Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
298. S2 - Mau ikut ke kota


__ADS_3

Malam hari semua bersiap untuk tidur. Mereka memutuskan untuk tidur di ruang tamu karena memang tidak ada tempat lain. Bu Nur merasa khawatir dengan anak dan menantunya yang sudah pasti tidak nyaman tidur di atas tikar. Akan tetapi, hanya itu yang dia miliki.


"Apa tidak apa-apa kalian tidur di sini? Apa tidak sebaiknya kalian menyewa hotel saja, biar bisa tidur dengan nyaman," ucap Bu Nur saat mereka bersiap untuk tidur.


"Tidak apa-apa, Bu. Kami datang ke sini untuk bertemu ibu. Kalau tidur di hotel, sama saja dengan liburan," sahut Khairi. "Sudah, ayo, kita tidur!"


Tidur hanya dengan alas tikar membuat Khairi dan Afrin tidak bisa tidur. Bantal yang mereka gunakan pun sudah keras. Namun keduanya berpura-pura tidur agar tidak membuat Bu Nur khawatir.


Saat tengah malam, Khairi membuka matanya. Dia duduk sambil menatap ibu dan adiknya yang tertidur pulas. Pria itu beralih menatap sang istri yang menutup mata. Khairi pun merebahkan tubuhnya kembali dan mendekati Afrin.


"Kamu tidak bisa tidur, Sayang?" tanya Khairi dengan berbisik.


Tanpa membuka matanya, wanita itu mengangguk. Hal itu justru membuat Khairi mengulum senyum. Istrinya memang selalu seperti itu, tidak ingin menyakiti hati dan perasaan orang lain. Wanita itu tampak menggemaskan jika seperti ini. Pria itu meraih kepala Afrin dan meletakkan di lengannya.


"Mas, punggungku sakit. Aku tidak bisa tidur," rengek Afrin dengan berbisik tepat di dada Khairi.


Pria itu pun mengusap punggung istrinya sambil memberi sedikit pijatan. Dia ingin membawa tubuh Afrin ke atas tubuhnya, tetapi dia tidak mungkin melakukannya. Di sini ada ibu dan adiknya, bisa-bisa nanti dikira melakukan hal yang tidak-tidak.


Tidak berapa lama Afrin pun tertidur dalam pelukan sang suami. Sementara Khairi, tentu saja dia tidak tidur sama sekali. Padahal pria itu kemarin juga tidak tidur. Terbiasa dengan kasur dan bantal empuk, kini harus tidur di atas tikar, siapa pun pasti akan merasa sulit.


Sebelum subuh, Bu Nur terbangun. Khairi yang melihat gerakan tubuh ibunya pun segera memejamkan matanya. Dia tidak ingin wanita paruh baya itu tahu jika dirinya tidak tidur sama sekali. Jika sampai Bu Nur tahu, pasti dia akan merasa bersalah.


Wanita itu melihat ke arah anak dan menantunya. Dia tersenyum melihat mereka yang sedang berpelukan, semoga selamanya seperti ini. Bu Nur bangun dari tidurnya dan berjalan ke dalam rumah. Khairi membuka matanya saat ibunya sudah tidak terlihat.


'Apa aku sanggup meninggalkan ibu dalam keadaan yang seperti ini? Membayangkannya saja sudah membuatku hatiku sakit,' batin Khairi.


*****


"Pa, apa Khairi pulang hari ini?" tanya Merry pada suaminya.


"Iya, tapi Papa tidak tahu dia pulang siang atau malam."

__ADS_1


"Apa mamanya juga ikut?" tanya Merry dengan pelan.


"Ma, Papa sudah bilang, kan, jika dia hanya masa laluku. Jujur Papa ingin dia ikut Khairi ke sini. Bukan apa-apa, Papa hanya ingin meminta maaf sudah menyakiti hati dan meragukannya. Papa juga ingin bertemu dengan Laily. Entah dia mau menerima Papa atau tidak. Khairi saja tidak mau dipeluk," ujar Hamdan dengan nada sedih.


Merry jadi merasa bersalah. Bukan maksudnya melarang sang suami bertemu dengan putrinya. Hanya saja dia takut rumah tangganya akan terguncang dengan kehadiran masa lalu itu. Apalagi keduanya terpisah karena kesalahpahaman.


Ketakutan wanita itu bukan tanpa alasan. Merry juga sudah mendengar jika Nur belum menikah. Dia berpikir, apakah mungkin itu karena masih mengharapkan Hamdan? Semoga saja itu tidak menjadi kenyataan karena jika benar, itu pasti akan sangat menyakitkan untuknya.


"Apa Papa sudah melihat wajah Laily?" tanya Merry.


"Sudah, kemarin Khairi mengirim gambar saat mereka pergi ke mall. Dia sangat cantik dan mirip sekali denganku," jawab Hamdan dengan membayangkan wajah Laily sambil tersenyum. "Mama jangan berpikir yang tidak-tidak. Sudah aku katakan jika Nur hanya masa lalu. Aku hanya ingin anakku."


Hamdan sangat mengenal istrinya. Pasti wanita itu merasa tidak percaya diri dan berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya dan Nur. Padahal pria itu sudah menjelaskan jika tidak akan kembali ke masa lalu. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang akan menghancurkan rumah tangganya dan Hamdan berharap Merry percaya padanya.


"Maafkan aku. Akan kucoba untuk menghilangkan pemikiran buruk ini. Semoga Papa tidak mengkhianatiku dan bisa memegang perkataan Papa."


"Tentu, kamu harus percaya padaku."


*****


Khairi dan Afrin terkejut saat ibu dan adiknya membawa tas. Mereka juga sudah rapi.


"Ibu mau ke mana?" tanya Afrin.


"Tentu saja ikut kalian ke kota," jawab Bu Nur dengan tersenyum.


"Ibu, mau ikut kami? Ibu, tidak bohong, kan?" tanya Khairi yang ingin memastikannya.


Kemarin ibunya mengatakan tidak mau ikut, begitu juga dengan Laily. Akan tetapi, kenapa tiba-tiba mereka mau ikut? Apa ada sesuatu yang membuat keduanya berubah pikiran? Banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya.


"Memang Ibu terlihat sedang berbohong? Ini semuanya sudah siap. Ibu tidak ingin jauh dari anak-anak Ibu. Baru saja kita berkumpul, masa harus terpisah lagi. Ibu juga ingin melihat Laily sukses," jawab Nur dengan tersenyum.

__ADS_1


Khairi segera memeluk ibunya. Dia sangat senang mendengar apa yang dikatakan Nur. Pria itu juga tidak mau jauh dari ibu dan adiknya. Khairi ingin membahagiakan mereka yang sudah lama menderita karena kesalahan papanya. Dia yang akan menebus semuanya karena tidak mungkin Hamdan melakukan hal itu.


Papanya sudah berumah tangga. Ada hati yang harus dijaga. Khairi juga tidak ingin menyakiti hati Merry. Wanita itu sudah sangat baik padanya, pria itu tidak mungkin menyakitinya meski dia bukan ibu kandungnya.


"Kalau begitu, aku pesan taksi online dulu," ucap Khairi setelah mengurai pelukan mereka.


Pria itu segera menjauh dari ketiga wanita yang dia sayangi. Afrin pun segera memeluk mertuanya. Dia senang Nur dan Laily mau ikut tinggal di kota jadi, wanita itu tidak perlu melihat wajah sedih suaminya.


"Terima kasih, Ibu, sudah mau tinggal di kota. Aku sangat senang sekali," ucap Afrin.


"Justru Ibu yang harus berterima kasih, kalian sangat pada Ibu dan Laily."


"Kalian adalah keluargaku. Tentu saja aku akan berbuat baik," ucap Afrin. "Mengenai rumah ini, apa tidak apa kita tinggal begitu saja?"


"Tadi habis subuh Laily sudah ke rumah Bu Meli dan menyerahkan kembali rumah ini. Kamu tidak perlu memikirkannya," jawab Bu Nur.


"Sebaiknya kita ke rumah Mbak Wulan. Kita tunggu di sana," ucap Khairi setelah menutup ponselnya.


"Iya, ayo, Bu, Laily!" ajak Afrin.


Mereka pun meninggalkan rumah yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat tinggal Nur dan Laily. Sepanjang jalan kedua wanita itu berpamitan dengan para tetangga yang ada di luar rumah, maupun yang sedang berbelanja.


"Mas, ke kota, kan, jauh. Apa taksi onlinenya mau mengantar kita?" tanya Afrin dengan berbisik.


"Awalnya tidak mau, Sayang, tapi setelah aku katakan padanya akan membayar sepuluh kali lipat, dia langsung menerimanya," jawab Khairi dengan berbisik pula.


Afrin menganggukkan kepalanya. Pantas saja suaminya cepat sekali mendapat taksi online. Mengingat perjalanan mereka yang jauh.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2