Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
241. S2 - Pindah ke apartemen


__ADS_3

"Pa, Ma, kami pamit mau pindah ke apartemen," pamit Khairi pada kedua orang tuanya.


"Iya, kalian hati-hati. Jangan lupa kalau ada waktu main ke sini," ucap Mama Merry.


"Iya." Khairi dan Alvin pergi meninggalkan rumah keluarga Hamdan. Mereka menuju apartemen.


Sebelumnya Afrin juga sudah mengatakan kepada Yasna bahwa dirinya kan tinggal di apartemen. Sang bunda sempat marah padanya karena sebelum itu dia mengatakan bahwa dirinya akan bergantian. Tinggal di rumah Papa Hamdan tiga hari dan di rumah mereka tiga hari, tetapi sekarang berubah lagi.


Afrin pun memberi pengertian pada Yasna dengan bantuan Emran. Akhirnya hari ini, wanita paruh baya itu setuju dan ingin melihat apartemen tempat putrinya tinggal. Bundanya akan ikut dan memastikan tempatnya aman.


"Apa kita jemput bunda dulu, Sayang?" tanya Khairi pada istrinya.


"Iya, Mas. Papa nggak bisa antar karena ada meeting pagi ini. Kakak juga nggak bisa."


"Iya, tidak apa-apa. Kita ke sana dulu." Khairi melajukan mobilnya menuju rumah Yasna.


Begitu sampai rumah sudah tampak Yasna yang menunggu di depan rumah bersama dengan Nayla dan Nuri yang berada dalam gendongan mamanya. Afrin turun dari mobil, sementara Khairi menunggu di dalam mobil.


"Assalamualaikum, sudah siap?" tanya Afrin.


"Waalaikumsalam, sudah, kita bisa langsung berangkat saja," jawab Yasna.


"Ponakan tante mau ikut juga, nih?" tanya Afrin pada Nuri.


"Itut," sahut gadis kecil itu.


"Nggak boleh, di rumah saja."


"Itut."


"Kalau begitu, sini gendong sama tante."


Nuri pun mengulurkan tangannya ke arah tantenya. Afrin segera meraih gadis kecil itu dan mencium pipinya bertubi-tubi, membuat gadis kecil itu kegelian.


"Ayo, sekarang kita berangkat!" ajak Afrin. Mereka semua pun berangkat ke apartemen.


Nuri masih berada dalam pangkuan Afrin keduanya berada di depan di samping kemudi. Khairi melihat interaksi istri dan keponakannya merasa bahwa sudah saatnya dia juga memiliki anak, tetapi mengingat jika saat ini Afrin kuliah, pria itu hanya bisa memendam keinginannya dalam hati.


Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai dan memang benar, letaknya tidak jauh dari kampus Afrin. semua orang mengikuti Khairi menuju unit dan melihat setiap sudut apartemen itu.

__ADS_1


"Wah, apartemen kalian besar sekali," ucap Nayla dengan pandangan yang masih menelusuri sudut ruangan.


"Tidak kok, Kak. Lebih besar rumah Papa Emran," sahut Khairi.


"Kalau itu mah jangan ditanya jawab Nayla dengan tertawa dan diikuti Khairi.


"Tempatnya tidak jauh, Bunda. Kita bisa sering-sering main ke sini," ucap Nayla.


"Ya nggak bisa sering-sering juga. Aku, kan, juga kuliah."


"Iya, Kakak juga tahu," sahut Nayla. "Apartemennya Ivan bagus seperti ini juga, nggak?" tanya Nayla.


Semua orang kini menatap Khairi menunggu jawaban dari pria itu.


"Bagus juga, kok, Kak. Nanti kalau mereka sudah menikah, kakak main saja ke apartemen mereka."


"Mana berani aku. Lihat asisten kamu yang serius itu aja membuatku takut. Apalagi Nuri!" jawab Nayla membuat Khairi tertawa.


"Dia baik, kok! Hanya saja memang terlalu kaku saja. Mungkin belum terbiasa, kalau sudah mengenalnya orangnya santai," ucap Khairi.


"Mudah-mudahan saja begitu dan membuat Rani betah punya suami dingin gitu, tapi aku senang jika Ivan baik dan memiliki apartemen sebesar ini. Kita semua tahu, bagaimana dia bekerja keras untuk keluarganya. Sekarang sudah saatnya dia menjadi ratu," ujar Nayla yang diangguki Afrin.


Nayla memang baru mengenal Rani, tetapi dia banyak mendengar perjuangan gadis itu untuk keluarganya. Padahal Rani anak bungsu yang seharusnya tidak perlu susah payah menghidupi keluarganya. Akan tetapi, semua hanya angan.


"Apartemen kamu sudah sangat bersih, apa kalian sebelumnya membersihkan tempat ini?" tanya Yasna.


"Tidak, Bunda. Bukan kami, aku membayar orang buat membersihkannya," jawab Khairi.


"Sudah lama kamu memiliki apartemen ini?"


"Hampir dua tahun, tapi aku tidak pernah menempatinya. Hanya satu kali saja, saat itu ada meeting di sekitar sini jadi, aku tidur di sini. Setelah itu, sudah tidak pernah lagi."


Yasna, Nayla, dan Afrin mengelilingi apartemen itu. Mereka ingin tahu bagaimana letak ruangan apartemen.


"Sayang, aku ke kantor sebentar. Ada klien yang datang tiba-tiba dan meminta untuk bertemu denganku," ucap Khairi.


"Iya, Mas. Tidak apa-apa, ada Bunda dan Kak Nayla juga. Kalau aku sendiri juga nggak pa-pa."


"Ya sudah, aku berangkat dulu. Assalamualaikum," pamit Khairi.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, hati-hati."


*****


Rani sendirian di rumah. Saat dia sedang menyiram tanaman di halaman samping. Ponsel di sakunya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Wanita itu pun tidak menjawab dan membiarkan panggilan itu dan memasukkan kembali teleponnya ke dalam saku.


Lagi-lagi ponselnya berdering kembali dan nomor itu lagi yang muncul di layar telepon. Rani mengangkatnya dengan hati-hati, dia berharap itu bukan orang iseng atau jahat.


"Halo, assalamualaikum," ucap Rani dengan pelan.


"Waalaikumsalam, maaf, Ran, ini aku Ivan. Tadi aku minta nomormu pada Nona Afrin," ucap Ivan yang berada di seberang telepon.


"Oh, Mas Ivan. Aku kira siapa, tadi aku takut ngangkatnya karena itu tadi nggak aku angkat, takut orang jahat yang telepon."


"Tidak apa-apa, kamu juga perlu waspada. Banyak sekali kejahatan di zaman sekarang ini."


"Iya, Mas," sahut Rani.


"Mas Ivan telpon saya, apa ada sesuatu?" tanya Rani karena dia tahu, pria seperti Ivan tidak mungkin mau meminta nomor pada Afrin, jika tidak ada sesuatu yang penting.


"Semalam aku sudah bicara sama mama dan beliau setuju untuk melamar kamu jadi, apa kamu besok memiliki waktu, untuk ikut bersama kami ke kampung kamu?"


Ivan tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Dia takut apa yang dikatakan Khairi waktu itu menjadi kenyataan. Secara pria itu tidak bisa bersikap romantis.


Rani sendiri merasa sangat bahagia karena Ivan akan segera melamarnya. Mengenai perasaan pria itu, dia sudah memikirkannya. Wanita itu akan membuat Ivan jatuh cinta padanya. Tidak salah, kan, seorang Istri membuat suaminya jatuh cinta dan dia akan melakukannya.


"Akan saya tanyakan sama Bu Yasna dulu, Mas. Mudah-mudahan saja beliau memberi izin," jawab Rani dengan tersenyum. Tentu saja Ivan tidak mengetahuinya.


"Itu saja yang ingin aku sampaikan. Aku masih ada pekerjaan. Nanti kalau sudah ada kabar kamu bisa menghubungi saya atau mengirim pesan juga tidak apa-apa."


"Iya, Mas. Nanti akan saya kasih kabar."


"Ya sudah, aku tutup teleponnya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2