Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
248. S2 - Video Vira


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan," sapa Ivan.


"Baik," jawab Khairi. Dia tetap melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan sambil berbincang dengan Ivan.


"Kamu sudah pulang? Cepat sekali."


"Sudah, Tuan. Semalam saya sudah sampai di apartement bersama Mama."


"Tante masih di sini?"


"Iya, Mama pulang dua hari lagi. Dia masih ingin jalan-jalan di sini."


Khairi mengangguk. "Ambillah cuti lagi, ajak tante jalan-jalan. Sekalian ajak Rani."


"Boleh, Tuan?" tanya Ivan.


"Sejak kapan aku melarang kamu cuti?" tanya Khairi balik.


Ivan berdiam diri. Khairi memang tidak pernah melarang sekretarisnya cuti karena dia memang sangat bisa dipercaya. Jika orang lain pasti pria itu akan berpikir ulang.


"Iya, Tuan."


"Bagaimana rencana pernikahanmu dan Rani?" tanya Khairi.


"Pernikahan kami akan dilaksanakan dua bulan lagi. Untuk akad nikahnya akan dilaksanakan di kampung Rani. Kalau resepsinya digelar di kota."


"Katakan saja padaku jika ada sesuatu yang yang kamu butuhkan."


"Terima kasih, Tuan, tapi semuanya sudah saya serahkan semua sama EO. Saya hanya menerima semuanya dengan beres saja. Keluarga Rani juga tidak memiliki keinginan apa pun mengenai resepsi, kecuali saat akad nikah. Keluarga mereka ingin kami melaksanakannya di sana, setelah itu ada jamuan untuk para saudara dan tetangga dengan memakai adat Jawa."


"Bagus itu. Kalau kamu masih kurang sesuatu tinggal bilang saja padaku."


"Terima kasih, Tuan. Doakan saja semoga semuanya lancar sampai hari H."


"Tentu saja, bagaimanapun juga kamu adalah sekretaris sekaligus saudara bagi saya."


"Terima kasih, Tuan. Saya merasa tersanjung."


Sebagai seorang sekretaris, tentu saja Ivan merasa dihormati saat atasannya menganggap dirinya saudara. Pria itu mengakui jika Khairi memang selalu seenaknya saja, tetapi dibalik sikapnya itu, dia orang yang sangat baik dan tidak pernah menghina apalagi mencaci orang lain.


Akhirnya mereka sampai di ruangan Khairi. Pria itu duduk di kursi kebesarannya, sementara Ivan duduk di kursi depan meja.


"Oh, ya! Apa sudah ada kabar dari perusahaan papa?"

__ADS_1


"Belum, Tuan. Kata Iwan mungkin nanti siang atau besok," jawab Ivan membuat Khairi menganggukan kepalanya.


"Apa ada kabar lainnya lagi?" tanya Khairi sebelum dia bekerja.


"Anak buah saya melaporkan, jika Nona Luna mendatangi Tuan Aydin dan mencoba untuk merayu beliau agar tidak menerima kontrak dengan perusahaan ini."


Bukannya terkejut Khairi malah terkekeh mendengarnya. Dia bisa membayangkan bagaimana ekspresi kakak iparnya saat didatangi ulat bulu. Didekati saja tidak mau, apalagi sampai digoda.


"Kenapa, Tuan, tertawa?" tanya Ivan yang merasa aneh dengan atasannya itu. Bukankah seharusnya dia khawatir? Kenapa malah tertawa?


"Tidak, hanya saja aku penasaran saja bagaimana cara Kak Aydin menanggapi wanita itu. Pasti akan sangat lucu sekali. Apalagi kalau sampai Kak Nayla tahu," Khairi tertawa membayangkan Kesusahan yang dialami kakak iparnya.


"Apa perlu saya mencari tahu, Tuan?"


"ltu tidak perlu. Aku sangat tahu bagaimana kakak iparku, dia pandai bersilat lidah. Begitu juga dengan papa, pasti wanita itu akan kalah menghadapi mereka."


"Sepertinya Anda sangat mengenal keluarga mertua Anda, Tuan!"


"Tentu, mereka sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. Begitu pun denganmu, apa pun yang terjadi dalam keluarga Rani, mereka juga keluargamu.


"Sebenarnya saya tidak suka dengan kakaknya Rani. Dia merasa dirinya adalah Nyonya dan Rani adalah pembantu di sana. Dia juga tidak memperlakukan kami layaknya tamu. Mama juga sempat kesal, tapi beliau mencoba untuk tidak peduli," tutur Ivan.


"Mama kamu nggak ada niat buat batalin pernikahan, kan?"


"Afrin juga bilang sama saya agar kamu bisa membujuk Rani untuk berhenti bekerja. Sebenarnya bunda juga ingin melarang Rani untuk bekerja, tapi tidak enak. Nanti setelah kamu menikah, kamu punya kuasa atas dia. Bukannya Bunda nggak sayang sama Rani. Hanya saja menurut Bunda, Rani sudah terlalu lama menderita. Sudah saatnya dia bahagia dan menjadi ratu di rumahnya. Bunda juga nggak melarang kalau Rani setiap hari datang ke rumah Bunda, saat kamu pergi bekerja. Asalkan datangnya bukan untuk bekerja, tapi sebagai tamu."


Ivan merasa kagum pada mertua atasannya itu. Wanita itu sangat baik, dia sangat tahu itu. Pantas saja Rani sangat betah kerja di sana, bahkan dia rela digaji sedikit asal masih boleh bekerja.


"Nanti saya akan bicara pelan-pelan dengannya," ucap Ivan.


"Lebih baik seperti itu."


"Kalau begitu, saya permisi, Tuan. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Iya," sahut Khairi. "Nanti jika ada kabar dari perusahaan papa, segera hubungi saya."


"Iya, Tuan." Ivan segera beranjak meninggalkan atasannya seorang diri.


"Semoga pernikahan mereka baik-baik saja sampai rambut mereka memutih. Bahkan hingga ajal menjemput," gumam Khairi.


Pria itu segera membuka laptopnya memeriksa beberapa file yang masuk melalui emailnya.


*****

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Afrin saat memasuki rumah orang tuanya.


Hari ini dia memutuskan datang ke rumah orang tuanya. Wanita itu juga sudah mengirim pesan pada suaminya agar nanti setelah pulang kerja menjemputnya di sini. Mengenai mobil, sebaiknya nanti ditinggal.


"Waalaikumsalam, anak bunda datang! Kenapa lesu begitu?" tanya Bunda Yasna.


"Tidak ada apa-apa, Bunda," jawab Afrin dengan mencium punggung tangan wanita itu. Dia duduk di samping bundanya dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Bunda sudah lihat video yang sedang Viral, belum?" tanya Afrin dengan pelan.


"Video apa?" tanya Balik Yasna karena tidak mengerti video yang dimaksud.


"Vira bersama dengan seorang laki-laki di kamar hotel. Tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dan marah-marah. Wanita itu juga menghajar Vira. Ternyata itu adalah istri dari pria yang bersama Vira."


"Astaghfirullah." Yasna menutup mulutnya tidak percaya.


Bagaimana bisa anak yang dulu menjadi teman putrinya, kini malah berbuat hal yang sangat tidak terduga. Memang selama ini dia juga tahu jika Vira anak yang bebas, tetapi wanita itu tidak menyangka jika sampai sejauh ini.Yasna juga sering mendengar tentang keluarganya dari sang putri saat Afrin sedang curhat.


Dari pertengkaran kedua orang tua Vira, sampai mereka pergi jalan-jalan ke luar kota, bersama dengan selingkuhan masing-masing. Dari mana Vira tahu? Tentu saja dari media sosial. Anak itu menggunakan akun palsu untuk mengikuti media sosial orang tuanya. Dari situlah gadis itu mengetahui segalanya dan menceritakan pada teman-temannya.


"Terus sekarang dia bagaimana?" tanya Yasna.


"Aku tidak tahu. Sejak aku menikah, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bunda tahu, kan, apa yang terjadi sama aku dan dia. Hubungan kami sudah tidak baik. Aku tadi juga hubungin Siska dan bertanya padanya, dia bilang tidak tahu."


"Mudah-mudahan dia baik-baik saja."


"Amin, mudah-mudahan, Bunda."


"Kamu nginap di sini?" tanya Yasna.


"Tidak, Bunda. Nanti malam aku pulang dijemput Mas Khairi."


"Padahal apartement kamu lebih dekat, kenapa malah ke sini? Jadi makin jauh."


"Aku kangen sama Bunda makanya ke sini."


"Kangen, tapi disuruh nginap nggak mau."


Afrin tidak menjawab. Dia memeluk bundanya dengan erat. Di luar dirinya memang seorang istri, tetapi didekat bundanya, wanita itu tetaplah seorang anak yang ingin dimanja oleh orang tuanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2