
"Hei! Kamu itu cuma cleaning service. Berani-beraninya kamu sama saya. Kamu tidak tahu siapa saya!" teriak Vania, membuat beberapa orang yang berada disekitar menoleh ke arahnya.
Mereka semua tahu siapa Vania dan tidak ada yang berani menyinggungnya, mereka takut kehilangan pekerjaan. Meski Pak Romi bukan pemilik perusahaan ini, tapi pengaruhnya cukup besar dan beliau juga orang yang baik.
"Maaf, Mbak. Saya, kan, tadi bilang saya minta maaf."
"Kamu maaf, tapi setelah itu ngomel-ngomel."
"Saya tidak ngomel, Mbak. Saya hanya mengingatkan saja, supaya lebih berhati-hati." Airin mencoba menjelaskan tujuannya, sebenarnya dalam hati dia takut, hanya saja dia tidak mau disalahkan.
"Alasan saja, kamu itu orang rendahan jadi, jangan nasehati saya!" Vania masih dengan suara lantangnya, berteriak kepada Arini.
Arini hanya diam dengan menundukkan Kepalanya. Dia tahu kalau dirinya bukan siapa-siapa, tapi yang membuat gadis itu lebih takut adalah, bagaimana jika atasannya tahu kalau Arini membuat masalah, pasti dia akan dipecat.
"Sekarang kamu minta maaf sama saya," ucap Vania dengan menaikkan kepalanya seolah dia orang yang paling berkuasa.
"Iya, Mbak. Saya minta maaf."
"Minta maaf Yang benar, kamu harus bersujud di depan saya."
Arini diam terpaku, dia mengepalkan tangannya dengan kuat membuat jari-jarinya memutih. Gadis itu memang orang miskin, tapi dia bukan orang rendahan yang harus bersujud di depan orang lain.
"Maaf, Mbak. Disini bukan cuma saya yang bersalah. Mbak juga salah, tapi kenapa seolah-olah semuanya kesalahan saya." Arini sudah tidak peduli lagi dengan pekerjaannya, dia tidak mau direndahkan seperti ini. Apalagi itu bukan sepenuhnya kesalahan yang dia perbuat.
"Kamu berani, ya! Kamu--."
"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang merasa terusik karena kejadian itu, siapa lagi kalau bukan Emran.
"Maaf, Om. Gadis ini dengan sengaja menabrak saya lalu, saya minta dia untuk meminta maaf."
"Dia tadi sudah meminta maaf, bukan berarti dia harus bersujud di depan kamu, kan?"
Vania gelisah, ternyata Emran melihat kejadian itu. "Bukan begitu, Om. Aku--"
"Sebaiknya jaga sikapmu di perusahaan saya. Ini tempat orang berkerja, bukan tempat orang cari perhatian," ucap Emran. "Dan kamu, selesaikan pekerjaan kamu," ucap Emran pada Arini.
__ADS_1
Arini pun menganggukkan kepalanya. "Baik, Pak."
Arini segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Emran pergi begitu saja, setelah selesai berkata. Vania merasa kesal karena saat dia marah-marah dilihat oleh Emran.
'Selama ini, aku sudah sangat berusaha mencari perhatian pada keluarga mereka dan kini, harus digagalkan oleh seorang cleaning service. Sia-sia saja usahaku semuanya dan ini gara-gara cleaning cervis itu. Aku akan membuat perhitungan dengan dia.'
Vania segera pergi meninggalkan perusahaan. dia ingin bertemu dengan teman-temannya untuk melupakan kekesalannya.
****
Sementara itu di sebuah sekolah SMA. Afrin sedang membaca bukunya di dalam kelas, tiba-tiba semua anak heboh. Mereka berbisik sambil melihat kearah Afrin. Gadis itu tidak mempedulikannya, tapi Nuri yang merasa penasaran pun menghampiri mereka.
"Ada apa, sih?" tanya Nuri.
"Enggak ... enggak ada apa-apa," jawab salah satu dari mereka.
"Kamu jangan bohong, ya! Dari tadi kamu ngelihatin kita terus. Kalau nggak ada apa-apa kenapa mata kalian dari tadi lirik-lirik?" Nuri kesal melihat tingkah mereka.
Nuri terkejut, dia melototkan matanya. Bagaimana bisa mereka berpikir seperti itu, selama ini Afrin dikenal sebagai anak yang baik.
"Tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu! Kamu jangan sembarangan kalau berbicara."
"Kami tidak sembarangan, kok, tapi bicara berdasarkan bukti." Siswi itu pun menyerahkan ponselnya. Terdapat foto Afrin keluar dari sebuah mobil yang sangat mewah, mobil itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang sangat kaya.
"Bisa saja ini keluarganya." Nuri masih mencoba membela sahabatnya itu.
"Kalau keluarga, kenapa Afrin keluarnya sambil tengok kiri tengok kanan dan lihat, sepertinya dia sedang ketakutan, pasti dia takut kalau orang lain melihatnya."
Afrin yang mendengar itu pun merasa sedih. Dia tidak menyangka jika teman-temannya bisa berpikir seperti itu tentang dirinya. Padahal dia sudah cukup baik pada semua orang.
"Sekarang, lebih baik kita tanyakan saja pada Afrin, apa yang sebenarnya terjadi," usul siswa lainnya.
"Iya, benar, pasti dia mau ngaku."
__ADS_1
Vira berjalan ke arah Afrin. Dia ingin tahu, apa benar, temannya itu seperti yang dituduhkan oleh teman sekelasnya.
"Frin, apa yang mereka katakan tidak benar, kan? Kamu bukan seorang sugar baby, kan?" tanya Vira. Dia yang paling kecewa mendengar hal itu, bagaimanapun kedua orang tuanya juga sering bertengkar karena sang papa yang memiliki sugar baby.
"Nggak, aku nggak pernah seperti itu," jawab Afrin dengan sedikit takut. Dia juga bingung bagaimana menjelaskan hal ini pada temannya. Mungkin ini sudah saatnya semua orang tahu siapa Afrin sebenarnya.
"Lalu, siapa pemilik mobil itu? Kamu biasanya diantar kakakmu dengan memakai motor butut dan jelek itu," tanya Vira dengan menggebu tanpa sadar sudah mengejek kakaknya Afrin.
"Kamu jangan menghina kakakku, ya, Vir." Afrin kesal karena sahabat yang selama ini sudah dia anggap seperti saudara, tapi sekarang dia menyinggung perasaannya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya ingin bertanya padamu. Siapa pemilik mobil itu? Kamu jangan sampai membuat aku kecewa, ya, Frin!"
"Kamu bilang jangan sampai membuatmu kecewa. Aku lebih dulu kecewa karena kamu. Ternyata kamu sama saja dengan mereka. Kamu sudah menghina kakakku, memangnya kenapa kalau motor kakakku jelek? Selama kami bahagia kenapa tidak."
Afrin pergi meninggalkan kelas. Dia kecewa pada teman yang selama ini sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Teriakan Nuri yang memanggil namanya, tidak dia hiraukan. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Afrin ... afrin ...," teriak Nuri. "Kamu kenapa, sih, Ra? kenapa kamu seperti itu?" Nuri Frustrasi melihat kedua sahabatnya bertengkar sementara Sisca masih diam.
"Memangnya kenapa? Aku hanya bertanya padanya, tapi dia tidak menjawab dengan jujur. Aku tidak suka dengan baby sugar, mereka sudah membuat rumah tangga orang lain hancur."
"Tapi, bukan berarti Afrin seperti itu. Kita tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya." Sisca juga merasa sangat kesal karena sahabatnya itu dengan teganya, menyakiti perasaan Afrin.
Selama ini Afrin selalu baik. Jujur Sisca juga penasaran, siapa pemilik mobil itu? Kenapa Afrin turun dari mobil itu seperti orang ketakutan? Pasti ada sesuatu yang tidak Afrin katakan, tapi apa, dia juga tidak tahu dan gadis itu akan mencari tahu yang sebenarnya.
"Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Kita juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi," pungkas Nuri.
.
.
.
.
.
__ADS_1