Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
235. S2 - Ivan menyukai Rani?


__ADS_3

Afrin terbangun saat mendengar azan subuh. Dia menggeliat merasakan pelukan seseorang, wanita itu tahu jika yang memeluknya adalah sang suami. Namun, Afrin merasa aneh saat mencoba membuka matanya. Dia merasa seperti berada di kamar pribadinya.


Wanita itu segera bangun dan melihat sekeliling, ternyata benar itu adalah kamarnya. Bagaimana bisa dirinya berada di sini? Afrin mencoba mengingat kejadian semalam, saat dirinya diajak oleh Khairi makan malam dan saat pulang dia tertidur.


Berarti semalam Khairi tidak membawanya pulang ke rumah mertuanya, melainkan ke rumahnya sendiri. Akan tetapi,


"Selamat pagi, Sayang?" sapa Khairi lalu, mencium pipi istrinya.


"Mas, kok, kita ada di sini?"


"Habisnya kamu semalam ketiduran. Aku jadi sendirian, daripada aku nyetir sendiri nggak ada teman, lebih baik pulang ke sini. Lebih dekat dan aku juga sudah sangat mengantuk," jawab Khairi beralasan.


Afrin mengangguk sambil menerawang. Dia sendiri sangat mengantuk, apalagi Khairi yang kemarin pergi ke mall.


"Ayo, salat subuh dulu! Keburu fajar," ajak Afrin.


Khairi pun melaksanakan salat subuh di dalam kamar. Sementara wanita itu melihat laptopnya sudah ada di kamar, segera dia membukanya. Ternyata semua tugasnya sudah selesai. Afrin yakin pasti suaminya yang mengerjakannya.


"Mas, laptopku, kok, bisa berada di sini?" tanya Afrin pada suaminya.


"Iya, semalam Ivan yang ngambil di rumah."


"Kak Ivan juga yang ngerjain tugasku?"


"Ya nggak lah, Sayang. Yang ngerjain aku, mana berani Ivan buka barang milik kamu," jawab Khairi dengan menahan kekesalannya.


Bisa-bisanya Afrin berpikir jika Ivan yang mengerjakan tugasnya. Semalaman dia tidak tidur hanya demi mengerjakan tugas istrinya, tetapi justru orang lain yang dikira mengerjakan tugasnya.


"Aku kirain kak Ivan juga," sahut Afrin terkekeh. "Terima kasih, ya, Mas."


"Kira-kira kapan, nih, aku dapat imbalannya?"


"Memangnya mas minta imbalan apa? Jangan yang mahal-mahal!"


"Nggak mahal, Sayang. Aku cuma mau malam pertama kita. Kapan kamu selesainya?"


"Ya ampun, baru juga kemarin. Biasanya satu minggu."


"Aduh, kenapa datangnya pas kita nikah, sih! Kenapa enggak kemarin-kemarin saja."


"Kamu ada-ada saja. Setiap bulan juga datang."


Khairi merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutupi wajahnya dengan bantal, membuat Afrin menahan tawa.


Sebagai seorang pria dewasa, Khairi merasa tersiksa setiap kali bersama istrinya. Terutama di malam hari. Mau bagaimana lagi, dia bukan pria brengs*k yang bisa mencari kesenangan di luar sana. Hanya Afrin yang mampu membuatnya bertekuk lutut.


"Ya udah, Mas. Aku mau turun dulu, kamu mau dibuatin teh atau kopi?"


"Nggak usah, Sayang. Nanti saja waktu sarapan, aku mau jus. Terserah jus apa, asal jangan durian. Aku tidak suka."


"Iya," sahut Afrin. "Aku turun dulu."

__ADS_1


Afrin pergi meninggalkan suaminya di kamar seorang diri. Dia menuju dapur, di sana tampak Rani seorang diri.


"Selamat pagi, Mbak Rani," sapa Afrin.


"Selamat pagi, Non Afrin."


"Bunda mana, Mbak? Tumben belum kelihatan."


"Belum keluar, Non. Mungkin tidur lagi. Ibu, kan, enggak tahu kalau Non Afrin pulang."


"Tadi malam yang bukain Mbak Rani?"


"Iya, ada Tuan Emran juga."


"Sayang, kamu ada di sini!" seru Yasna yang baru datang.


"Iya, Bunda." Afrin memeluk sang Bunda.


"Sejak kapan kamu ke sini?"


"Aku juga nggak tahu."


Yasna menyernyitkan keningnya, dia heran dengan jawaban putrinya. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau ada di sini.


"Semalam Non Afrin ketiduran, Bu. Tuan Khairi yang menggendongnya, makanya dia tidak tahu," sahut Rani seolah tahu apa yang Yasna pikirkan.


"Oh begitu, kuat juga, ya, Khairi gendong kamu," ucap Yasna sengaja menggoda putrinya.


"Ya sudah, hari ini kita masak banyak. Ayo!" seru Yasna.


"Pagi semua," sapa Nayla.


"Selamat pagi, Kak."


"Kamu ada di sini?"


"Iya, Kak, dari semalam," jawab Afrin. "Nuri mana?"


"Ada di kamar, masih tidur, semalam badannya demam. Sekarang sudah enakan. Makanya tidur."


"Memang kenapa bisa sampai demam?"


"Kemarin waktu jalan, kepalanya kepentok meja lumayan keras. Jadinya demam."


Afrin menganggukkan kepala. Dia mengerti jika keponakannya itu memang mudah sekali sakit. Berbagai pengobatan sudah gadis kecil itu lakukan, tetapi tetap saja hasilnya sama.


"Khairi sukanya apa, Sayang?" tanya Yasna.


"Dia makan apa saja, Bunda. Nggak pernah pilih-pilih makanan juga. Kecuali minuman, dia enggak suka jus durian atau minuman apa pun yang rasa durian, bisa muntah dia," jawab Afrin.


"Padahal, kan, durian enak," sela Rani.

__ADS_1


"Entahlah, Aku juga nggak tahu."


"Kalau kamu makan durian, bagaimana, dhek?"


"Sampai detik ini aku nggak pernah makan durian di depan dia. Aku jadi membayangkan hal itu," jawab Afrin dengan terkekeh.


*****


"Kamu tidak membawa baju ganti, Ri? Kamu bisa pakai baju Papa," ucap Emran saat melihat menantunya masih memakai pakaian yang sama seperti semalam.


"Tidak usah, Pa. Sebentar lagi juga Ivan datang bawain baju buat saya," jawab Khairi.


"Kamu sudah mulai kerja, Mas?" tanya Afrin.


"Iya, pagi ini aku ada meeting yang harus aku hadiri," jawab Khairi yang diangguki Afrin.


Mereka pun melanjutkan sarapannya. Tidak berapa lama, akhirnya yang ditunggu sampai juga. Ivan datang dan menyerahkan papper bag kepada atasannya itu dan menunggunya di luar. Tiba-tiba Rani keluar, wanita itu ingin membersihkan halaman.


Ivan sedari tadi curi-curi pandang ke arah Rani. Saat pandangan mereka bertemu, wanita itu tersenyum kepadanya. Membuat asisten Khairi itu salah tingkah. Rani yang melihat Ivan hanya diam tidak membalasnya, berpikir jika teman atasannya itu tidak menyukainya.


Rani melanjutkan pekerjaannya, dia tidak lagi melihat Ivan. Wanita itu tidak mau dibilang ganjen atau semacamnya.


"Mbak Rani, tamunya kok gak dibikinin minum?" tanya Afrin yang baru saja keluar.


"Oh, iya, saya lupa, maaf," sahut Rani berjalan mendekati Afrin.


"Tidak usah, Non. Saya juga cuma sebentar, setelah ini mau berangkat ke kantor," sahut Ivan.


"Maaf, ya, Mas. Saya lupa," ucap Rani lagi.


"Tidak apa-apa, Mbak." Jantung Ivan sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Saat mendengar Rani berbicara dengannya.


Afrin melihat tingkah Ivan merasa aneh sepertinya asisten suaminya itu sedang gugup. Sesekali dia juga melirik ke arah Rani. Dia bisa menyimpulkan jika Ivan menyukai ART-nya itu. Kebetulan sekali karena Bik Rahmi ingin menjodohkan Rani dengan pria pilihannya, tetapi wanita itu menolak dan masih ingin tetap tinggal di sini.


"Ada apa ini, Sayang?" tanya Khairi yang baru saja keluar.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Ini Mbak Rani, dia lupa tidak membuatkan minum untuk Kak Ivan."


"Tidak apa-apa, kita juga mau berangkat, kok!" sahut Khairi. "Aku berangkat dulu, ya, sayang."


"Iya, Mas, hati-hati." Afrin mencium punggung tangan Khairi yang dibalas pria itu dengan mengecup keningnya.


Khairi dan Ivan pergi meninggalkan rumah itu menyisakan Afrin dan Rani yang masih berdiri di teras rumah.


"Mbak Rani suka nggak sama Kak Ivan?" tanya Afrin dengan memberikan tatapan menggoda ke arah asistennya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2