Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
254. S2 - Pembatalan pernikahan


__ADS_3

Khairi dan Afrin sedang dalam perjalanan menuju rumah Papa Hamdan. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponsel wanita itu.


"Mas ada pesan dari Mbak Rani, katanya kita diminta ke sana. Bunda memanggil Kak Ivan ke rumah. Mbak Rani bilang, bunda sangat marah sama Kak Ivan," ujar Afrin.


"Marah kenapa?" tanya Khairi yang merasa heran, kenapa mertuanya itu tiba-tiba marah dan memanggil Ivan ke rumah? Apa asistennya itu membuat sebuah kesalahan? Akan tetapi, selama dia mengenal Ivan, pria itu bukan orang yang ceroboh. Lantas kesalahan apa yang diperbuatnya.


"Nggak tahu, Mbak Rani nggak balas pesanku. Aku jadi penasaran, Mas. Bagaimana kalau kita ke rumah Papa Emran dulu, besok saja ke rumah Papa Hamdan."


"Boleh, Sayang. Aku juga penasaran, apa yang membuat bunda marah? Karena selama aku mengenal bunda, aku tidak pernah melihatnya marah."


"Memang bunda jarang sekali marah, tapi sekalinya marah semua pada diam. Nggak ada yang berani menyela. Aku jadi ingin lihat wajah Kak Ivan yang kaku itu, saat dimarahi sama bunda," ucap Afrin cekikikan membayangkannya.


"Kamu ini, ada-ada saja. Ya udah, kita ke sana!" seru Khairi yang diangguki oleh Afrin.


Pria itu pun berbelok arah menuju rumah mertuanya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga Emran. keduanya turun dan berjalan dengan bergandengan tangan. Pintu rumah tampak terbuka, membuat mereka langsung masuk begitu saja dengan mengucap salam.


"Assalamualaikum," ucap keduanya.


"Waalaikumsalam," sahut semua orang yang ada di ruang tamu. Ternyata Ivan sudah ada di sana, sedang duduk di depan Emran dan Yasna.


"Sayang, kamu ke sini?" tanya Yasna pada putrinya.


Afrin yang ditanya merasa bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin wanita itu mengatakan yang sejujurnya jika Rani yang memberitahu.


"Iya, Bun. Tadi maunya ke rumah Papa Hamdan ada sedikit pekerjaan, tapi mereka ada acara di luar jadi, kami memutuskan ke sini." Bukan Afrin yang menjawab, tetapi Khairi.


"Ada Kak Ivan, juga!" seru Afrin.


"Iya, Bunda ada sesuatu yang ingin di bicarakan dengan Ivan," sahut Yasna.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami masuk saja," pamit Afrin.


"Tidak perlu, kalian duduk saja. Khairi juga perlu mendengarnya," sahut Yasna.


Mereka pun ikut duduk di ruang tamu. "Sebentar, aku buatin minuman," ucap Afrin.


"Tidak usah, dhek. Nayla sudah buatin, mungkin sebentar lagi juga datang," sela Aydin yang diangguki Afrin.


Wanita itu pun duduk kembali di samping suaminya. Dia menggenggam tangan Khairi, Afrin merasa bundanya kini tengah kesal.


"Mohon maaf, Sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ivan yang tidak ingin berbasa-basi.


"Jadi begini, saya di sini mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya ingin membatalkan rencana pernikahan kamu dan Rani. Saya tidak bisa meneruskan acara itu."


Ivan begitu sangat terkejut mendengarnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba membatalkan pernikahan begitu saja. Ini kejadiannya seperti apa yang dialami atasannya, tetapi saat itu Afrin sendiri yang membatalkan dan sekarang Yasna, orang yang paling berpengaruh di rumah ini.


Bukan hanya Ivan yang terkejut. Semua orang yang ada di ruangan itu pun sama terkejutnya. Bagaimana bisa Yasna batalkan rencana pernikahan Rani dan Ivan begitu saja. Padahal semuanya sudah diatur. Terutama Rani, persiapan semua di kampung sedang berjalan. Bagaimana jika semua acara batal? Pasti keluarga mereka akan malu.


"Kenapa dibatalkan, Nyonya?" tanya Ivan. Dia tidak tahu alasan kenapa pernikahannya dibatalkan? Bahkan Rani tidak mengatakan apa pun padanya.


"Karena saya sudah memilihkan jodoh yang tepat, yang lebih perhatian dan sayang padanya. Bukan pria yang dingin yang tidak memperlakukan dia selayaknya wanita yang harus dilindungi."


Ivan menelan ludahnya kasar. Dia tahu jika ucapan Yasna adalah sindiran untuknya. Bukan dia tidak mau memperlakukan Rani dengan baik. Hanya saja dia tidak tahu caranya. Untuk menelepon wanita itu saja perlu berpikir berkali-kali.


"Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa seperti ini. Semua persiapan sudah hampir matang. Anda tidak bisa membatalkannya begitu saja. Bagaimana dengan keluarga saya?"


"Kenapa tidak bisa? Saya punya suami yang bisa melakukan apa pun dengan cepat kalau kamu lupa," ujar Yasna yang membuat semua orang menatap Emran. Sementara pria itu, pura-pura tidak tahu apa pun dan lebih memilih menikmati minumannya.


"Tapi, Nyonya, tidak bisa memaksa Rani."

__ADS_1


"Rani pasti menuruti semua keinginanku. Pria itu sangat baik sering menghabiskan waktunya untuk keluarga dan orang yang disayanginya. Saya yakin Rani akan bahagia bersama dengannya," ucap Yasna yang membuat Ivan semakin gelisah. Dia tidak tahu jika akhirnya harus begini.


"Kenapa harus disaat seperti ini? Semua sudah aku lakukan untuk persiapan pernikahan."


"Awalnya saya menolaknya, tapi dia orang yang mau memperjuangkan Rani. Apa pun dia lakukan untuk mendapatkan Rani. Saya tidak mungkin menyia-nyiakan laki-laki seperti ini dan saya sangat salut dengan perjuangannya jadi, saya putuskan untuk menikahkan Rani dengan pria itu karena saya sangat yakin. Rani akan bahagia bersama dengannya."


"Nyonya Yasna, tidak bisa melakukan hal ini padaku. Saya juga akan berjuang untuk mendapatkan Rani, bagaimanapun caranya. Saya sangat mencintai Rani, saya tidak rela orang lain memilikinya."


Rani terkejut mendengar ucapan Ivan. Dia tidak menyangka jika pria itu juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Sebelumnya wanita itu merasa jika cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi kini Rani bahagia karena cintanya berbalas.


Dalam hati Yasna tersenyum, ternyata sangat mudah memancing pria kaku ini. Awalnya dia pikir akan sulit untuk membuatnya bicara, tetapi tidak sesulit yang wanita itu kira. Sebelumnya Yasna juga merasa was-was, dia takut jika Ivan menyetujui pembatalan pernikahan itu, syukurlah dia mau berjuang.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Kamu jangan coba-coba melakukan sesuatu yang akan menyakiti Rani, ya!"


"Itu tidak akan terjadi, Nyonya. Saya hanya akan memperjuangkan Rani seperti yang, Nyonya, katakan tadi. Bukankah pria itu juga berjuang untuk mendapatkan Rani? Maka aku pun akan melakukan hal yang sama."


"Memangnya apa yang bisa dilakukan pria dingin sepertimu? Kamu bahkan tidak memberi kabar apa pun pada Rani mengenai pesta pernikahan kalian."


"Saya bukanya tidak ingin memberitahu, hanya saja, semuanya saya serahkan pada event organizer."


"Apa kamu pikir Rani juga tidak ingin tahu apa pun tentang pesta pernikahan kalian? Yang menikah itu kalian, kan? Meskipun semua acara diserahkan kepada mereka, setidaknya kalian bisa melihat sejauh mana perkembangan persiapan pesta itu."


"Tapi, saya ...." Ivan tidak meneruskan kata-katanya. Dia merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Pria itu berpikir sejenak kemudian menatap Yasna.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2