
Mobil yang dikemudikan oleh Emran, telah sampai di depan rumah Yasna, mereka semua turun dan memasuki rumah.
"Nak Emran, duduk dulu. Biar Ibu buatin teh hangat," ujar Alina.
"Tidak perlu, Bu. Ibu juga pasti capek," tolak Emran.
"Sudah, duduk saja. Tidak baik menolak rezeki," sahut Hilman.
"Iya, Pak," sahut Emran.
Yasna keluar membawa nampan berisi dua gelas teh hangat, Emran yang melihatnya segera berdiri dan meraih nampan itu.
"Kamu istirahat saja, kamu belum sembuh benar," ucap emran pada Yasna.
"Aku sudah tidak apa-apa, kalau istirat terus makin sakit," kilah Yasna.
"Yasna memang seperti itu, Nak Emran. Jangan terkejut melihatnya," sela Alina yang baru keluar.
"Ibu, aku memang tidak kenapa-napa," sahut Yasna.
"Iya, kamu sudah sehat, sehat sekali malah," sindir Alina.
Yasna kesal bercampur malu, ia pergi ke kamar dengan cemberut.
"Eh, mau kemana?" tanya Alina.
"Ke kamar, istirahat, biar cepat sembuh," jawab Yasna tanpa menoleh.
Alina terkekeh mendengar jawaban Yasna. Hilman menggelengkan kepala melihat tingkah istri dan anaknya itu. Mereka kadang terlihat seperti teman, kadang juga saling sindir dan saling ejek, meski begitu Yasna sangat menghormati dan menyayangi Ibunya.
"Kamu maklumi saja tingkah mereka, kadang mereka seperti perangko yang tidak bisa lepas, kadang juga seperti musuh, saling membunuh," ucap Hilman pada Emran.
"Iya, Pak," sahut Emran tersenyum.
"Diminum dulu tehnya," ucap Hilman.
"Iya, Pak. Terima kasih," sahut Emran.
Emran senang melihat keluarga Yasna yang terlihat apa adanya, ia yakin jika Yasna menjadi istrinya, ia dan anak-anaknya akan sangat bahagia.
Cukup lama Emran di sana, akhirnya ia pamit, setelah makan siang ia ada meeting. jadi, ia harus ke kantor sekarang untuk menyiapkan semua berkas, meski ia sudah memiliki sekretaris, ia lebih suka mengerjakan sendiri.
"Pak, Bu, saya mau pamit. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," pamit Emran.
"Sebentar lagi waktu makan siang, kamu makan siang di sini saja dulu," tawar Alina.
"Tidak bisa, Bu. Saya ada meeting nanti. jadi, saya harus menyiapkannya dari sekarang," tolak Emran.
"Sebentar, Ibu panggil Yasna," ucap Ibu.
"Tidak usah, Bu. Yasna pasti sedang istirahat, kasihan pasti masih nggak enak badan," sela Emran.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Emran mencium punggung tangan Hilman dan Alina sebelum pergi.
"Yah, apa Ayah setuju jika Yasna menikah dengan Emran?" tanya Alina.
"Emran pria yang baik, begitu pun dengan keluarganya, tapi semua terserah Yasna, mau apa tidak," jawab Hilman.
Alina mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Suaminya, ia juga dapat melihat jika Emran pria yang sangat baik. Apalagi pria itu sudah memiliki dua anak jadi dia tidak akan menuntut Yasna. Namun, semua keputusan ada di tangan Yasna.
*****
Hari ini Tisya datang ke perusahaan Emran, ia ingin mengajak pria itu makan siang. Namun, langkahnya dihentikan oleh sekretaris Emran.
"Maaf, Bu. Pak Emran tidak ada di ruangan," ucap Hendra, sekretaris Emran.
Emran memang memilih sekretaris laki-laki. Ia merasa tidak nyaman bekerja dengan seorang wanita. Apalagi kebanyakan sekarang, yang melamar sebagai sekretaris, rata-rata memakai baju seksi.
"Kemana? Apa ada meeting? Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Tisya.
"Saya tidak tahu, Bu. Pak Emran belum datang sejak pagi. Beliau hanya bilang ada urusan keluarga," jawab Hendra.
"Kemana dia?" gumam Tisya.
"Selamat siang, Pak," sapa Hendra.
"Siang," sahut Emran.
"Kamu dari mana, Ran? Kenapa siang baru ke kantor?" tanya Tisya.
"Ada urusan ... kamu ada apa ke sini?" tanya Emran.
"Aku mau ngajak kamu makan siang di luar," jawab Tisya.
"Maaf, aku sudah makan siang baru saja, sebentar lagi aku juga ada meeting jadi, aku tidak menerima tamu." Emran berbohong, padahal sebenarnya ia belum makan.
Saat Emran akan pergi, Tisya menahannya.
"Kamu kenapa sekarang berubah? Sekarang kamu selalu menghindariku, apa aku berbuat salah sama kamu?" tanya Tisya.
"Tidak, hanya saja, aku harus menjaga hati dan perasaan seseorang?" jawab Emran.
"Apa maksudmu?"
"Yasna, dia adalah calon istriku dan calon ibu untuk anak-anakku, aku tidak ingin menyakitinya."
"Jadi, apa yang aku pikirkan selama ini benar, kalau kalian memiliki hubungan?"
__ADS_1
"Iya benar, aku ingin dia menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, bukan wanita lain dan tidak akan ada wanita lain, termasuk kamu."
"Lalu selama ini kamu anggap aku apa? Kita sudah dekat sejak lama, apakah kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapku?"
"Sejak awal kita dekat, aku sudah katakan jangan berharap banyak padaku, carilah pria lain, tapi kamu sendiri yang ngotot tidak ingin pergi. Bahkan terakhir kali kamu memarahi Aydin, aku juga katakan, kalau kamu tidak perlu lagi datang ke rumah."
"Emran ....
"Kamu tahu kenapa aku memilih Yasna? Karena dia memiliki jiwa seorang ibu, Aydin berkali-kali menjahilinya, tapi dia tidak pernah sekalipun marah. Bahkan saat Aydin hampir tertabrak motor, dia lah yang menyelamatkan nyawa putraku, tanpa peduli dengan dirinya sendiri. Sedangkan kamu, hanya karena baju kamu yang robek, kamu memarahi anakku dengan kata-kata yang tidak pantas. Lalu apa alasan yang mengharuskanku memilihmu dan melepaskan wanita sebaik Yasna?"
"Tapi aku lebih dulu mengenalmu dari pada dia."
"Itu tidak menjadi alasan untuk aku memilihmu, banyak wanita yang mengenalku lebih dulu dari pada kamu dan aku melepas mereka dengan alasan yang sama seperti kamu," sahut Emran. "Hendra antar Tisya ke bawah."
"Baik, Pak," sahut Hendra. "Mari, Bu! Saya antar."
"Tidak perlu," tolak Tisya, dengan kesal ia segera pergi dari perusahaan Emran. Ia berjanji tidak akan menyerah begitu saja, ia sudah sampai sejauh ini dan dia tidak akan mundur.
"Syukurlah kalu Pak Emran tidak jadi menikah dengan Bu Tisya, aku tidak perlu tekanan batin tiap hari," gumam Hendra.
*****
Usai makan siang, Emran dan Hendra pergi ke sebuah restaurant tempat ia membuat janji dengan kliennya.
"Maaf, menunggu lama," ucap seseorang yang baru datang dan dia adalah klien Emran.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga baru datang," sahut Emran dan mereka saling berjabat tangan.
"Pak Emran!" seru seorang wanita disamping klien Emran.
"Kamu! Temannya Yasna, kan?" tanya Emran.
"Iya, Pak. Nama saya Fazilah, kita belum kenalan sebelumnya, mungkin karena gugup Yasna lupa mengenalkan kita," ucap Fazilah tersenyum.
"Iya, saya Emran. Silakan duduk," ucap Emran.
"Terima kasih," sahut klien Emran.
Emran memanggil pelayan dan memesan makanan ringan dan minuman.
Mereka membahas tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Fazilah dan Hendra juga ikut larut dalam pembahasan.
.
.
.
.
.
__ADS_1