Khairi mengangguk membenarkan perkataan istrinya. "Ya sudah, ayo, kita ke sana!" ajak Afrin dengan bergelayut manja di lengan suaminya.


Keduanya berjalan menuju toko yang ditunjuk Afrin tadi. Wanita itu memilih perhiasan yang sangat bagus. Sementara Khairi hanya memperhatikan saja. Tanpa sengaja pandangan pria itu tertuju pada sebuah kalung dengan liontin hati, ada beberapa mutiara menghiasinya.


Khairi berpikir jika kalung itu pasti akan sangat cantik, saat melingkar di leher istrinya. Dia pun meminta seorang pegawai tanpa sepengetahuan istrinya.


"Mbak, tolong bungkuskan kalung ini, tapi bungkusnya yang kecil saja, biar bisa saya masukkan ke dalam kantong. Jangan sampai istri saya tahu."


Pegawai itu hanya mengangguk. Dia berpikir jika pembelinya ini ingin membelikan kalung untuk selingkuhannya. Itulah kenapa pembelinya tidak ingin istrinya tahu, tapi wanita itu hanya seorang pegawai yang tidak berani mengatakan apa-apa. Apalagi menegurnya, bisa-bisa dia kehilangan pekerjaan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2