Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
54. Tidak apa-apa


__ADS_3

"Memang tidak ada tanda pengenal apapun yang dia bawa?" tanya Yasna.


"Tidak ada, hanya ada uang tujuh puluh ribu di saku celananya," jawab Fazilah.


"Terus kita hubungi siapa? Kalau keluarganya mencari bagaimana?" tanya Yasna.


"Kita tunggu dia sampai sadar," jawab Emran.


Fazilah merasa bersalah, harusnya dia lebih berhati-hati saat menyeberang, kini orang lain yang harus menanggungnya.


Tidak berapa lama Alina datang dengan tergopoh-gopoh, ia mengetahui kabar dari pesan yang dikirim Yasna.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Ibu!" mereka menyalami Alina bergantian.


"Ibu, tahu dari mana aku di sini?" tanya Fazilah.


"Tadi Ibu dapat pesan dari Yasna, segera Ibu ke sini, kenapa bisa seperti ini? Kamu nggak lihat-lihat nyebrangnya?"


"Kenapa harus kasih tahu Ibu sih, Na. Aku juga nggak pa-pa, kamu itu ngerepotin Ibu saja."


"Eh, siapa yang repot, justru Ibu akan khawatir jika belum lihat keadaan kamu."


"Kalau aku nggak kasih tahu Ibu, pasti dia akan ngomel sepanjang jalan kereta api, saat tahu dari orang lain mengenai apa yang menimpamu," sahut Yasna.


Fazilah merasa senang bisa mendapatkan keluarga baru setelah berteman dengan Yasna, ia terharu dengan kasih sayang yang Alina berikan padanya. Alina juga menganggap Fazilah seperti Yasna putrinya sendiri, ia tidak pernah membedakan mereka berdua.


"Terima kasih ya, Bu," ucap Fazilah.


"Kamu ini seperti sama siapa saja, kamu belum jawab pertanyaan Ibu, kenapa kamu bisa sampai seperti ini?"


"Aku kurang hati-hati, Bu."


"Orang yang nolong kamu, bagaimana keadaannya?"


"Masih belum sadar."


Ponsel Yasna yang ada di dalam tas berdering, ada panggilan masuk dari rumah, segera Yasna mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum."


"Na, Afrin dari tadi nangis, katanya kamu janji mau main sama dia," ucap Karina di seberang telepon.


"Iya, Ma, tadi memang aku janji sama dia, tapi Fazilah nggak ada yang jaga."


"Kamu pulang saja, Na. Biar Ibu yang jaga Fazilah di sini, nanti juga ayah ke sini," sela Alina.


"Iya, Na, kamu pulang saja, aku juga udah nggak pa-pa," sahut Fazilah.


Yasna sebenarnya masih ingin menemani sahabatnya itu, tapi di rumah ia juga punya tanggung jawab.


"Sebentar lagi aku pulang, Ma. Bilang sama Afrin suruh tunggu sebentar," ucap Yasna pada Karina yang berada di seberang telepon.


"Iya, akan Mama sampaikan, kamu hati-hati, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Yasna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, ia mengajak suaminya pulang.


"Ayo, Mas! Kita pulang," ajak Yasna. "Ibu benar tidak apa-apa sendiri jagain Fazilah?"


"Tidak apa-apa, lagian di sini ramai, memang apa yang harus ditakutkan."


"Ya sudah, kami pulang dulu, kamu cepat sembuh, ya, Fa," ucap Yasna.


"Iya, terima kasih sudah datang," sahut Fazilah.


"Kami pamit, Bu." Emran mencium punggung tangan Alina diikuti Yasna.


Emran menggenggam telapak tangan Yasna, mereka berjalan beriringan di sepanjang koridor rumah sakit, banyak pasang mata yang memperhatikannya, ada yang iri, ada pula yang tersenyum malu.


*****


"Sudah dong, Sayang. Jangan nangis lagi, sebentar lagi bunda pulang," bujuk Karina.


"Kenapa lama, Oma."


"Kan tempatnya jauh jadi, lama perjalanannya."


"Aku tunggu bunda di depan saja." Afrin berjalan ke depan sambil mengusap sisa-sisa air matanya.


Karina menghela nafas, sejak kehadiran Yasna di rumah ini, Afrin selalu bergantung pada Yasna, itu membuat Karina merasa tidak enak, sebagai seorang wanita ia tahu, ada kalanya kita ingin menghabiskan waktunya seorang diri, entah itu ke salon atau berbelanja di mall.


'Semoga Yasna tidak merasa terbebani dengan tingkah Afrin,' batin Karina.


Suara mesin mobil memasuki halaman rumah Emran, seperti perkiraan Afrin yang datang adalah Yasna dan Emran.


Yasna segera turun dan menghampiri Afrin.


"Anak Bunda yang cantik kenapa nangis?"


"Cali Bunda."


"Bunda tadi jenguk Tante Fazilah di rumah sakit, anak kecil nggak boleh ikut, nanti sakit."


"Nggak ada yang nyari Papa nih?" tanya Emran.


"Nggak." Afrin menjawab dengan polosnya, membuat Yasna tertawa mendengarnya.


"Sudah, ayo, masuk!" ajak Yasna.


Mereka memasuki rumah, tampak Aydin sedang di ruang tengah sedang menonton TV. Emran memang belum memberikan ponsel, laptop dan lainnya milik Aydin, itu atas perintah Karina, karena semenjak tidak ada itu semua, Aydin jadi lebih sering berinteraksi dengan semua orang terutama Yasna.


"Afrin duduk di sini sama Kakak, Bunda mau mandi dulu," ucap Yasna. "Kakak jagain adiknya, ya!"


Yasna pergi meninggalkan kedua anaknya, menuju kamar untuk membersihkan diri.


"Mas dulu yang mandi atau aku?" tanya Yasna.


"Bareng aja, gimana?"

__ADS_1


"Yang ada malah makin lama."


Emran memeluk Yasna, ia sangat bahagia memiliki istri sebaik Yasna, benar kata mamanya, ia akan menyesal kalau sampai kehilangan Yasna.


"Terima kasih, Na. Kamu begitu baik, menyayangi dan mencintai anak-anakku dengan tulus," bisik Emran disela pelukan mereka.


"Mereka juga anak-anakku, tentu aku menyayangi mereka ... sudah Mas, mereka nungguin kita."


"Mereka cuma nungguin kamu," kilah Emran.


"Apa Mas sekarang cemburu?"


"Tentu, Afrin selalu mencarimu, hingga waktu kebersamaaan kita berkurang."


Yasna segera melepas pelukannya, ia menatap Emran, bagaimana suaminya itu bisa berpikir seperti itu? Emran tertawa melihat reaksi Yasna.


"Sudah sana mandi," ucap Emran.


"Aku kira Mas cemburu karena Afrin lebih dekat denganku dari pada sama Mas, ternyata cemburunya karena waktu kita yang berkurang."


Yasna masuk ke kamar mandi dengan menggerutu, membuat Emran terkekeh, ia memang tidak pernah cemburu melihat kedekatan mereka, justru ia sangat senang melihatnya.


*****


Satu minggu telah berlalu, tapi Aydin belum mendapatkan buktinya. Dave sepertinya sudah berubah, ia tidak lagi membuat masalah.


"Bagaimana? Apa sudah ada bukti?" tanya Yasna.


"Belum, Dave jadi pendiam akhir-akhir ini."


"Kamu sabar saja, mungkin belum waktunya atau mungkin dia memang sudah berubah. Teman kamu lainnya nggak ada yang jahatin kamu, kan?"


"Tidak ada, Tante."


Yasna sebenarnya ingin sekali Aydin mau memanggilnya bunda, tetapi ia tidak mau memaksakan keinginannya, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu semua akan seperti yang ia inginkan.


Sementara itu, di sebuah rumah sakit, seorang pria mulai membuka matanya, dia adalah orang yang menolong Fazilah. Pria itu mengedarkan pandangannya, mencoba mencari tahu keberadaannya saat ini.


"Kamu sudah sadar? Sebentar, aku panggilkan dokter." Fazilah menekan tombol di atas ranjang.


Fazilah memang sudah sembuh, itu karena memang keadaannya yang tidak terlalu parah.


Seorang dokter datang bersama dengan seorang suster di belakangnya, ia memeriksa keadaan pria itu.


"Apa Anda bisa bicara? Apa yang Anda rasakan?" tanya Dokter.


"Kepala saya sakit," jawab pria itu.


"Apa Anda masih ingat, kenapa Anda bisa berada di sini?"


Pria itu berpikir sejenak, tapi tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2