
"Tante ingin kamu menjadi suami Rizki dan menjadi menantu Tante, anggap saja ini permintaan Tante yang pertama dan terakhir untuk kamu. Tante tidak pernah meminta apa pun sama kamu, kan," ucap Sarah.
Nayla terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Sarah punya permintaan seperti itu. Dia hanya menganggap Rizki sebagai kakak, tidak ada perasaan lebih.
"Maaf, Tante, tapi saya tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Kak Rizki. Saya hanya menganggapnya seperti kakak."
"Nay, Tante hanya ingin kamu menikah dengan Rizki. Anggap aja ini sebagai balas budi atas apa yang sudah Tante lakukan sama kamu."
"Balas budi? Balas budi apa Tante?" tanya Nayla bingung. Dia merasa tidak memiliki hutang budi pada Sarah, tapi kenapa wanita itu membicarakan tentang hutang budi.
"Apa kamu tidak ingat, siapa yang sudah menampung kamu dan ibu kamu saat kalian diusir dari rumah kontrakan? Siapa yang sudah kamu hubungi malam-malam, minta kami untuk mengantarkan ibumu ke rumah sakit? Kamu masih mengingatnya, kan?"
Nayla dilema. Memang pada saat itu dia yang meminta bantuan kepada keluarga Sarah, tapi saat itu mereka sendiri yang mengatakan jika sudah menganggap seperti keluarga jadi, tidak perlu memikirkan bantuan dari keluarga itu. Kenapa sekarang berbeda?
Apa Nayla harus mengorbankan masa depannya? Dia tidak memiliki perasaan apapun pada Rizki dan sekarang dia harus menikah dengan pria itu. Dalam hati gadis itu menjerit. Kenapa semuanya sangat tidak adil padanya.
"Kamu pikirkan baik-baik, apa yang tante katakan. Tante pergi dulu, mudah-mudahan secepatnya kamu bisa memberi jawaban." Sarah pergi meninggalkan Nayla seorang diri di ruangan itu.
Setelah pintu ruangan tertutup, air mata Nayla mengalir begitu deras. Hari ini, kenapa semuanya berjalan tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Pertama, dia harus rela melepas pria yang sudah mulai mengisi hatinya. Kedua gadis itu dipaksa untuk dijodohkan dengan pria yang sudah Nayla anggap seperti kakak sendiri. Dia menangis terisak, gadis itu memikirkan apa yang akan dipilihnya.
'Ibu, aku harus bagaimana? Apa aku harus menerima permintaan dari Tante Sarah? Aku tidak punya pilihan lain selain itu, mudah-mudahan dia memang jodoh yang Tuhan berikan untukku.'
*****
Satu minggu telah berlalu, selama itu pula Nayla selalu menghindari Aydin. Beberapa kali, pria itu datang ke butik mencarinya, tapi gadis itu tidak mau bertemu.
Hari ini, Sarah datang. Dia ingin mengetahui jawaban dari Nayla, apakah gadis itu mau memenuhi keinginannya. Harapan wanita itu sangat besar pada Nayla.
"Bagaimana, Nay? Apa kamu sudah ada jawaban mengenai permintaan Tante satu minggu yang lalu?" tanya Sarah saat mereka duduk berdus di ruangan Nayla.
Nayla menunduk sebelum menjawabnya. Dia menghela napas berkali-kali, mencoba untuk menghilangkan sesak di dadanya. Gadis itu tidak ingin ada penyesalan dikemudian hari.
__ADS_1
"Saya menerimanya, Tante," jawab Nayla masih tetap menunduk. Dia takut jika dia mengangkat wajahnya, air mata itu akan luruh kembali.
Meskipun nanti Rizki tidak mencintainya, dia akan berusaha tetap berbakti padanya dan berusaha agar dicintai oleh sang suami.
"Terima kasih, kamu sudah mengabulkan permintaan Tante ... Tante janji akan selalu menyayangimu seperti anak sendiri," ucap Sarah dengan memeluk gadis itu.
Sekuat tenaga Nayla menahan agar tidak mengeluarkan air mata. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Suaranya sudah tercekat di tenggorokan, tak bisa lagi berkata-kata. Satu kata saja terucap, maka air mata akan mengalir dengan sendirinya.
"Ya sudah, nanti Tante atur acara pertunangan kalian. Nanti kamu sama Rizky cari cincinnya," ujar Sarah pada Nayla. "Aku tidak sabar melihat kalian menikah," lanjut Sarah dengan bergumam.
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang baru datang, tidak lain adalah Yasna.
"Waalaikumsalam, eh, Bu Yasna. Ke sini juga?"
"Iya, Bu. Sudah beberapa hari ini saya tidak ke sini jadi, pengen lihat-lihat saja," jawab Yasna. "Ada apa ini? Sepertinya Bu Sarah sangat senang sekali?" tanya Yasna saat melihat wajah Sarah yang terus saja tersenyum.
"Iya, Bu. Nayla akan jadi menantu saya."
Yasna terkejut mendengarnya. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Sarah. Wanita itu bahkan tidak tahu kapan Nayla menjalin hubungan dengan putra Bu Sarah.
"Satu minggu lalu, saya melamar Nayla untuk putra saya dan hari ini Nayla menerimanya," ujar Bu Sarah.
"Saya ikut senang mendengarnya. Selamat, ya, Bu Sarah," ucap Yasna dengan tersenyum paksa.
Dia tidak tahu harus senang atau sedih. Di satu sisi wanita itu senang jika Nayla bisa mendapatkan seorang pria yang baik, tapi di sisi lain, pasti putranya akan sangat sedih, mendengar jika wanita yang diinginkannya menjadi istri, ternyata sudah memiliki pilihannya sendiri.
"Iya, Bu Yasna. Nanti Ibu datang juga di acara pertunangan anak saya, ya?"
"Insyaallah, kalau ada waktu senggang."
"Ya sudah, saya permisi dulu, mungkin Ibu mau ngobrol-ngobrol sama Nayla tentang pekerjaan. Saya harus menyiapkan semuanya. Saya juga belum bilang sama anak dan suami saya."
__ADS_1
"Iya, Bu. Hati-hati."
Sarah meninggalkan ruangan itu dengan terus tersenyum, menyisakan Yasna bersama Nayla. Wanita itu menatap gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Yasna mencoba untuk tersenyum meski dia sedang kecewa.
"Selamat, ya, Nay," ucap Yasna setelah beberapa menit terdiam.
"Maaf, Bunda." Nayla memeluk wanita yang ada di depannya itu.
Akhirnya air mata tidak dapat dibendung lagi. Nayla menangis dalam pelukan Yasna tanpa bersuara. Dia tidak tahu pilihannya sudah benar atau tidak. Gadis itu hanya berharap, semoga Tuhan merestui apa yang menjadi pilihannya.
Yasna juga sama sedihnya, tapi dia tidak ingin Nayla tahu, betapa kecewanya dia saat ini.
"Kenapa minta maaf? Seharusnya kamu bahagia, ada seorang pria baik yang akan menjadi suaminu."
"Maaf jika pilihanku sudah mengecewakan Bunda," ucap Nayla dengan sesenggukan.
"Apa pun pilihan kamu Bunda akan mendukung. Semoga kamu bahagia bersamanya dan Rizki juga bisa menjadi imam yang baik untuk kamu."
Nayla bukannya menghentikan tangisnya, malah semakin menjadi. Entah kenapa ada rasa ngilu di dalam hatinya ketika Yasna mengatakan itu. Padahal apa yang dikatakan wanita itu untuk kebaikannya.
"Hei, kenapa nangis? Kamu harusnya senang, karena akan ada seseorang yang bisa menjaga kamu dan menyayangi kamu. Kamu tidak akan merasa kesepian lagi."
Seandainya Yasna tahu, bahwa gadis itu tidak mencintai Rizki, apa mungkin wanita itu masih bisa mengatakan hal seperti itu? Mengingat betapa sayangnya Yasna pada Nayla.
Naila tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia tidak ingin orang lain khawatir padanya. Biarlah, apa pun yang terjadi nanti, mudah-mudahan dia bisa melewati semuanya dengan mudah.
.
.
.
__ADS_1
.
.