
Roni terpaksa menerima kartu ATM kembali, tetapi dalam hati dia berjanji tidak akan menggunakannya. Pria itu cukup bersyukur karena sang putri mau memaafkannya. Sungguh Roni merasa menjadi ayah yang paling tidak berguna disaat seperti ini.
Seorang pelayan datang, menghidangkan makanan untuk mereka. Keduanya segera menikmati sambil sesekali berbincang.
"Kenapa kamu nggak ajak suamimu masuk?" tanya Roni saat melihat keluar, ada mobil Aydin. Dia yakin ada menantunya di sana.
"Papa tahu ada Mas Aydin?" tanya Nayla.
"Hanya menebak saja. Biasanya kamu tidak memakai mobil itu, hanya suamimu memakainya." Roni menunjuk mobil Aydin dengan dagunya.
"Iya, Mas Aydin memang ikut."
Roni mengerti, pasti menantunya takut jika dia menyakiti Nayla. Mengingat bagaimana dirinya sudah bersikap sangat buruk. Sementara itu, Nayla merasa tidak enak. Dia yakin jika ayahnya tahu kalau alasan kehadiran Aydin di sana.
"Suruh suamimu ke sini. Kita makan sama-sama."
"Apa tidak apa-apa, Yah?" tanya Nayla.
"Tidak apa-apa."
Nayla pun menghubungi sang suami dan memintanya untuk masuk. Namun, Aydin menolak. Dia dapat melihat momen kebersamaan seorang ayah dan anak karena itu, pria itu tidak ingin mengganggu. Biarlah dia sebagai penonton saja.
Aydin berdoa, semoga saja apa yang terjadi pada Roni bukanlah semu. Dia ikut bahagia dengan perubahan yang terjadi pada mertuanya. Nayla yang mengerti kenapa sang suami menolak pun tidak lagi memaksa. Sesungguhnya wanita itu juga masih perlu waktu bersama dengan sang ayah.
"Apa dia menolak? Kenapa? Apa dia tidak suka dengan kehadiran Ayah?" tanya Roni beruntun setelah Nayla menutup ponselnya.
"Tidak, Yah. Mas Aydin hanya tidak ingin mengganggu kebersamaan kita. Dia juga senang dengan perubahan Ayah."
"Kamu yakin seperti itu?"
"Iya," jawab Nayla dengan tersenyum.
Mereka kembali menikmati hidangan yang sudah tinggal separuh. Sesekali Nayla bertanya mengenai kegiatan Roni selama ini yang entah pergi ke mana. Sebagai seorang anak tentu saja dia khawatir sang ayah melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Yah, nanti sore ulang tahun Nuri, Ayah datang, ya!" pinta Nayla.
"Ayah malu sama mertuamu."
__ADS_1
"Kenapa malu? Papa Emran dan Bunda Yasna baik-baik saja. Mereka juga pasti senang melihat kehadiran Ayah. Apa Ayah tidak ingin bertemu Nuri? Dia juga belum berkenalan sama Ayah, kan?"
Terakhir kali Roni bertemu dengan Nuri, saat itu cucunya masih berusia dua bulan. Sudah pasti gadis kecil itu tidak mengenalnya. Sekarang ada kesempatan untuk menebus waktu yang selama ini sudah terbuang. Dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Biarlah apa kata besannya nanti, yang penting saat ini dia ingin bertemu dengan cucunya yang kini sudah menginjak usia dua tahun. Roni membayangkan wajah cantik Nuri perpaduan antara wajah Nayla dan Aydin. Pasti gadis kecil itu cantik sekali.
"Iya, nanti Ayah akan datang." Roni sudah mempersiapkan hatinya jika menang kehadirannya nanti ditolak. Baik oleh cucu atau besannya.
Nayla tersenyum, dia senang mendengar ayahnya mau datang. Cukup lama mereka berbincang, akhirnya wanita itu pamit pulang. Nayla harus menyiapkan segala keperluan untuk nanti sore. Sebelum pergi, dia menawarkan untuk mengantar ayahnya. Namun, pria itu menolak dengan halus.
Roni beralasan masih ada urusan di sekitar sini. Nyatanya dia tidak ada kepentingan apa pun. Pria itu hanya tidak ingin merepotkan putrinya. Sudah cukup Roni menyusahkan Nayla, sekarang tidak lagi.
Pria itu merogoh sakunya, masih ada uang lima puluh ribu. Dia ingin membelikan sesuatu untuk cucunya, tetapi apa hadiah yang bisa dibeli dengan uang segitu? Roni juga perlu uang untuk pulang nanti.
*****
"Tadi kalian membicarakan apa saja?" tanya Aydin saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Ayah meminta maaf tadi." Nayla pun menceritakan apa saja yang dia bicarakan dengan ayahnya. Terlihat dari cara wanita itu bercerita, menunjukkan jika dia sangat bahagia, hingga membuat Aydin ikut tersenyum.
"Jadi nanti ayah datang, kan?" tanya Aydin.
Aydin mengangguk menuruti keinginan istrinya.
*****
"Bik, mau ke mana?" tanya Afrin saat melihat asistennya keluar dengan pakaian rapi.
"Mau ke pasar, Nyonya," jawab Bik Asih.
"Aku mau ikut, Bik."
"Jangan, Nyonya. Tuan akan marah kalau nanti Nyonya kecapekan."
"Tidak, Bik. Hanya sebentar saja. Aku juga ingin beli jajanan pasar. Kayaknya aku ngidam, boleh, ya, Bik!"
Bik Asih menghela napas. Kalau sudah seperti ini dia tidak bisa menolak. Bisa-bisa nanti anak majikannya ileran terus dirinya yang akan disalahkan.
__ADS_1
"Baiklah, Nyonya, tapi sebentar saja, ya, Nyonya?"
"Iya, aku cuma mau beli jajanan saja. Sebentar, aku mau ganti baju dulu."
Afrin segera ke lantai atas untuk mengganti baju. Dia senang bisa ikut pergi ke pasar dan menikmati makanan yang diinginkannya. Memikirkannya saja sudah membuatnya ngeces.
"Ayo, Bik, nanti kita kehabisan!" seru Afrin yang baru saja turun.
"Ini masih pagi, Nyonya. Pasti masih banyak."
"Kalau nanti banyak yang beli bagaimana? Pasti habis," kilah Afrin.
Bik Asih menggelengkan kepalanya. Dia sangat tahu bagaimana seorang wanita harus dituruti. Namun, wanita itu khawatir juga jika Khairi marah karena membiarkan Afrin ikut ke pasar.
Sepanjang perjalanan hanya di dominasi suara Afrin. Mereka pergi menggunakan mobil yang dikendarai oleh Pak Udin—sopir Papa Hamdan dulu.
"Nanti kita ke pasarnya naik becak saja, ya Nyonya. Kalau jalan kaki lumayan capek," ucap Bik Asih.
"Memangnya mobil nggak bisa parkir di depan pasar, Bik?"
"Tidak bisa, Nyonya. Di depan pasar khusus sepeda motor, kalau mobil sedikit jauh."
"Terserah Bibi saja. Aku tidak tahu, tidak pernah ke pasar juga."
"Jadi ini pertama kalinya, Nyonya ke pasar? Saya jadi semakin khawatir."
"Tidak apa-apa, Bik. Ini juga kemauan saya sendiri. Aku ingin melihat bagaimana pasar itu. Dulu waktu aku kecil, teman-teman sering bercerita perjalanan mereka ke pasar, makanya aku penasaran bagaimana pasar itu dan makanannya."
Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga. Seperti yang dikatakan Bik Asih tadi. Keduanya menaiki becak. Ini juga pertama kali bagi Afrin menaiki becak, ada rasa takut jika terjatuh ke depan. Untung saja mereka menaiki satu becak jadi Afrin bisa memeluk Bik Asih.
Begitu becak berhenti tepat di depan pasar, keduanya segera turun. Mata Afrin berbinar melihat begitu banyak makanan di sana. Dia mengajak Bik Asih membeli semua jenis kue basah dan makanan lainnnya.
Bik Asih sempat menegur majikannya agar tidak membeli terlalu banyak. Namun, tidak digubris sama sekali. Afrin masih saja berburu makanan yang sudah pasti tidak akan dimakan nantinya. Bik Asih tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti saja ke mana pun wanita itu pergi, hingga melupakan tujuannya pergi ke sini.
.
.
__ADS_1
.