Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
115. S2 - Keributan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Yasna sibuk di dapur dengan dibantu Rani. Kali ini Afrin juga ikut membantu. Gadis itu ingin belajar memasak pada bundanya. Biasanya setelah Subuh Afrin akan kembali ke tempat tidur, tapi hari ini dia ikut ke dapur dengan Yasna.


Yasna sempat curiga pada putrinya, dia takut putrinya sedang dalam masa puber. Dia mengira kalau putrinya sedang jatuh cinta pada seorang pria, tapi setelah didesak tetap mengatakan jika Itu atas kemauannya sendiri.


Yasna merasa lega karena kecurigaannya salah. Dia bersyukur Afrin selalu patuh padanya. Biasanya anak seusia gadis itu selalu membantah peringatan orang tuanya.


"Pokoknya Bunda nggak mau, ya, kalau kamu pacar-pacaran. Selesaikan dulu sekolah, baru pacaran. Sekalian aja nikah, nggak perlu kuliah," ucap Yasna dengan tegas.


"Nggak lah Bunda. Aku mau kuliah dan kerja dulu. Nggak mau nikah."


"Makanya, jangan pacaran. Kamu sekolah terus kuliah dulu yang benar. Masalah jodoh, insyaallah Tuhan sudah mengaturnya."


"Iya, Bundaku sayang yang cerewet," ucap Afrin sambil memeluk bundanya.


"Sudah cepat kerjakan. Semakin lama kamu dari tadi ngajakin ngobrol," pungkas Yasna.


Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Yasna tersenyum melihat putrinya.


"Wah, ada angin apa ini? Tumben-tumbenan anak gadis Papa ada di dapur?" tanya Emran yang baru saja datang dari lari paginya di taman.


Itu adalah kalimat pertanyaan, tapi semua orang tahu ja Emran sedang mengejek Afrin. Afrin hanya diam saja sambil melirik malas pada papanya.


"Apa dia lagi jatuh cinta, Bunda? dan sekarang mau masakin laki-laki itu?" tanya emran pada Yasna.


"Nggak ada, Papa. Siapa juga yang naksir cowok. Aku tuh pengen belajar sungguh-sungguh. Kenapa, sih? Dari tadi bunda sama papa nggak ada yang percaya, kalau aku mau sungguh-sungguh belajar," ucap Afrin dengan cemberut.


"Masa, sih, aneh saja, seorang Afrin yang biasanya malas, tiba-tiba mau belajar masak yang berminyak dan kotor."


"Ini, kan, memang pekerjaan perempuan jadi, aku harus bisa melakukannya nanti juga terbiasa."


"Bagus kalau begitu. Nanti bisa gantiin Bunda memasak. Biar Bunda cukup duduk saja."

__ADS_1


"Papa tenang saja. Kalau aku sudah pandai masak. Aku yang bakalan jadi pemilik dapur ini dan gak ada yang boleh masuk termasuk Bunda. Apa pun yang Bunda dan Papa inginkan, tinggal bilang saja pasti akan aku siapkan."


"Kamu mau masak, apa mau ceramah? Kalau mau ceramah silakan lanjutkan di sana, jangan di dapur. Dapur tempat untuk memasak," tegur Yasna.


"Maaf, Bunda, tadi itu kelepasan."


Mereka melanjutkan memasak. Sementara Emran kembali ke kamarnya.


*****


Waktu istirahat makan siang telah tiba. Semua pegawai berhamburan keluar, mencari makan untuk mengisi perut mereka. Lantai dasar perusahaan dihebohkan dengan kedatangan seorang wanita yang berteriak memanggil suaminya.


Seseorang yang mengenali wanita itu segera memanggil atasannya yang juga suami dari wanita itu. Tidak berapa lama akhirnya suami dari wanita itu keluar. Dia adalah Sapto, kepala HRD di perusahaan itu.


"Mama kenapa bikin keributan di sini?" tanya Sapto


"Mama mau cari wanita itu, dia yang sudah menjadi selingkuhan Papa dan membuat Papa melupakan keluarga," teriak wanita itu. Dia mengedarkan pandangannya. Sampai pandangannya tertuju pada seorang gadis yang baru saja keluar.


"Hai, kamu, dasar pelakor." Wanita itu berjalan mendekati seorang gadis yang tidak lain adalah Airin.


"Dasar wanita penggoda, kamu sudah menggoda suami saya." wanita itu menarik rambut Airin hingga Gadis itu merintih kesakitan.


"Aduh, sakit, Bu. Lepaskan!"


Airin mencoba untuk melepaskan tangan wanita, tapi karena wanita itu dipenuhi emosi, cengkramannya semakin kuat. Semua orang hanya memandangnya, tanpa mau membantu karena mereka tahu, di sini Airinlah yang bersalah sudah penggoda suami orang.


Aydin yang baru saja keluar dari lift terkejut melihat apa ya terjadi. Dia segera membantu Airin agar bisa terlepas dari wanita itu. Pria itu mencoba dengan susah payah agar wanita itu melepaskan cengkramannya


"Kenapa kamu membantunya? Dia itu wanita tidak tahu diri, penggoda suami orang!"


"Maaf, sebaiknya masalah ini diselesaikan dengan cara baik baik. Jangan seperti ini. Ini hanya akan mempermalukan Anda." Wanita itu segera melepaskan rambut Airin dengan mendorongnya, hingga akhir Airin terjatuh.

__ADS_1


Istri Sapto itu memperbaiki penampilannya yang sudah acak-acakan karena ulahnya tadi. Sebenarnya dia juga malu menjadi bahan tontonan semua orang, tapi wanita itu sangat geram dengan apa yang dilakukan Airin.


"Saya mau kamu menjauhi suami saya. Jangan pernah kamu mendekatinya, apalagi sampai menggodanya, kamu mengerti? Kamu itu masih muda, seharusnya kamu itu malu dengan apa yang kamu lakukan. Harusnya kamu jaga kehormatanmu bukan menjualnya kepada laki-laki hidung belang! Saya yakin jika orang tua kamu mengetahui kelakuan anaknya, dia pasti akan sangat malu. Saya yang bukan orang tuamu saja merasa malu, apalagi mereka. Saya tidak habis pikir atau jangan-jangan, kamu seperti ini juga karena orang tua kamu yang mengajarkannya?"


"Ibu jangan menghina orang tuaku. Mereka orang-orang yang baik," sela Airin. Dia tidak rela ada yang menghina orang tuanya. Cukup dirinya saja yang dihina.


"Kalau mereka orang yang baik. Kenapa membiarkan anaknya menjadi simpanan pria hidung belang? Saya harap tidak ada keluarga lain yang menjadi korbanmu. Cukup keluarga saya."


"Kenapa Ibu hanya menyalahkan saya? Di sini suami Ibu juga salah. Dia mudah digoda. Bahkan Ibu juga salah karena tidak bisa menjaga suami."


Airin sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rahasianya. Dia sudah berusaha menutupinya dari kemarin, mungkin ini arti dari sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, akhirnya akan tercium juga.


"Beginilah orang-orang yang tidak tahu diri. Dia lebih suka menyalahkan orang lain daripada dirinya sendiri. Kalian berdua itu sama saja, yang pria br*ngs*k, mata keranjang, yang perempuan tidak tahu diri. Benar-benar pasangan yang serasi. Untuk Papa, kalau memang Papa sudah tidak nyaman dengan Mama. Lebih baik Papa menceraikan Mama. Saya siap menerimanya daripada Papa harus berbuat zina dengan wanita itu. Itu juga sama saja membawa dosa untuk Mama dan Mama tidak mau menanggung dosa yang tidak Mama perbuat."


Semua orang terdiam mendengarkan keluhan dari istri Pak Sapto. Wanita mana yang tahan dengan suami yang tidak bisa menjaga kehormatan dan keutuhan keluarganya. Hingga seorang wanita datang menghampiri mereka.


"Maaf, Pak Sapto, Bu Sapto dan Airin. Pak Emran meminta kalian untuk datang ke ruangannya, sekarang juga."


Sapto menghela nafas panjang. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti pada nasibnya. Karena yang memanggilnya pimpinan perusahaan sendiri, bukan wakilnya atau orang kepercayaan di perusahaan ini.


Sapto berjalan dengan langkah gontai mengikuti wanita tadi. Hingga sampailah mereka di depan ruang Emran.


"Maaf, Pak Hendra. Ini mereka orang-orang yang diminta Pak Emran untuk datang ke ruangannya."


"Kamu boleh pergi," ucap Hendra segera berdiri dan membukakan pintu untyk ketiga orang yang berdiri di depannya. "Silakan masuk. Pak Rmran sudah menunggu di dalam."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2