Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
281. S2 - Ibu kandung Khairi


__ADS_3

Khairi mencoba apa yang istrinya sarankan. Hingga beberapakali, akhirnya kunci bisa diputar dan terbuka. Dibukanya kotak itu, ternyata ada sebuah buku diary dan sebuah DVD. Di depan buku itu tertulis nama Nur Aini.


"Ada DVD, Sayang. Ayo, kita putar!" ajak Khairi yang ingin beranjak. Namun, dicegah oleh istrinya.


"Kita kembalikan ini dulu, Mas. Ambil seperlunya, baru kita putar," ucap Afrin yang diangguki Khairi.


Mereka membereskan semuanya dan segera memasukkan ke dalam kotak. Khairi sungguh tidak sabar ingin melihat video itu. Pria itu melakukan semuanya dengan cepat. Setelah itu keduanya ke ruang keluarga dan memutar DVD itu di sana.


Khairi duduk di samping istrinya, menunggu video berputar. Tampak seorang wanita yang ada di foto itu lagi. Dia tersenyum ke arah kamera. Namun, senyumnya menyimpan kesedihan yang teramat sangat.


"Assalamualaikum, Mas. Mungkin saat kamu melihat video ini, Aku sudah tidak ada di sisimu. Atau mungkin kamu tidak akan pernah mau melihat video ini karena aku tahu kamu sangat keras kepala." Wanita itu tersenyum samar. Khairi dan Afrin menatap layar televisi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


"Mas, tahu, kan, aku tidak punya keberanian yang besar di hadapan keluargamu. Itulah kenapa aku hanya berani menjelaskan lewat video ini. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Adam. Kami hanya berbincang waktu itu. Aku tahu aku telah membuat kesalahan karena datang ke rumah seorang duda, tapi sungguh, aku hanya datang untuk mengajari Adam membuat susu dan menggantikan anaknya popok. Aku tidak tega melihat seorang bayi terlantar begitu saja. Namun, ternyata semua memang disengaja. Adam sengaja memintaku datang dan membuatmu salah paham dan yang lebih menyakitkan, itu semua atas permintaan mamamu. Ternyata sampai detik ini beliau tidak menyukaiku. Aku ingin sekali mengatakannya padamu, tetapi setelah kupikirkan, apa mungkin kamu percaya padaku? Melihat bagaimana selama ini sikapmu padanya. Kamu selalu membelanya daripada aku." Air mata menetes dikedua pipinya. Sungguh sangat menyakitkan difitnah seperti itu.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan. Saat ini aku sedang hamil, kuharap kamu menjemputku setelah melihat video ini. Aku akan tinggal di tempat pertama kali kita bertemu. Aku akan menunggu di sana selama sebulan. Jika kamu tidak datang, berarti kamu memang tidak mempercayaiku lagi." Wanita itu tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih datar.


"Aku titip Khairi, jaga dia baik-baik. Ajarkan dia agama dengan baik. Jika kamu tidak mampu, kirim dia ke pesantren. Kamu tahu kalau aku yatim piatu, tidak punya tujuan yang tetap, tidak bisa membawanya." Diusapnya air mata yang menetes semakin derasnya dengan tersenyum.


"Aku akan menunggu kedatanganmu. Aku harap kamu segera datang."


Video pun selesai. Khairi tak dapat menyembunyikan perasaannya. Dia menangis dalam pelukan istrinya. Antara bahagia dan sedih. Bahagia karena dia bisa tahu bagaimana wajah ibunya, sedih karena papanya tidak membawa mamanya kembali dan membuatnya tidak mengenal seorang ibu.


Anak mana yang tidak merasa sedih, saat ibu yang selama ini dikatakan sudah meninggal, ternyata masih hidup. Bahkan dia juga memiliki saudara. Entah laki-laki atau perempuan. Betapa teganya sang papa memisahkan mereka.

__ADS_1


"Dia mamaku, dia masih hidup," ucap Khairi dengan terisak dalam pelukan sang istri.


Afrin membiarkan sang suami menumpahkan semua apa yang dirasakan pria itu. Baginya seorang laki-laki menangis bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itu akan membuat perasaan menjadi lega. Khairi pun tidak malu menangis di depan istrinya.


Siapa lagi memang yang bisa mendengar keluh kesah seorang suami selain istrinya. Keduanya diciptakan memang untuk saling melengkapi. Jangan sampai salah satunya justru mencari ketenangan di luar sana. Itu akan menjadi awal kehancuran sebuah rumah tangga.


"Iya, Mas. Nanti kita cari sama-sama," sahut Afrin dengan mengusap punggung suaminya.


Khairi hanya mengangguk, pria itu sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Semua membuatnya merasa bahagia sekaligus sedih. Dia teringat dengan buku diary yang dibawanya tadi dan berniat membacanya. Namun, Afrin mencegahnya. Sudah cukup kenyataan yang diterima suaminya hari ini.


Masih ada hari esok yang mungkin bisa menjadi lebih panjang dan melelahkan dari hari ini. Mereka harus menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Entah baik atau buruk.


"Mas, untuk hari ini cukup. Besok bisa dilihat lagi. Perasaan dan hati juga perlu istirahat. Ingat perjalanan masih panjang, kita masih harus mencari keberadaan mama kamu," ucap Afrin dengan pelan.


"Setidaknya kita berusaha, ayo, kita istirahat! Mas juga belum mandi."


Khairi mengangguk mengikuti sang istri. Tubuhnya memang lelah, tetapi hatinya jauh lebih lelah. Saat sang suami kamar bersihkan apa yang dibawa suaminya dari gudang. Dia harus menyimpannya agar suami tidak melihatnya untuk saat ini. Besok akan wanita itu serahkan.


Setelah selesai mandi, Khairi melihat istrinya berbaring di tempat tidur. Dia berniat keluar untuk melihat buku diary yang dibawanya tadi.


"Mas, mau ke mana? Sudah malam, ayo, tidur!" ajak Afrin.


"Aku mau ambil buku tadi."

__ADS_1


"Sudah aku simpan, sebaiknya tidur dulu. Besok kita baca," ucap Afrin.


"Tidak bisa, aku harus baca sekarang. Mana bukunya," pinta Khairi dengan menadahkan tangannya.


"Besok saja, Mas. Kamu sudah sangat lelah, besok masih banyak waktu."


"Sudahlah, Frin. Aku mau baca sekarang! Kamu jangan ikut campur!" bentak Khairi.


Afrin terkejut mendengarnya. Baru kali ini Khairi membentaknya dan memanggilnya dengan nama. Selama ini tidak pernah sekalipun pria itu memanggil nama, selalu memanggil sayang. Afrin pun segera mengambil buku itu dengan tubuh bergetar. Antara takut dan sedih.


Wanita itu memberikan buku diary dan semua yang dibawa Khairi tadi tanpa melihat ke arah sang suami. Afrin pun kembali membaringkan tubuhnya. Namun, kali ini dia membelakangi pia itu. Sungguh hatinya sangat terluka mendengar bentakan itu.


Sementara Khairi merasa bersalah sudah membentak istrinya. Akan tetapi, rasa penasarannya pada buku itu lebih besar karenanya dia memilih meneruskan niat untuk membacanya di ruang keluarga. Tanpa mau mengganggu istrinya yang tidur.


Afrin meneteskan air matanya setelah kepergian suaminya, Air mata kesedihan untuk pertama kalinya sepanjang mereka menikah.


'Apa aku salah melakukan hal itu? Aku hanya mengkhawatirkanmu,. Aku tahu kamu sudah sangat lelah. Kamu masih harus merawat papa. Masa lalu itu memang penting untukmu, tetapi bukan berarti kamu harus melupakan semua yang ada di masa kini,' tanya Afrin dalam hati.


Rasa penasaran yang besar memang bisa membutakan siapa pun. Bahkan terkadang membuat orang hilang akal. Perlu dampingan seseorang untuk membuat akalnya kembali sehat dan semua itu perlu kesabaran yang sangat besar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2