Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
170. S2 - Berita bahagia


__ADS_3

Yasna sedang menyiapkan makan malam dibantu oleh Nayla dan Rani. Wanita itu sebenarnya sudah tidak sabar, dengan apa yang ingin disampaikan oleh anak dan menantunya, tetapi dia mencoba untuk menahannya.


Akan ada waktunya saat dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Semoga apa pun yang akan disampaikan oleh mereka, bukan sesuatu yang buruk. Yasna berharap hanya ada kebaikan di keluarganya.


Setelah semua siap tersaji. Yasna memanggil suami dan anak-anaknya yang berada di ruang keluarga. Mereka tengah membicarakan sesuatu tentang almarhumah Mama Diana. Emran mengingatkan anak-anaknya untuk berkunjung ke makamnya.


"Papa, Aydin, Afrin. Ayo, kita makan malam dulu! Nanti dilanjut lagi ngobrolnya," panggil Yasna membuat mereka segera beranjak menuju ruang makan. Di sana sudah tersaji berbagai hidangan makan malam.


"Wah ... enak nih," ucap Aydin bersiap mengambil sendok.


"Tunggu sebentar!" sela Yasna saat semua orang akan memulai makan malamnya.


"Ada apa, Bunda?" tanya Afrin.


"Bunda nggak akan bolehin kalian makan sebelum kakak kamu ini, menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi."


"Terjadi apa?" tanya Emran.


Dia merasa bingung dengan kata-kata istrinya. Sebelumnya tidak ada yang mengatakan sesuatu padanya.


"Tadi, mereka bilang main ke sini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan, Pa. Bunda sudah nggak sabar mendengar apa yang ingin mereka katakan. Karena itu, Bunda enggak bolehin kalian makan dulu sebelum mereka mengatakannya." Yasna menjelaskan pada suami sambil melihat ponselnya.


"Ada apa, sih, Kak?" tanya Afrin yang juga ikut penasaran.


"Kamu atau aku, Sayang, yang bicara?" tanya Aydin pada istrinya.


"Kamu saja, Mas," jawab Nayla.


"Baiklah, sebenarnya begini ... aduh ini bagaimana ngomongnya?"


"Bagaimana apanya? Cepat ngomong saja," sela Yasna yang sudah tidak sabar.


"Sebenarnya Aydin mau ngucapin selamat buat Papa dan Bunda."


"Selamat? Selamat buay apa?" tanya Yasna yang merasa heran.


"Selamat karena Papa dan Bunda sebentar lagi akan punya cucu," jawab Aydin dengan tersenyum.


Emran dan Yasna sama-sama terdiam, mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Aydin. Hingga beberapa detik putranya kembali mengatakan sesuatu karena kesal.


"Kok, kalian diam saja?"

__ADS_1


"Maksudnya Kak Nayla hamil, begitu?" tanya Afrin.


"Iya, tapi kenapa semua diam saja?" tanya Aydin dengan kesal.


"Jadi, maksud kamu, kami akan punya cucu itu, Nayla hamil?" tanya Yasna yang baru tersadar dari keterkejutannya.


"Iya, Bunda," sahut Aydin. "Kan, sudah aku katakan tadi, kalau Bunda dan Papa akan punya cucu. Siapa lagi coba yang hamil kalau bukan Nayla. Masa Afrin, yang benar saja."


"Hus, kamu itu kalau ngomong sembarangan. Nggak boleh bicara seperti itu. Ucapan sama saja dengan doa."


"Maaf, Bunda."


Yasna segera mendekati Nayla dan memeluknya. Ini adalah kabar yang paling bahagia yang dia dengar di masa tuanya kini. Di saat seperti ini, justru wanita itu ingin umurnya lebih panjang lagi.


Yasna ingin menghabiskan waktu bersama dengan cucunya. Bermain dan menghabiskan waktu bersama. Dia tidak menyangka akan bisa merasakan kebahagiaan seperti ini.


"Bunda bahagia sekali mendengarnya, Sayang," ucap Yasna disela pelukan mereka.


"Aku juga bahagia mendengarnya, Bunda," sahut Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.


Yasna mengurai pelukan mereka dan segera mengusap perut datar Nayla. Dulu, dia juga pernah merasakan hamil, meski tidak tahu rasanya melahirkan. Wanita itu berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada menantu dan cucunya.


"Baik-baik, ya, cucu Oma. Jangan nakal, jangan buat susah mama kamu. Jadi anak yang baik. Jangan seperti papa kamu yang suka iseng sama orang."


"Mudah-mudahan saja, dia mengikuti pertumbuhan Nayla, bukan kamu," cibir Yasna membuat Aydin mendengus.


"Ya sudah, ayo, kita lanjutkan makannya! Kasihan cucu kita, pasti kelaparan karena terlalu lama mengobrol," sela Emran.


Pria itu juga sangat bahagia mendengar berita kehamilan menantunya. Rasanya lebih membahagiakan berita ini daripada dulu saat Diana hamil. Entah kenapa ada rasa berbeda. Mungkin dia rindu dengan suara anak kecil di rumah ini.


"Iya, ayo! Bunda sampai lupa."


Mereka makan dengan sangat lahap setelah mendapat kabar gembira. Senyum tidak pudar dari bibir semua orang.


"Bagaimana kalau kalian tinggal di sini saja, sampai Nayla melahirkan," ucap Yasna.


"Tidak, Bunda. Kami akan tetap tinggal di apartemen. Kami masih bisa menjaga diri."


Ingin sekali Yasna memaksa mereka tinggal di sini, tetapi wanita itu tahu jika anak-anaknya ingin mandiri. Dia masih bisa mengunjungi mereka kapan pun Yasna mau.


"Baiklah, terserah kalian saja. Kamu harus jaga diri baik-baik, ya, Naila. Kalau terjadi sesuatu, kamu harus segera menghubungi Bunda."

__ADS_1


"Iya, Bunda. Aydin juga akan menjaganya," sahut Aydin yang sangat tahu kekhawatirannya.


"Baguslah, kalau seperti itu."


"Nanti kalau anak kalian lahir, aku yang kasih nama, ya, Kak?" sela Afrin.


Gadis itu juga tak kalah antusiasnya. Dia juga sangat menyukai anak kecil. Dari dulu Afrin ingin sekali memiliki adik, tetapi gadis itu tahu jika Yasna tidak bisa memberikannya.


"Nggak boleh, enak saja. Itu kan anakku jadi, aku yang harus kasih nama dia," tolak Aydin.


Dia juga ingin memberi nama untuk anaknya. Tidak ada seorang pun yang boleh melakukannya kecuali dirinya sendiri.


*****


Siang hari Aydin mengantar Nayla memeriksakan kehamilannya untuk pertama kali. Dia juga ingin melihat bagaimana keadaan anak dalam kandungan istrinya. Awalnya Aydin memilih sebuah rumah sakit terbaik di kota ini. Namun, wanita itu menolaknya.


Nayla lebih suka memeriksakan di rumah sakit dekat apartemen mereka. Menurutnya itu lebih mudah saat nanti jika terjadi sesuatu pada kandungannya. Akhirnya Aydin pun menerima alasan sang istri dan mereka menuju rumah sakit tersebut.


Setelah mendaftar, Aydin dan istrinya menunggu di luar pemeriksaan kandungan. Tampak beberapa wanita, juga ditemani oleh sang suami. Ada yang perutnya sudah membesar, ada pula yang belum nampak sama seperti Nayla saat ini.


Melihat seorang wanita yang perutnya sudah sangat besar, membuat Nayla tanpa sadar mengusap perutnya sendiri. Dia tidak sabar akan seperti wanita itu.


Mereka menunggu hampir satu setengah jam dan itu membuat Aydin sangat kesal. Dia tidak suka menunggu. Namun, kali ini dia terpaksa melakukannya demi sang buah hati.


"Bu Nayla," panggil seorang perawat.


"Iya, Sus," sahut Nayla.


Dia memasuki ruangan periksa dengan ditemani oleh Aydin. Sudah ada seorang dokter wanita yang menyambutnya dengan senyum. Berbagai pemeriksaan sudah dijalani oleh Nayla dan semua dalam keadaan baik.


Aydin lega mendengar penjelasan dokter. Begitu pun dengan Nayla. Mereka juga menanyakan beberapa hal tentang larangan wanita hamil, terutama di trimester awal.


Dokter memberikan beberapa vitamin agar kandungannya semakin sehat dan baik-baik saja. Aydin terus tersenyum melihat hasil USG di tangannya. Pria itu mengatakan, ingin menyimpannya sendiri.


Nayla sempat kesal. Dia juga ingin memiliki hasil USG itu, tetapi saat melihat wajah sang suami yang begitu bersinar, wanita itu membiarkannya. Nayla lebih bahagia melihat itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2