Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
271. S2 - Berhenti kerja


__ADS_3

Rani sudah berada di kamar mandi. Untung saja tadi dia sudah menyembunyikan lingerie di dalam lipatan handuk jadi, Ivan tidak melihatnya. Namun, saat ini dia benar-benar merasa bingung harus bagaimana. Apa dia akan tetap memakai lingerie itu atau tidak? Pintu kamar mandi diketuk, disusul dengan suara Ivan yang terdengar mengkhawatirkannya.


"Rani, kamu tidak apa-apa, kan? Kenapa kamu lama sekali?" tanya Ivan.


"Iya, Mas. Aku lagi sakit perut," jawab Rani beralasan


"Oh, aku kira ada apa. Ya sudah, kalau begitu."


Ivan pun kembali ke ranjangnya. Tadi dia tidak mendengar suara air jadi, pria itu Khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Sementara Rani meneruskan kegiatannya untuk mandi, wanita itu sudah bertekad akan tetap melakukan semua sesuai rencana, yang tadi dia pelajari dari Afrin. Wanita itu menatap pantulan tubuhnya di depan cermin.


Rani benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan memakai baju seperti ini. Dia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan. Hingga beberapa kali sampai rasa gugupnya berkurang. Wanita itu membuka pintu dan saat melihat ke atas ranjang, ternyata Ivan sudah tidur, membuat Rani menghela napas. Padahal dia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Namun, semuanya harus kandas begitu saja.


Wanita itu berjalan gontai menuju meja riasnya. Dia mengeluarkan sebuah papper bag, berisi alat make up yang sudah Rani beli tadi dan saat wanita itu ingin mencoba apa yang sudah Afrin ajarkan tadi, sebuah tangan melingkar di perutnya, hingga membuat Rani terkejut. Namun, dia terdiam saat melihat siapa yang memeluknya dari pantulan cermin di depannya.


Ternyata Ivan dari tadi tidak tidur. Dia hanya memejamkan mata saja. Pria itu cukup terkejut melihat penampilan Rani dengan memakai lingerie. Padahal sebelumnya menyentuhnya saja wanita itu tidak mau, tapi sekarang malah dipakainya.


"Kamu sengaja ingin menggodaku?" tanya Ivan dengan berbisik tepat di telinga Rani, membuat bulu kuduk wanita itu seketika merinding. Dia juga sudah mulai kesulitan bernapas.


"Kata Nona Afrin menggoda suami juga termasuk pahala jadi, apa salahnya jika aku melakukannya," jawab Rani dengan pelan, membuat Ivan tersenyum.


Pria itu memang sudah menahannya sejak malam pertama mereka. Dia takut jika Rani menolak kehadirannya, tapi kini melihat apa yang dilakukan sang istri, sepertinya Ivan salah. Wanita itu juga menginginkannya. Pria itu menuntun istrinya agar berdiri. Rani hanya menurut saja.


Tidak mau membuang waktu, Ivan segera memanggut bibir istrinya. Rani hanya diam menerima semua yang suaminya lakukan pada dirinya. Ini memang yang pertama kali untuk mereka berdua. Wanita itu begitu menikmati malam panjang bersama sang suami. Begitu juga dengan Ivan, dia begitu puas dengan apa yang sudah istrinya jaga selama ini.


Keringat membasahi tubuh keduanya. Namun, tidak menghentikan kegiatan mereka, hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan malam panas mereka. Kenangan yang tidak akan pernah terlupakan dan akan menjadi candu bagi keduanya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Ivan dengan mencium kening istrinya. Rani hanya mengangguk dengan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Wanita itu pasti malu dengan apa yang sudah terjadi malam ini. "Kenapa harus malu? Tadi saja tidak malu, memakai pakaian seperti itu."

__ADS_1


Ivan menunjuk sebuah kain yang teronggok begitu saja di atas lantai. Seolah itu bukanlah barang yang penting. Padahal karena kain itu mereka melepas harta paling berharga yang mereka miliki.


"Tadi juga malu, tapi aku terpaksa memakainya," ucap Rani.


"Karena ajaran Non Afrin?" tanya Ivan yang diangguki oleh Rani. "Apa kamu juga mengatakan jika kita belum melakukan malam pertama?" tanya Ivan lagi dengan menatap wajah sang istri.


Rani diam saja. Dia takut jika suaminya akan marah. Diamnya sang istri membuat Ivan tahu jawabannya tanpa harus mendengar dari mulut wanita itu.


"Tidak apa-apa, lagipula karena dia juga kita bisa melakukannya."


"Kamu tidak marah?" tanya Rani dengan mendongakkan wajahnya menatap sang suami.


"Awalnya, sih, marah karena kamu menceritakan rumah tangga kita kepada orang lain, tapi karena hal itu juga yang membuat kita jadi seperti ini jadi, aku tidak marah. Hanya saja lain kali jangan ceritakan lagi masalah rumah tangga kita."


"Aku juga tidak menceritakannya. Non Afrin sendiri yang menebaknya."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu tidur saja, kalau tidak, aku akan melakukannya lagi."


"Jangan, Mas, ini saja masih sakit."


"Iya, maaf, apa aku tadi terlalu kasar?" tanya Ivan yang dijawab dengan gelengan oleh wanita itu.


"Ya sudah, ayo, tidur!"


Mereka pun tidur sambil berpelukan. Guling yang biasanya membatasi mereka, kini entah ke mana perginya. Hanya menyisakan selimut yang menutupi tubuh keduanya yang tidak terbalut oleh sehelai benang pun.


Sebenarnya tidur dalam keadaan seperti ini juga tidak baik untuk Ivan. Dia harus menahan hasratnya kala kulit mereka bersentuhan. Berkali-kali Pria itu menghela napas agar tidak terpancing.

__ADS_1


'Sepertinya aku harus berterima kasih pada Non Afrin, karena dia semua bisa terjadi,' gumam Ivan dalam hati.


*****


Hari ini Rani berangkat ke rumah Yasna dengan diantar oleh Ivan. Seperti yang dia bicarakan dengan sang suami sebelumnya. Bahwa hari ini wanita itu akan mengundurkan diri dan hari ini, hari terakhir Rani bekerja.


"Bu, saya mau mengatakan kalau saya mau mengundurkan diri. saya juga ingin meminta maaf kalau selama saya bekerja di sini, saya melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Mohon maaf juga jika pengunduran diri saya ini terasa mendadak," ujar Rani.


"Tidak apa-apa, saya mendukung apa pun keputusanmu. Apalagi menyangkut kebaikan rumah tangga kamu."


"Iya, Bu, terima kasih atas pengertiannya, tapi kalau ibu meminta saya untuk tetap bekerja sampai Ibu mendapatkan pengganti, saya bersedia, kok, Bu."


"Tidak perlu, saya juga sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga karena hari ini, hari terakhir kamu bekerja, nanti malam kamu minta suami kamu makan malam di sini, ya! Anggap saja sebagai acara perpisahan kamu bekerja di sini. Mulai besok kamu datang ke sini hanya sebagai keluarga, bukan untuk bekerja."


"Terima kasih, Bu. Ibu selalu baik padaku. Aku tidak tahu harus membalasnya bagaimana."


"Kamu tidak perlu membalasnya. Cukup menganggap saya sebagai ibu kamu itu saja," ucap Yasna membuat Rani meneteskan air matanya. Dia sungguh beruntung bisa mengenal keluarga ini.


"Iya, Bu. Nanti saya kirim pesan ke Mas Ivan, biar nanti makan malam di sini lagi," ujar Rani.


Kedua wanita itu pun melanjutkan pekerjaan mereka. Yasna harus mencari orang yang bisa dipercaya sebagai pengganti Rani. Dia tidak ingin sembarangan mempekerjakan orang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2