
"Jadi anak kamu membawa kamera tersembunyi? Lihatlah, Pak. Bukankah itu sudah mengganggu privasi orang lain," adu Mama Dave pada guru BK, yang bernama Pak Nurdin.
"Maaf, Nyonya. Saya melakukanya karena saya ingin keadilan untuk Aydin, dia selalu disalahkan atas semua kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, pihak sekolah juga tidak pernah mencoba mencari tahu, mereka hanya mendengar dari murid lain yang tentu sudah diancam!" bela Yasna.
"Apa maksud, Anda? Anak saya tidak mungkin mengancam, sebaiknya didik anak Anda dengan baik!"
"Sayang, sudah." Emran mencegah Yasna yang ingin menyahut ucapan Mama Dave.
"Maaf, saya terlambat," ucap seseorang yang baru datang.
Semua orang menoleh pada orang itu, dia orang yang sudah dihubungi Yasna dalam perjalanan ke sekolah tadi.
"Roni, akhirnya kamu datang juga, cameranya sudah hancur, bagaimana ini." Yasna menyerahkan bolpoinnya pada Roni.
Roni adalah penjual CCTV di tempat Yasna membeli kamera tersembunyi yang berbentuk bolpoin.
"Tidak apa-apa, ini yang retak cuma bolpoinnya, kameranya baik-baik saja, mudah-mudahan rekamannya tersimpan."
Roni memulai pekerjaannya, ia membuka laptop dan entah apa saja yang ia lakukan, akhirnya rekaman pun bisa diputar, di sana tampak Dave mengambil semua uang beberapa anak, Aydin yang menegurnya malah menjadi korban pemukulan mereka.
Yasna sangat geram melihat tingkah Dave, dia masih anak-anak, tapi kenapa dia bersikap kriminal seperti itu?
"Bapak lihat sendiri, selama ini Anda menghukum anak saya atas kejahatan orang lain. Sekarang hukuman apa yang akan Anda berikan pada pelaku sebenarnya? Dia selama ini sudah membuat masalah dan juga menfitnah anak saya."
"Sudahlah, tidak usah diperpanjang lagi, mereka juga masih anak-anak, lagi pula suamiku juga kepala yayasan di sekolah ini." Mama Dave mencoba membela anaknya.
"Apa benar seperti itu, Pak? Apa di sekolah ini peraturan dan tata tertib, hanya berlaku untuk murid yang tidak memiliki koneksi?" tanya Yasna dengan manahan amarah.
Yasna tidak terima jika peraturannya seperti itu, ia juga bukan berasal dari keluarga kaya, ia tidak memiliki koneksi apapun dari dulu.
"Tentu tidak, Bu. Semua Guru dan murid wajib mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah," jawab Pak Nurdin.
"Anda jangan khawatir, meskipun saya kepala Yayasan, Dave tetap akan di beri hukuman sesuai peraturan yang berlaku," sela papanya Dave.
"Terima kasih, atas kebijaksanaan Anda."
"Kami yang harusnya minta maaf, Dave sudah memukul dan menfitnah anak Anda dan mengenai uang yang Pak Emran kirim, akan saya kirim kembali beserta uang ganti rugi dari kami."
"Tidak perlu, Pak. Kalau Anda ingin mengembalikan uang itu, lebih baik Anda berikan pada siswa yang kurang mampu, yang mendapat bea siswa di sekolah ini," sahut Emran.
"Ayo, Pa! Sebaiknya kita pulang, masalahnya sudah selesai, kan?" ajak Mama Dave.
Yasna menggelengkan kepala melihat tingkah Mama Dave, padahal anaknya sudah terbukti bersalah, tapi dia enggan meminta maaf dan tetap bersikap sombong, pantas saja anaknya seperti itu.
__ADS_1
"Maaf, kami permisi dulu dan mengenai Dave saya serahkan pada Pak Nurdin," pamit Papa Dave.
"Ayo, Sayang! Kita pulang juga," ajak Emran. "Aydin masih ada pelajaran atau sudah selesai?"
"Sudah selesai, Pa," jawab Aydin.
"Ayo, pulang!" ajak Emran. " Maaf, Pak. Kami permisi pulang dulu."
"Iya, Pak. Silakan, saya mohon maaf pada Bapak sekeluarga, karena sudah menghukum Aydin yang tidak bersalah."
"Saya mengerti posisi Bapak, tidak perlu dipikirkan. Kami permisi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
Fazilah sudah memutuskan membawa Hafidz ke rumah Ayah Hilman, ia tidak mungkin membawa Hafidz ke rumahnya, bisa-bisa mereka dinikahkan secara paksa.
"Ayo, Nak Hafidz! Silakan masuk, inilah rumah kami yang sederhana dan apa adanya," ucap Hilman.
"Bapak bisa saja, rumahnya sangat nyaman, saya pasti betah tinggal di sini."
"Kami tidak punya kamar tamu, tidak apa-apa kan, kalau kamu tidur di kamar Gibran, di sana juga ada baju-bajunya, kamu bisa pakai."
Fazilah membantu Alina di dapur menyiapkan makan siang, sementara Hafidz mengobrol dengan Hilman di ruang tamu.
"Ayah sudah tidak bekerja lagi, Bu?" tanya Fazilah.
"Tidak, dia sudah pensiun, Yasna terus meneror Ayahnya agar berhenti kerja, makanya Ayah berhenti."
"Ayah memang sudah waktunya bersantai, Ibu juga. Toko sebaiknya diserahkan pada orang lain yang bisa dipercaya."
"Kalau di rumah saja, badan Ibu malah sakit semua." sahut Alina.
Fazilah tidak lagi bicara, percuma saja melarang Ibu sahabatnya ini, pasti akan ada seribu kata dan seribu cara menolaknya.
*****
Makan malam sudah siap, semua orang sudah berkumpul, tinggal Aydin yang masih di kamar. Yasna memanggil anak itu ke kamarnya, karena yang lain sudah menunggu.
Yasna mengetuk pintu beberapa kali, hingga pintu terbuka.
"Kenapa belum keluar juga? Ayo, semua sudah menunggu!" Yasna berbalik akan kembali, tapi panggilan Aydin membuatnya berhenti.
__ADS_1
"Terima kasih, Bunda."
Tubuh Yasna membeku, ia tidak menyangka akan mendengar Aydin memanggilnya seperti itu, tiba-tiba air matanya menetes. Ia membalikkan tubuhnya untuk bertanya, apakah ia tidak salah dengar.
"Tadi Aydin panggil apa?" tanya Yasna dengan air mata yang menetes.
"Terima kasih, Bunda sudah membantu aku mengungkapkan kebenaran. Bolehkan aku panggil Bunda?"
"Boleh, tentu boleh." Yasna merentangkan tangannya ingin memeluk Aydin, tapi ia turunkan kembali, ia takut Aydin marah.
"Aku boleh peluk Bunda?"
Segera Yasna memeluknya tanpa menjawab, ia sangat terharu, ia tidak menyangka akhirnya bisa juga meluluhkan hati Aydin.
"Tentu boleh, kamu anak Bunda, kapan pun Aydin butuh, Bunda akan selalu ada untuk kamu, mau curhat tentang pacar juga boleh."
"Aydin masih kecil."
Yasna terkekeh mendengarnya, ia senang Aydin tidak sekaku dulu, saat pertama kali mereka bertemu.
"Katanya bukan anak kecil?"
Aydin diam, ia memeluk ibu sambungnya itu dengan erat, pelukan yang sudah sangat ia rindukan sedari dulu, mulai hari ini ia bisa merasakan pelukan ini selamanya, ia juga akan menyayangi Yasna sebagai ibunya.
"Ayo, semua sudah menunggu! Bunda sampai lupa." Yasna mengurai pelukan dan menghapus air matanya dengan cepat
Mereka berjalan beriringan menuju meja makan, semua orang sudah menunggunya di sana. Emran melihat wajah Yasna sembab, ia tahu istrinya itu habis menangis, tapi kenapa wajahnya berseri-seri? Apa yang membuat Yasna menangis? Apa putranya kembali membuat ulah?
"Na, kamu kenapa?" tanya Emran.
"Tidak ada apa-apa, sebaiknya makan dulu." Yasna tersenyum ceria membuat Emran merasa curiga.
Sama halnya dengan Emran, Karina pun bisa melihat wajah Yasna yang sembab, tapi biarlah nanti saja ia tanyakan.
Mereka makan dengan tenang. Bibir Yasna tidak berhenti tersenyum, ia sangat bahagia hari ini dan semoga kebahagiaan ini bisa bertahan selamanya.
.
.
.
.
__ADS_1