
Seperti janjinya semalam bahwa hari ini, Aydin membuat janji dengan Airin. Wanita itu yang memilih tempat untuk mereka. Disebuah restoran tidak jauh dari tempat Aydin bekerja, tempat yang sebelumnya pernah mereka kunjungi bersama. Airin juga yang memesan meja di ruang privat.
Aydin sengaja datang terlambat. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Airin melihatnya telat. Sampai mana wanita itu bersabar menunggunya hingga satu jam. Pria itu tersenyum sinis melihat Airin tetap tersenyum ke arahnya.
"Maaf, aku terlambat," ucap Aydin yang baru saja datang.
"Tidak apa-apa, aku juga baru datang," sahut Airin dengan tetap tersenyum.
"Kamu sudah pesan makanan?"
"Belum, baru minuman saja."
Aydin pun memanggil pelayan dan memesan makanan. Begitupun dengan Airin.
"Mau bicara apa? Katanya ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Aydin setelah kepergian pelayan. Dia tidak ingin berlama-lama di sini.
"Aku ingin minta maaf. Aku akui, aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, tapi aku melakukan semua itu karena terpaksa. Aku membutuhkan banyak uang untuk pengobatan ayah ke dokter."
"Bukannya kamu sudah menjelaskan sebelumnya? Untuk apa dijelaskan lagi? Aku masih mengingatnya."
"Aku ingin kita bisa bersama seperti dulu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Kamu mau, kan, memaafkanku dan kita bersama kembali."
Ayin terdiam sambil menatap gadis yang ada di depannya ini. Bagaimana bisa dia tidak tahu malu seperti itu? Hanya karena pria itu kaya, Airin meminta Aydin untuk kembali bersama. Apa wanita itu pikir, semua laki-laki itu sama bodohnya.
Padahal sebelumnya, saat mereka putus. Airin menerima begitu saja tanpa ada usaha untuk kembali bersama, tapi kini dia seolah memohon untuk bisa kembali. Itu semakin membuat Aydin merasa jijik.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima kamu kembali. Kita sudah sangat berbeda prinsip. Kamu tahu maksudku, bukan?"
"Aku sudah berhenti dari semua ini. Aku ingin bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencari uang yang halal. Kita bisa bersama-sama lagi setelah ini."
"Tapi, sayangnya Aku tidak suka barang bekas. berapa laki-laki yang sudah menikmati tubuhmu dan sekarang aku harus menerima bekas mereka? Maaf, jika kata-kataku terlalu kasar. Aku tahu kalau kamu ingin kembali bersamaku karena tahu aku adalah anak dari pemilik perusahaan, tapi sayang aku sama sekali tidak tertarik lagi denganmu. Apa lagi dengan keadaan yang seperti ini, memohon hanya karena kekayaan."
__ADS_1
"Aku yakin kamu masih memiliki perasaan terhadapku. Aku akan berubah lebih baik lagi. Apa tidak ada kesempatan untukku untuk berubah?"
"Kamu terlalu percaya diri sekali. Meskipun aku masih memiliki perasaan padamu. Kalau kamu mau berubah silakan, tapi untuk kembali bersama, maaf, aku tidak bisa. Lebih baik aku sendiri seumur hidup."
"Kenapa kata-katamu kasar sekali? Ini bukan Aydin yang aku kenal. Aydin yang kenal orang yang sangat lembut dan perhatian."
Airin mencoba untuk mempengaruhi Aydin seperti biasanya. Namun, dia salah, pria itu bukanlah Aydin yang dulu dikenalnya. Setiap orang bisa berubah. Begitupun dengan mantan kekasihnya itu.
"Terserah kamu menilai aku seperti apa. Bahkan aku bisa lebih kejam pada orang yang Mengusik ketenanganku. Jangan harap semua orang bisa berbuat baik kepadamu. Kita hidup dalam dunia nyata bukan dalam mimpi jadi, jangan harap semua orang bisa melakukan semua sesuai keinginanmu," ucap Aydin. "Selera makanku tiba-tiba hilang. Silakan nikmati saja makannya. Aku harus segera kembali pulang, di sana makanannya jauh lebih lezat. Kamu tenang saja, aku akan membayarnya jadi, kamu tidak perlu mengeluarkan uang."
Aydin segera beranjak menuju tempat kasir dan membayar makanan yang dia pesan tadi. Setelah itu dia pergi. Pria itu terlalu muak dengan wanita-wanita seperti Airin. Aydin memang pernah memiliki perasaan terhadap wanita itu, tapi dia juga tidak mau diatur oleh siapa pun.
Aydin melajukan motornya menuju rumah. Dia tidak memiliki tujuan lain selain ke rumahnya. Saat berhenti di lampu merah, pria itu melihat Nayla sedang bersama dengan seorang pria. Mereka terlihat sangat dekat bahkan sesekali mereka tertawa bersama.
Aydin hanya bisa melihatnya saja. Ada sedikit rasa penyesalan saat teringat kejadian dia marah karena bundanya, yang berusaha menjodohkan pria itu dengan Nayla. Sekarang terbukti pilihan bundanya memang tepat dan pilihannya lah yang salah.
Afrin saja mengerti jika apa pun pilihan orang tua pasti sudah tepat, tapi Aydin sama sekali tidak berpikir seperti itu. Pria itu kembali melajukan motornya. Tidak berapa lama akhirnya dia sampai juga di rumah.
"Waalaikumsalam," ucap Yasna yang sedang menonton acara televisi seorang diri. Aydin mencium punggung tangan Wanita itu.
"Papa sama adek mana, Bunda?"
"Papa lagi mandi, kalau adek di kamar nggak tahu lagi ngapain. Mengerjakan tugas mungkin. Kamu kok telat pulangnya?"
"Iya, tadi ketemu teman sebentar," jawab Aydin tidak sepenuhnya berbohong. Pria itu memang menemui mantan yang sudah dia anggap sebagai teman.
"Ya sudah, sana mandi! Setelah itu, kita makan sama-sama."
"Iya, Bunda." Aydin segera memasuki kamarnya. dia memikirkan pria yang sedang bersama Nayla di mobil tadi. Entah kenapa ada sedikit rasa tidak rela melihat kebersamaan mereka.
Aydin seperti pernah melihatnya, tapi dimana? dia mencoba mengingat. Namun, pria itu tidak ingat sama sekali. Aydin lupa bertemu di mana. Tidak mau terlalu banyak berpikir, akhirnya dia memasuki kamar mandi dan segera mandi.
__ADS_1
Sementara di ruang keluarga Emran sedang duduk, menemani sang istri yang sedang menonton sinetron favoritnya. Meski pria itu tidak menyukai apa yang istrinya tonton.
"Anak-anak belum keluar, Sayang?" tanya Emran.
"Belum, Mas. Aydin baru saja pulang mungkin masih mandi. Kalau Afrin mungkin lagi mengerjakan tugas. Biarkan saja nanti saat makan malam, aku akan memanggil mereka," jawab Yasna tanpa mengalihkan pandangannya.
Bel rumah berbunyi beberapa kali. Rani keluar untuk membukanya dan tidak lama dia kembali memberitahu majikan, jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan mereka.
"Maaf, Tuan, Bu Yasna. Di depan ada Pak Romi dan istrinya ingin bertemu," ucap Rani.
Yasna dan Emran saling pandang, seolah saling bertanya, untuk apa Pak Romi dan istrinya datang berkunjung malam-malam?
"Ayo, kita keluar, Sayang. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan."
Mau tidak mau Yasna mengikuti suaminya. Dia tidak mungkin membiarkan tamunya menunggu. Meski dalam hati, dia sudah sangat kesal.
"Banyak sekali, sih, yang ingin menjodohkan anaknya dengan putraku," gerutu Yasna dengan tetap mengikuti suaminya keluar.
"Sudah, jangan menggerutu. Nggak enak didengar Pak Romi," tegur Emran.
Sebenarnya dia juga tidak nyaman dengan kehadiran Pak Romi bersama keluarganya, tapi pria itu juga tidak enak jika tidak menyapanya. Mengingat betpa loyalnya Pak Romi terhadap perusahaan.
.
.
.
.
.
__ADS_1