Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
139. S2 - Niat melamar


__ADS_3

Setelah kepergian Yasna. Rini menghubungi Nayla dan memintanya untuk pulang ke rumah. Sebenarnya Dia setuju jika keponakannya itu bisa bersama dengan Aydin. Akan tetapi, wanita itu tahu, itu bukan haknya.


"Halo, assalamualaikum," ucap Nayla yang berada di seberang telepon.


"Waalaikumsalam, Nay, nanti malam kamu nginep di rumah Bibi, ya! Ada sesuatu yang ingin Bibi bicarakan sama kamu," sahut Rini.


"Iya, Bi. Nanti Nayla akan pulang ke sana. Apa Bibi mau nitip sesuatu? Biar nanti Nayla sekalian beli."


"Tidak perlu, kamu ke sini saja, Bibi sudah senang."


"Baiklah, nanti Nayla ke sana."


"Iya, itu saja yang ingin Bibi katakan. Bibi tutup dulu."


"Iya, Bi, sampai bertemu nanti. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Rini menutup panggilannya. Dia lega, Nayla tidak bertanya alasan kenapa wanita itu memintanya datang.


*****


"Masak banyak sekali, Bu? Apa Nayla hari ini datang?" tanya Doni.


"Iya, Yah. Nayla hari ini pulang. Ada yang mau Ibu sampaikan," jawab Rini.


"Sampaikan apa?"


"Nanti juga Ayah tahu," sahut Rini.


Doni menatap heran pada istrinya. Tidak biasanya Rini merahasiakan sesuatu darinya. Tidak Berapa lama yang ditunggu akhirnya datang dengan membawa satu kantong kresek berisi marbabak.


"Assalamualaikum," ucap Nayla sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam," sahut Rini dengan membuka pintu. "Kamu, Nay. Kenapa tidak masuk saja? Pake ketuk pintu segala, kamu bawa apa ini? Bibi sudah bilang tidak perlu membawa apa pun."


Nayla hanya tersenyum menanggapinya.


"Paman sudah pulang?" tanya Nayla saat memasuki ruang makan. Di sana sudah ada Doni yang duduk dan siap menikmati makan malam.


"Iya, tidak ada lembur jadi, Paman pulang cepat."


"Ya sudah, ayo, kita makan!" ajak Rini. "Kamu sudah mandi, Nay?"


"Sudah, Bik. Tadi di rumah Fatma. Sebelum ke sini Nayla ke rumah teman sebentar ada sedikit pekerjaan."

__ADS_1


"Kamu belum makan malam, kan?" tanya Rini. Dia sudah menyiapkan makan malam untuk Nayla juga jika gadis itu sudah makan, siapa yang akan memakan masakannya.


"Belum, Nayla sengaja ingin makan malam di rumah Bibi."


"Syukurlah, ayo, makan sama-sama!"


Mereka menikmati makan malam degan lahap. Sedari tadi Rini gelisah memikirkan cara untuk berbicara dengan Nayla. Doni yang melihatnya pun mengerti, kalau istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa, sih, Bu?" tanya Doni.


Rini diam beberapa detik. Dia memarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Wanita itu mencoba tenang dan bicara dengan hati-hati agar tidak menyakiti hati Nayla.


"Nai, boleh Bibi mengatakan sesuatu," ucap Rini tanpa menjawab pertanyaan dari Doni.


"Bicara saja, Bik," jawab Nayla dengan menatap Rini. Dia merasa ada sesuatu yang penting, dilihat dari gelagat bibinya itu yang tidak bisa diam.


"Begini, Nay. Tadi ada seseorang yang datang dan dia ingin melamarmu. Dia bilang besok akan datang bersama dengan keluarganya ke sini. Ini bukan kewajiban Bibi untuk menerima atau menolak jadi, Bibi tidak bisa menjawab. Orang itu juga mengatakan akan menerima apa pun jawaban kamu."


Nayla dan Doni sama-sama terkejut. Terutama gadis itu, dia sama sekali tidak pernah berpikir ada seorang pria yang akan melamarnya dan sekarang, entah siapa pria itu, Nayla tidak tahu.


Setelah kegagalan pertunangannya dengan Rizki, Nayla tidak merasa dekat dengan pria mana pun. Hanya Aydin yang dia kenal. Gadis itu berpikir, tidak mungkin jika pria itu yang melamar karena Aydin belum tahu pembatalan itu.


"Bagaimana bisa ada seorang pria yang ingin melamar Nayla, tanpa berkenalan lebih dulu? Kita juga tidak mengenal keluarga mereka. Apa mereka punya tujuan yang tidak baik?" tanya Doni.


"Mana bisa seperti itu, Bu! Apa mereka pikir pernikahan itu buat main-main?" Doni emosi, bagaimana bisa mereka datang untuk berkenalan sekaligus melamar? Memang mereka pikir bisa mempermainkan keluarganya.


"Yah, seperti yang Ibu katakan tadi, semua keputusan ada pada Nayla. Mereka akan menerima apa pun jawaban Nayla. Kalau besok Nayla memang tidak suka dengan pria itu. Mereka tidak akan memaksa."


Rini sempat kesal pada suaminya yang terlalu banyak bertanya dan berpikir. Ingin sekali dia memukul kepala suaminya agar bisa diam dan tidak lagi banyak bertanya.


"Apa mereka mengenal aku, Bik?" tanya Nayla.


"Kalau mereka tidak mengenalmu Bagaimana bisa mereka datang melamar, mereka juga tahu kalau Bibi ini, Bibi kamu," jawab Rini.


Nayla berpikir, benar apa yang dikatakan bibinya, mereka pasti sudah mengenal dirinya karena itu mereka datang melamar. Mereka juga tahu kalau Rini ini adalah bibinya dan tahu alamat rumah ini, tapi siapa yang melamarnya? Nayla sama sekali tidak bisa menebaknya.


"Apa kamu tahu siapa pria itu?" Bukan Nayla yang bertanya, tapi Doni.


"Lebih baik Besok saja kalian lihat sendiri. Aku tidak berhak menjawabnya.


Doni menatap istrinya, Dia tahu Rini membunyikan sesuatu. Pasti wanita itu tahu siapa yang melamar Nayla dan berusaha menutupinya, tapi pria itu juga tidak mungkin memaksa istrinya untuk menjawab di depan Nayla, mungkin nanti saat hanya mereka berdua, Doni akan bertanya.


"Bagaimana, Nay? apa kamu bisa besok menerima tamu itu?" tanya Rini memastikan agar dia bisa memberi kabar pada Yasna.

__ADS_1


"Insya Allah, Bi. Akan aku usahakan, bagaimanapun juga kita harus menghormati tamu bukan?"


"Iya dan Bibi harap apa pun jawabanmu, semoga itu memang yang terbaik untuk masa depanmu."


"Amin, terima kasih doanya."


Nayla tahu Rini orang yang sangat tulus menyayanginya, jika dia memberi kesempatan pria itu untuk melamarnya, sudah pasti orang itu orang yang baik Nayla juga penasaran siapa pria itu? Biarlah waktu yang menjawabnya


*****


"Bagaimana, Bunda? Apa Bik Rini mau membantu?" tanya Aydin, saat mereka sedang di ruang keluarga menonton acara televisi bersama, lebih tepatnya menemani Afrin.


"Mbak Rini bilang mau membantu, dia akan mencoba bicara dengan Nayla. Semoga Nayla mau menerimanya."


"Amin, semoga saja, Bunda."


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Yasna, ternyata dari Rini yang mengatakan jika Nayla mau menerima tamunya besok.


"Alhamdulillah, Nayla mau menerima kedatangan kita besok," ucap Yasna sambil memperlihatkan pesan dari Rini.


"Alhamdulillah."


"Berarti besok kita akan melamar Nayla. Apa kamu sudah siap, Aydin?" tanya Yasna.


"Siap Bunda aku juga sudah menyiapkan cincinnya," jawab Aydin dengan tersenyum.


"Bukan itu, apa kamu siap dengan apa pun jawaban dari Nayla? Bunda tidak mau kalau kamu sampai terpuruk karena lamaranmu ditolak."


"Kenapa Bunda bicara seperti itu? Itu sama saja doain Aydin ditolak."


"Bunda hanya mengantisipasi apa pun kemungkinan yang terjadi saja, bukan doain kamu ditolak. Bunda akan selalu berdoa untuk kebaikan kamu, apa pun jalan yang kalian tempuh."


Walaupun bukan ibu kandung, Yasna selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya dan Aydin tahu itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2