Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
49. Makan malam


__ADS_3

"Bunda!" teriak Afrin yang baru pulang sekolah.


"Assalamualaikum," sela Yasna.


"Waalaikumsalam."


"Lain kali kalau masuk rumah ucap salam dulu, nggak boleh teriak-teriak."


"Iya, Bunda."


"Ayo, mandi dulu! Setelah itu kita makan siang."


Yasna memandikan Afrin setelah itu mengajaknya makan siang.


"Afrin panggil Papa di ruang kerja sama Kakak di kamar, Bunda mau siapin makanannya."


"Iya, Bunda."


"Emran tidak kembali ke kantor, Na?" tanya Karina.


"Tidak, Ma. Mas Emran juga tidak keluar dari tadi."


"Pasti dia masih kepikiran masalah Aydin."


"Apa Aydin sering seperti ini, Ma?"


"Sejak masuk bangku SMP dan ini panggilan ke empat untuk Emran, padahal Aydin baru tujuh bulan masuk SMP."


Yasna mengaggukkan kepalanya mengerti. Semua orang sudah berkumpul di meja makan, tinggal Aydin yang belum keluar.


"Bik, tolong panggil Aydin," pinta Emran.


"Baik, Tuan," jawab Bik Ima.


Bik Ima menuju kamar Aydin, yang letaknya tidak jauh dari ruang makan.


"Den Aydin bilang belum lapar, Tuan."


"Ya sudah, terima kasih, Bik," ucap Emran. "Ayo, kita makan!"


"Bagaimana dengan Aydin, Mas?" tanya Yasna.


"Nanti kalau lapar juga makan, sudah kamu makan saja."


Meski masih kepikiran Aydin, Yasna tetap melanjutkan makannya walau tidak berselera. Yasna percaya dengan ucapan Emran kalau Aydin lapar pasti akan makan, tapi hingga waktu makan malam anak itu belum keluar juga, membuat Yasna tidak tenang.


"Aydin masih belum makan, Bik?" tanya Yasna.


"Belum, Bu. tadi bilang mau mengerjakan hukuman."


Yasna mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan ikan, juga segelas air. Ia akan membawanya ke kamar Aydin.


"Afrin sekarang makan sendiri, ya! Bunda mau bawa makanan buat Kakak."


"Iya, Bunda."

__ADS_1


"Tidak usah, Na. Nanti kalau Aydin lapar juga akan keluar." Emran mencoba mencegah Yasna.


"Tadi siang juga Mas berkata seperti itu, tapi sampai malam dia tidak keluar juga. Aku tidak bisa menelan makananku disaat ada anakku yang kelaparan." Yasna pergi menuju kamar Aydin.


Yasna mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tidak ada sahutan, Yasna mencoba mengetuk pintu lebih keras.


"Aydin! Ini Bunda bawain makanan, kamu belum makan dari siang, kamu pasti lapar," ucap Yasna dengan suara keras.


Aydin masih diam tidak menyahut.


"Bunda tahu kamu lapar jadi, Bunda bawain makanan ke sini, kamu masih ngerjain hukumannya? Bunda tunggu di depan pintu, ya ... nanti kita makan sama-sama, Bunda juga belum makan."


Yasna bersandar pada tembok di samping pintu kamar, tiba-tiba ia teringat masa kecilnya, ia juga pernah berbuat salah dan mendapat hukuman dari ibunya. Yasna teringat bagaimana ayah memberi nasehat jika apa yang dilakukan ibunya itu untuk kebaikannya, ayah juga berkata jika yang dilakukannya itu salah.


Yasna tersenyum mengingatnya, kini ia merasakan apa yang orang tuanya rasakan dulu.


Pintu kamar Aydin terbuka hingga membuyarkan lamunan Yasna, ia tersenyum pada anak sambungnya itu. Aydin membuka pintu mempersilakan Yasna masuk.


"Kamu makan dulu, nanti dilanjut hukumannya," ucap Yasna setelah duduk di tepi ranjang.


"Taruh saja di situ, nanti aku makan. Sebaiknya Tante makan."


"Bunda mau di sini nungguin kamu selesai makan."


"Aku nanti--


"Makan dulu, nanti dilanjut lagi," potong Yasna.


Afrin memakan makanan yang dibawa Yasna hingga habis, dia memang lapar, tapi kekesalannya menutupi semuanya.


"Mau cerita sama Bunda?" tanya Yasna setelah Aydin selesai makan.


"Bunda tahu kamu tidak bersalah, kenapa tidak membela diri?"


"Dari mana Tante tahu?"


"Uang pemberian papa sudah lebih dari cukup buat Aydin, apalagi ini awal bulan, uang Aydin pasti masih banyak jadi, tidak mungkin kamu memalak teman kamu."


"Dave yang memalak mereka, aku kasihan sama teman-teman yang hanya punya uang pas-pasan, bahkan mereka cuma punya uang buat naik angkot, tapi Dave tetap mengambilnya, rumah mereka jauh, kasihan mereka harus jalan kaki."


"Kenapa nggak lapor sama Pak Guru?"


"Dave anak kepala yayasan, nggak ada yang berani lapor."


"Teman-teman yang kamu tolong juga nggak ada yang membela kamu?"


"Mereka juga takut, mereka sekolah di sana karena beasiswa, Dave mengancam akan mencabut beasiswa mereka."


"Apa Aydin sering berkelahi dengan Dave itu?"


Aydin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Besok Bunda bantu cari solusinya, sekarang kamu istirahat, besok saja dilanjut nulisnya."


Tanpa mereka ketahui, Emran berdiri di depan pintu kamar Aydin sejak Yasna masuk jadi, ia mendengar semua yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Aku belum ngantuk."


"Istirahat bukan berarti harus tidur, tubuh juga perlu istirahat," ujar Yasna. "Bunda keluar, ya."


Yasna meninggalkan Aydin sendirian di kamarnya, ia kembali ke meja makan karena belum makan. Semua orang masih di sana menunggu kedatangan Yasna, mereka ingin tahu, apakah Aydin sudah makan?


"Aydin sudah mau makan, Na?"


"Sudah, Ma ... Mama belum makan?" tanya Yasna saat melihat piring Karina yang masih penuh.


"Mama nungguin kamu."


"Kenapa nungguin aku? Ya sudah karena sekarang Aydin sudah makan, kita juga harus makan."


Karina mengangguk, betapa beruntungnya dia memiliki menantu seperti Yasna, seorang wanita yang begitu menyayangi anak dari suaminya seperti menyayangi anaknya sendiri.


*****


"Kamu tadi bicara apa sama Aydin?" tanya Emran, saat ini ia dan istrinya ada di kamar, bersiap untuk tidur.


"Seperti yang Mas dengar."


"Dari mana kamu tahu aku ada di sana?"


"Dari parfum yang Mas pakai. Saat aku membuka pintu, aku mencium bau parfum Mas di sana dan aku yakin pasti Mas menguping."


"Aku hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan, Aydin orang yang sulit berinteraksi, itulah kenapa aku tidak pernah tahu apa yang dia inginkan."


"Sulit bukan berarti tidak bisa, kan? Bicara dengan Aydin hanya perlu dari hati ke hati."


"Aku beruntung memiliki istri pengertian sepertimu." Emran memeluk Yasna. "Na, bolehkah aku meminta hakku malam ini?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Yasna malu, ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Emran langsung menyerang Yasna dan terjadilah apa yang harusnya terjadi.


(maaf ya saya tidak menjelaskan secara detail, lebih baik dipikirkan sendiri-sendiri saja, takut ada anak dibawah umur yang membaca).


*****


Pagi ini semua keluarga sudah berkumpul di meja makan, mereka menikmati sarapan pagi dengan begitu lahap.


"Kakak nggak sekolah?" tanya Afrin.


"Kakak sekolahnya libur." jawab Aydin.


"Aku juga mau libur."


"Nggak boleh seperti itu, Kakak libur karena memang sekolahnya libur, kalau Afrin sekolahnya kan masuk!" ucap Yasna. "Ayo, Bunda antarin!"


Afrin tetap pergi ke sekolah dengan wajah cemberut, membuat Yasna gemas.


Setelah mengantar Afrin, Yasna pergi ke sebuah toko yang menjual CCTV, ia memilih yang berbentuk bolpoin agar tidak terlihat, ia akan memberikan itu pada Aydin untuk merekam semua kejadian. Ia tidak ingin melihat Aydin disalahkan atas apa yang tidak dia lakukan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2