
"Kakak! Enggak usah ngetawain, ya!" teriak Afrin dari luar pintu kamar.
"Mas, kamu keras sekali ketawanya. Aku 'kan nggak enak sama Afrin," ucap Nayla pelan takut terdengar adik iparnya.
"Biarin saja. Habisnya, dia ada-ada saja. Aku jadi penasaran seperti apa pria yang bernama Khairi itu. Padahal profil yang aku baca di artikel. Dia orangnya tegas dan dingin."
"Tadi nggak gitu, kayaknya. Dia terlihat biasa saja," sahut Nayla yang diangguki Aydin.
"Nuri mana, Sayang? Kok aku dari tadi nggak lihat dia?"
"Belum bangun, masih ada di kamarnya."
"Ini 'kan sudah sore, kenapa nggak dibangunin?"
"Tidurnya baru tadi, kasihan kalau dibangunin. Dia juga baru sembuh jadi, biarin saja jangan diganggu. Kata Bunda juga Nuri memang gitu kalau baru sembuh dari sakit, sering tidur seharian."
"Ya sudah, aku mandi dulu." Aydin berlalu menuju kamar mandi. Sementara Nayla menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
*****
Disebuah rumah yang begitu besar. Khairi duduk di taman, memikirkan apa yang terjadi tadi siang di rumah Afrin. Tanpa dia sadari sang mama sudah memandanginya dari jauh dan mendekat lalu, duduk di sampingnya.
"Apa yang membuat anak mama ini melamun? Sepertinya sangat serius sekali?" tanya Mama Fara, mama tiri Khairi.
"Tidak ada apa-apa, hanya pekerjaan kantor yang sedikit banyak hari ini," kilah Khairi.
"Mama sangat tahu bagaimana anak Mama. Kerjaan kantor tidak akan membuat kamu sampai melamun di sini. Pasti karena wanita, kan?" tanya Mama Fara menebak apa yang sudah terjadi pada putranya. Meski Khairi bukanlah anak kandungnya, tetapi dia sangat menyayangi pria itu layaknya anak kandung.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Aku mau keluar dulu, ya!" Khairi berlalu meninggalkan mamanya karena dia tidak ingin bercerita kepada siapa pun untuk saat ini. Pria itu sendiri juga tidak tahu langkah apa yang akan dia tempuh nanti. Khairi perlu memikirnya dengan cermat.
Pria itu meninggalkan rumahnya. Dia mengendarai mobil tanpa tentu arah. Suara azan membuatnya ingat akan perkataan Emran. Kali ini panggilan itu membuat hati Khairi bergetar.
Pria itu memutuskan untuk singgah di sebuah masjid terdekat. Tangannya meremas setir guna mencoba menguatkan hatinya, antara takut dan malu. Bukan malu pada manusia, dia juga tidak mengenal siapa mereka. Kali ini dia malu pada penciptanya.
Khairi turun dari mobil, memandangi rumah Allah. Dia diam berdiri di depan masjid itu beberapa saat, tiba-tiba dia merasa menjadi manusia yang paling berlumur dosa. Sudah sangat lama dia tidak menginjakkan kakinya di sana.
Hingga sebuah tepukan dari belakang menyadarkannya. Ternyata seorang pria berumur dengan peci putih di kepalanya. Khairi menundukkan sedikit kepalanya.
"Kenapa masih berdiri di sini? Mari, masuk!" ajak pria itu.
__ADS_1
"Iya, Pak." Khairi mengikuti pria tersebut. Antara yakin dan tidak, tapi kakinya terus melangkah mengikuti jejak pria yang ada di depannya.
"Kamu sudah ambil wudhu?" tanya pria itu. Khairi yang tidak mengerti pun hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu mengerti dan mengajak Khairi ke tempat wudhu.
"Mari, ikuti saya! Kita ambil wudhu dulu."
Pria itu memberi contoh kepada Khairi tata cara berwudhu. Khairi mengikutinya tanpa banyak bertanya. Setelah itu mereka memasuki masjid dan ternyata pria yang tadi itu adalah imam di sana.
Khairi berdiri di barisan paling belakang. Rasa percaya diri yang selama ini dia miliki, pergi begitu saja saat berada di sekitar orang-orang ahli ibadah ini. Usai salat sebenarnya pria itu ingin sekali segera pergi, Khairi merasa dirinya tidak pantas berada di sana. Namun, pria tadi menghentikan langkahnya.
"Tunggu anak muda, kenapa buru-buru mau pulang? Bukankah kamu datang ke sini untuk memperbaiki diri?" tanya pria itu seolah tahu apa yang ingin dilakukan Khairi.
"Perkenalkan nama saya, Ridhwan," ucap pria itu dengan mengulurkan tangannya.
"Khairi," jawabnya dengan menyambut uluran tangan Ridhwan. "Saya sudah terlalu banyak dosa, Pak. Saya bahkan tidak tahu agama saya. Apalagi tentang kewajiban saya sebagai orang Islam."
"Karena tidak mengerti, maka kita bisa mulai belajar. Kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencari tahu. Saya dulu juga tidak tahu apa-apa, tapi saya belajar karena itu saya mengerti. Kenapa Anda tidak memulainya?"
"Tapi umur saya sudah terlalu tua."
"Belajar tidak ada kata tua atau muda. Apalagi kata terlambat."
Khairi terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang pria itu ucapkan. Ridhwan mengajaknya duduk di teras masjid dan berbincang sejenak.
"Tuhan maha pemaaf, pasti akan memaafkan semua kesalahan kita. Beda dengan manusia seperti kita. Jangankan memaafkan, mengakui kesalahan saja terkadang malu."
Ustaz Ridwan dan Khairi berbincang banyak hal. Pemuda itu juga menanyakan tentang agamanya dan dengan senang hati Ustaz ridhwan menjelaskan semua. Dia juga menjanjikan pada Khairi akan mengajari mengaji. Tentu saja hal itu membuat pemuda itu senang.
"Terima kasih, sudah mau membantu saya."
"Sama-sama, sebagai manusia kita harus saling tolong-menolong."
*****
"Mama ana?" tanya Nuri saat melihat Nayla mau keluar dengan membawa tas.
"Mau keluar sebentar, Sayang. Mama mau belanja, biskuit Nuri sudah habis," jawab Nayla.
"Itut."
__ADS_1
"Nuri mau ikut?" tanya Nayla yang diangguki oleh gadis kecil itu.
Naila senang mendengarnya. Baru kali ini Nuri berinisiatif ingin ikut dengannya. Biasanya dia selalu mengajak anaknya itu. Namun, selalu saja menolak.
"Kalau gitu, ayo! Pamit dulu sama oma," ajak Nayla.
Mereka mencari Yasna yang kini berada di ruang keluarga sedang menonton TV.
"Ma," panggil Nuri pada Yasna.
"Iya, ada apa?" tanya Yasna.
"Itut Mama anja."
"Nuri mau ikut Mama?" tanya Yasna yang diangguki Nuri. "Nggak boleh nakal, ya!"
Yasna beralih melihat Nayla dan bertanya, "Apa kamu bisa belanja sendirian? Apa perlu Rani ikut? Biar dia nanti yang bawain belanjaannya."
"Tidak perlu, Bunda. Aku bisa, kok! Ada Pak Hari juga."
"Belanja sedikit saja, biar nggak repot. Besok belanja lagi. Atau Pak Hari suruh masuk bantuin kamu."
"Iya, Bunda. Kami pergi dulu, assalamualaikum," pamit Nayla dengan mencium punggung tangan Yasna diikuti Nuri.
"Waalaikumsalam, kalian hati-hati, ya!"
"Iya, Oma," ucap Nayla sambil menggendong putrinya.
Gadis kecil itu melambaikan tangan pada Yasna diikuti pula oleh wanita itu.
Mereka pergi bersama dengan menaiki mobil yang dikendarai oleh Pak Hari. Sepanjang jalan Nuri selalu berceloteh membuat suasana tidak membosankan. Bahkan sesekali Pak Hari juga menimpali ocehan Nuri.
Sementara di rumah Yasna merasa senang. Kini hubungan ibu dan anak itu sudah semakin dekat. Dia tidak perlu merasa bersalah karena seolah ingin memiliki Nuri seorang diri.
Bahkan jika mereka ingin meninggalkan rumah dan memilih mandiri, wanita itu tidak akan keberatan, asal anak dan cucunya dalam keadaan baik-baik saja. Kini tinggal Afrin, entah kapan gadis itu akan menikah. Yasna berharap siapa pun jodoh putrinya, mudah-mudahan dia orang yang baik.
.
.
__ADS_1
.
.