
Nur tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat tahu kesakitan yang putrinya rasakan karena wanita itu juga merasakannya lebih dulu. Nur tahu, tidak mudah menjalani penderitaan yang mereka alami. Apalagi harus menerima hinaan dari orang lain.
Sementara Laily berpikir, apa yang dialaminya itu karena papanya. Pria itu yang sudah membuat hidupnya menderita. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah memaafkannya. Hamdan sendiri yang sudah menciptakan semua ini jadi, pria itu harus menerima semua konsekuensinya.
Nur kembali ke ruang tamu. Dia tidak bisa memaksa Laily. Wanita itu sangat tahu betapa keras kepalanya sang putri. Jika gadis itu bilang tidak maka sampai kapan pun jawabannya adalah tidak. Kecuali ada sesuatu yang meluluhkan hatinya.
"Maaf, sepertinya Laily butuh waktu," ucap Nur. Meski dalam hati dia tidak yakin akan hal itu.
"Tidak apa-apa. Aku juga ingin minta maaf padamu karena dulu aku meninggalkanmu dalam keadaan hamil. Hingga membuat hidupmu dalam kesusahan," ucap Hamdan.
"Tidak perlu mengungkitnya, itu akan semakin mengingatkan penderitaan yang aku alami. Aku sudah ikhlas menerima semuanya. Bagiku itu bagian dari perjalanan hidupku," ujar Nur dan beralih menatap Merry. "Apa ini istrimu?"
"Ah, iya, ini istriku, namanya Merry," ucap Hamdan.
Merry pun mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya. Begitu pun dengan Nur. Afrin datang dengan membawa minuman. Sementara Khairi lebih memilih duduk di dapur sambil memikirkan perasaan adiknya. Dia tahu, pasti sangat menyakitkan saat bertemu dengan orang yang menyebabkan penderitaannya selama ini.
Hamdan dan Merry pun berpamitan. Namun, sebelum pergi pria itu meminta izin untuk mengatakan sesuatu pada Laily meski hanya di depan pintu. Nur tidak mungkin membatasi interaksi antara ayah dan anak itu jadi, dia hanya menganggukkan kepalanya. Lagipula putrinya bukan lagi anak kecil yang bisa diatur.
Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya mengikuti Nur bersama dengan Merry. Dia harus menerima apa pun yang akan dilakukan putrinya karena memang ini semua kesalahannya. Hamdan tidak ingin menghakimi siapa pun. Pria itu sepenuhnya menyalahkan dirinya sendiri.
Nur mengetuk pintu kamar putrinya beberapa kali dan berkata, "Nak, papamu ingin bicara sebentar."
"Aku tidak mau! Suruh dia pergi!" sahut Laily dengan sedikit berteriak.
Nur menatap mantan suaminya seolah berkata jika Laily tidak mau bicara. Hamdan pun mengangguk dan mendekati pintu kamar putrinya.
"Nak, maafkan Papa. Papa tahu banyak sekali kesalahan yang sudah Papa lakukan, tapi tolong beri kesempatan untuk Papa. Kamu bisa melakukan apa pun terhadap Papa," ujar Hamdan.
Hening ... tidak ada sahutan dari dalam. Laily tidak berniat untuk membalas ucapan papanya, orang yang sudah menorehkan luka di hidupnya. Hamdan menghela napas. Sepertinya akan sangat sulit untuk meluluhkan hatinya.
"Nak, Papa pulang dulu. Besok Papa akan datang ke sini lagi. Kuharap kamu sudah membuka hatimu. Jaga diri baik-baik, maaf atas semua kesalahan yang pernah Papa lakukan ... Papa pulang, assalamualaikum."
__ADS_1
Hamdan berpamitan kepada Nur. Dia tidak ingin banyak berbicara dengan wanita itu, ada hati yang harus dijaga. Merry juga pamit pada mantan istri dari suaminya itu. Sebenarnya dia ingin bicara dengan Laily, tetapi melihat responnya terhadap Hamdan saja seperti itu, bagaimana dengan dirinya? Sudah pasti akan diacuhkan.
"Waalaikumsalam," gumam Laily yang berada di balik pintu.
Sedari tadi gadis itu berada di sana sejak memasuki kamar. Jauh dalam lubuk hatinya, dia senang bisa bertemu dengan sang ayah. Akan tetapi, entah kenapa melihat Hamdan berdiri di depannya membuat hatinya terluka. Semua kenangan pahit dalam hidupnya muncul seketika.
Dari kecil, gadis itu sering dijauhi teman sebayanya hanya karena dia orang miskin dan pakaiannya yang lusuh. Laily memendam semua sendiri karena tidak ingin membuat sang ibu bersedih. Sudah cukup Nur bekerja keras membanting tulang untuk masa depannya.
Air mata gadis itu tak kunjung berhenti menetes hingga sebuah ketukan dan panggilan, mau tidak mau membuatnya harus keluar dari kamarnya.
"Laily, ayo, kita makan! Sudah waktunya makan siang." Suara Nur yang memanggilnya.
"Ibu makan duluan saja, aku tidak lapar."
"Nanti kamu turun, ya! Ibu akan tunggu kamu sampai lapar."
Nur turun dan duduk di meja makan dengan lesu. Dia tahu pasti putrinya merasa sangat sedih, tetapi cepat atau lambat, gadis itu pasti akan bertemu dengan ayahnya.
"Sebentar lagi juga turun. Nanti kalian bersikap biasa saja, jangan bahas masalah tadi, ya!"
Khairi dan Afrin hanya mengangguk. Mereka juga tidak ingin melihat Laily bersedih. Nur sangat mengenal putrinya yang tidak akan membiarkan dia kelaparan. Benar saja, tidak lama terdengar langkah kaki seseorang datang.
Bu Nur pura-pura menata meja, sementara Khairi dan Afrin sibuk bermain dengan ponsel.
"Kamu sudah lapar? Ayo, kita makan! Ibu kira kamu masih lama," ujar Nur sambil menata piring yang sudah rapi. "Kalian jangan main ponsel terus, ayo, makan dulu," tegur Nur pada anak dan menantunya.
"Iya, Bu," sahut mereka bersamaan.
Afrin pun mengambilkan makanan untuk sang suami dan dirinya. Tidak ada yang berani mengatakan sesuatu, seperti permintaan Nur tadi. Semua makan dengan tenang, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.
"Nanti malam kita makan di luar, yuk! Sekalian jalan-jalan," usul Khairi.
__ADS_1
"Jalan-jalan ke mana, Mas. Ibu sama Laily pasti capek, besok saja," sela Afrin.
"Benar juga, ya sudah, besok saja."
"Kalian ajak Laily saja. Ibu sudah tua, tidak sanggup pergi jauh-jauh," sahut Nur.
"Tidak bisa begitu, Bu. Kami mengajak Ibu dan Laily ke sini untuk bersenang-senang. Lagipula kita harus membeli banyak perlengkapan untuk Laily kuliah," ujar Khairi.
"Memang Laily kuliah di mana, Mas? Sudah daftar?" tanya Afrin.
"Sudah, tadi di mobil aku sudah kirim file Laily pada Ivan dan dia yang mendaftarkannya di kampus tempat kamu kuliah juga."
"Wah, benarkah? Kita nanti bisa berangkat bersama. Meski beda kelas."
"Kakak masih kuliah?" tanya Laily yang akhirnya membuka mulutnya.
"Iya, memang aku kelihatan tua, ya! Sepertinya kamu merasa aneh mendengar aku kuliah," tanya Afrin.
"Tidak juga, Kak. Kakak masih terlihat muda. Aku kira Kakak tidak kuliah karena uangnya sudah banyak," ucap Laily.
"Yang banyak uang itu suamiku, aku nggak punya."
"Sama saja, bukankah uang suami itu uang istri, tapi uang istri, ya, hanya milik istri," sahut Laily terkekeh.
Afrin ikut tertawa sambil berkata, "Iya, kamu benar. Ha ha ha."
Khairi mendengus mendengarnya, tetapi dia senang melihat adiknya bisa kembali tertawa. Pria itu pura-pura merajuk hingga membuat Afrin dan Laily tertawa. Begitupun dengan Nur.
.
.
__ADS_1
.