Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
93. S2 - Afrin bersedih


__ADS_3

Sepulang sekolah Afrin hanya diam di dalam kamar, membuat Yasna bingung. Apa terjadi sesuatu dengan putrinya, tapi kenapa Afrin diam saja saat pulang tadi?


"Afrin belum keluar, Mbak?" tanya Yasna.


"Tadi keluar cuma makan siang terus ke kamar lagi. Tadi juga makan sedikit sekali, Bu," jawab Rani.


Yasna tidak ingin mengganggu ketenangan Afrin sementara waktu. Biarlah dia berpikir sejenak. Jika hingga malam Afrin masih mengurung diri, dia akan mencoba menanyakannya.


*****


Sementara di sebuah perusahaan, Aydin sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berniat pulang, pria itu baru ingat jika hari ini tidak membawa motor. Dia memutuskan untuk memesan ojek online, sayang ponselnya kehabisan baterai.


Aydin berpikir mungkin di luar nanti ada taksi atau kendaraan umum lainnya. Dia pun berjalan ke luar dan dapat dia lihat jika Airin sedang menunggu angkutan umum.


"Hai, Airin," sapa Aydin setelah jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Hai, Mas. Kenapa masih di sini? Kemana motornya?" Airin bertanya sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


"Tadi pagi motorku mogok jadi, tadi aku naik ojek." Aydin merutuki dirinya dalam hati karena mengatakan jika Papanya adalah tukang ojek.


'Maafin aku, Pa. Aku terpaksa bohong.'


"Mas, mau naik apa pulangnya?" tanya Airin dengan menatap Aydin.


"Apa adanya sajalah."


"Rumah, Mas, daerah mana?"


Aydin bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dia menjawab alamat rumahnya, bisa-bisa Airin curiga.


"Oh, itu daerah ... daerah ... aduh kok tiba-tiba aku kebelet. Aku mau ke toilet dulu, kamu duluan saja." Aydin segera berlari masuk ke perusahaan. Sampai di dalam dia bersembunyi agar tidak terlihat oleh Airin. Pria itu merasa lega karena bisa lolos dari pertanyaan Airin.


"Kamu kenapa sembunyi di situ?" tanya Emran yang baru saja keluar dan membuat Aydin terkejut.


"Papa, belum pulang?" tanya Aydin berusaha berkilah.


"Belum, Papa sengaja nungguin kamu. Mana mungkin Papa tega ninggalin kamu di sini."


"Tapi, di depan ada teman Aydin."

__ADS_1


"Kamu pulang sama papa atau nggak? Ribet banget, sih!" Emran kesal, dia sudah capek, tapu putranya malah mengajak berdebat.


"Iya, Pa. Ya ampun, sensi banget sih kayak anak perawan saja," cibir Aydin mengikuti Emran.


Emran mendengus mendengar cibiran putranya. Dia berjalan lebih dulu diikuti Aydin di belakangnya karena ingin menyembunyikan tubuhnya, dari pandangan Airin. Untung saja gadis itu tidak melihat saat Aydin keluar dari perusahaan hingga masuk ke dalam mobil.


Mobil Emran melaju meninggalkan perusahaan, menuju rumah yang selalu mereka rindukan. Dalam perjalanan Emran berbicara dengan putranya mengenai pekerjaan.


"Kamu kenapa sih? Seperti melihat setan saja, dari tadi sembunyi-sembunyi," tanya Emran


"Siapa yang takut sama setan? Tadi ada teman Aydin, pa," kilah Aydin. Hening sejenak dan Emran bertanya lagi


"Bagaimana Pekerjaan kamu?"


Aydin akhirnya menceritakan semua pekerjaannya kepada Emran. Pria itu sangat senang dengan cara kerja putranya yang cukup baik untuk seseorang yang baru mengenal bisnis.


"Kamu harus lebih banyak belajar lagi karena kamu adalah pengganti papa nanti. Papa tidak mungkin menyerahkan tanggung jawab kepada Afrin. Dia orang wanita, Papa ingin dia menjadi istri dan ibu yang baik. Bukan maksud Papa untuk menghalangi karirnya, tapi menjadi seorang pemimpin akan sangat menguras waktu dan Papa tidak ingin waktunya hanya digunakan untuk bekerja dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri yang jaga seorang ibu," tutur Emran.


Emran tidak akan menghalangi Afrin menggapai cita-citanya, asalkan gadis itu bisa bertanggungjawab.


"Aku mengerti, Pah. Aku akan berusaha lebih baik lagi," ucap Aydin tersenyum. Papanya sudah memberi kepercayaan dan dia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa.


"Mengenai calon istri. Papa tidak akan mencampurinya. Siapa pun yang kamu pilih, asal dia wanita yang baik, Papa pasti akan merestuimu. Begitupun dengan Bunda, kamu pasti sangat tahu bagaimana sifatnya. Asalkan kamu bahagia dia pasti akan bahagia."


"Dia memang wanita luar biasa, Papa sangat beruntung bisa memilikinya."


"Bukan hanya Papa. Aku dan Afrin juga merasa sangat beruntung memilikinya," ucap Aydin yang diangguki Emran.


Setelah itu tidak ada lagi obrolan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga sampailah di halaman rumah. Aydin turun lebih dulu dan memasuki rumah disusul Emran.


"Assalamualaikum," ucap Aydin dan Emran.


"Waalaikumsalam," sahut Yasna. Wanita itu segera keluar menyambut suami dan anaknya.


Ayden lebih dulu mencium punggung tangan Yasna.


"Aku ke dalam dulu, Bunda," pamit Aydin yang diangguki Yasna. Wanita itu mengambil tas yang ada di tangan Emran lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Aydin nggak protes, Mas. Pulang sama kamu?" tanya Yasna disela langkah mereka menuju kamar.

__ADS_1


"Begitulah, kamu seperti tidak tahu dia saja." Yasna tersenyum mendengar gerutuan suaminya. Dia sangat tahu bagaimana usaha putranya itu menutupi identitas dirinya.


"Mas, mandi dulu, biar aku siapin air hangatnya." Yasna memasuki Kamar mandi. Sementara Emran masih duduk di sofa mungkin karena terlalu lelah.


"Mas, jangan tidur, mandi dulu sana! Airnya sudah siap," tegur Yasna saat melihat suaminya memejamkan mata.


"Heem," guman Emran yang segera beranjak menuju kamar mandi.


*****


Saat makan malam. Afrin terlihat lesu, semua orang menyadari hal itu. Namun, tidak ada yang berani bertanya, hingga mereka selesai makan. Afrin berdiri, dia akan kembali ke kamarnya, tapi Emran lebih dulu mencegahnya.


"Afrin, duduk dulu. Ada apa, sayang? Apa terjadi sesuatu sama kamu di sekolah?" tanya Emran dengan hati-hati agar putrinya merasa nyaman.


"Iya, kamu cerita saja. Sejak pulang sekolah tadi, kamu di kamar saja, nggak keluar-keluar," sahut Yasna, dia sangat khawatir tadi, tidak biasanya Afrin seperti itu.


"Nggak ada apa-apa kok, Pa, Bunda. Jangan terlalu khawatir. Aku hanya sedang banyak tugas," jawab Afrin dengan tersenyum, tapi mereka tahu. Senyum gadis itu, tidaklah dari hatinya. Senyum itu terasa hambar dan dipaksakan.


"Benar, tidak terjadi apa-apa?" tanya Yasna menatap Afrin, dia ingin meyakinkan kembali.


"Tidak apa-apa, Bunda," jawab Afrin. "Aku ke kamar dulu, masih banyak yang harus aku kerjakan." Afrin segera berlalu tanpa mendengar sahutan dari yang lainnya.


"Tadi pagi saat Papa nganterin Afrin. Apa terjadi sesuatu?" tanya Yasna yang masih penasaran.


"Tidak ada apa-apa. Papa nurunin dia agak jauh dari sekolah, seperti permintaannya," jawab Emran. "Pulang tadi bagimana?"


"Kata Pak Hari. Sebelum dia datang, Afrin terlihat sedang sedih. Dia terus menundukkan kepalanya."


"Apa mungkin Pak Hari membuka rahasia Afrin?" Emran mencoba menerka penyebab putrinya sedih.


"Tidak, Pa. Bunda sudah bilang sama Pak Hari agar menyamar sebagai pamannya. Pak Hari juga memakai motornya Aydin tadi."


Mereka terdiam memikirkan, apa yang membuat Afrin sedih? Gadis itu juga sepertinya enggan bercerita. Apa masalahnya sangat berat, hingga Dia tidak mengatakannya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2