
"Van, apa maksud dari Om Emran tadi?" tanya Khairi saat mereka dalam perjalanan pulang.
Pria itu sempat berpikir beberapa saat mengenai alasan Emran menolaknya. Dia sebenarnya mengerti, tetapi egonya menolak untuk mengerti.
"Tuan harus banyak belajar tentang islam."
"Maksudnya aku harus salat dan lain-lainnya begitu?"
"Benar, Tuan dan yang lebih penting lagi. Tuan Emran berharap Tuan melakukannya karena diri Tuan sendiri, bukan karena Nona Afrin atau penyebab lainnya."
"Kamu memberi penjelasan semakin berbelit. Katakan saja yang sebenarnya."
"Intinya Tuan Emran ingin memiliki menantu yang soleh agar bisa membimbing putrinya menuju surga, bukan neraka," jawab Ivan dengan menekan kata terakhirnya, membuat Khairi mendelikkan mata pada sekretarisnya itu.
Sedetik kemudian dia menormalkan kembali ekspresinya. Pria itu mengaku jika memang dirinya sudah tidak pernah lagi salat, apalagi mengaji. Sudah sangat lama mungkin waktu SD terakhir kali dia melakukannya.
Mamanya juga sering menasehati Khairi agar melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, tetapi karena dia terlalu nyaman dengan kehidupannya kini, dia melupakan semua ajaran mama dan gurunya.
"Apa saya perlu menjelaskan sekali lagi agar lebih jelas, Tuan?" tanya Ivan karena tidak mendengar suara Khairi.
"Tidak perlu," jawab Khairi dengan pandangan lurus ke depan.
Selama perjalanan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Ivan sendiri sesekali melirik ke arah atasannya dia memikirkan apa yang akan dilakukan Khairi nanti.
Apakah terus berjuang untuk mendapatkan wanita pujaannya atau menyerah, karena tidak mampu memenuhi syarat yang Emran berikan. Dia juga mengerti jika membahas tentang agama ada pertentangan di setiap hati manusia.
Sejujurnya Ivan bersyukur Emran memiliki syarat seperti itu. Karena menurutnya Khairi sudah terlalu jauh dari agamanya. Atasannya itu memang tidak pernah bermain wanita, tapi masih sering mabuk-mabukan dan akhirnya dia yang akan jadi korbannya.
Begitu sampai di rumah Khairi segera turun tanpa mengatakan apa pun pada asistennya. Ivan pun yang ngerti tabiat atasannya tidak banyak bertanya lagi. Dia segera melajukan mobilnya menuju tempat tinggalnya.
*****
Sementara di rumah keluarga Emran, Yasna menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan kepala mendongak ke atas.
"Bunda, sepertinya darah tinggi Papa, benar-benar naik," ucap Emran sambil menghela napas berat.
"Kepala Bunda juga migrain, Pa," sahut Yasna.
Sementara Afrin hanya menunduk, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada kedua orang tuanya. Kalau tahu begini, lebih baik dia tadi menunggu orang bengkel atau naik taksi saja.
Di ruang keluarga, Rani dan Nayla sama-sama menahan tawa. Mereka juga mendengar apa yang terjadi di ruang tamu tadi.
"Sampai kapan pun Papa tidak akan menyetujui kamu menikah dengan pria itu," ucap Emran.
"Aku 'kan sudah bilang, kalau aku tidak ingin menikah muda," kilah Afrin.
__ADS_1
Gadis itu kesal karena orang tuanya lebih percaya pada Khairi daripada dirinya. Jelas-jelas dia tidak memiliki perasaan apa pun pada pria itu.
"Kalau tidak ingin menikah, Kenapa kamu menjalin hubungan dengan pria itu?" tanya Emran.
"Aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku sudah bilang berkali-kali dari tadi. Dia saja yang kepedean."
"Benar kamu nggak ada perasaan apa pun sama dia?" tanya Yasna dengan menatap putrinya.
Dia ingin jawaban pasti dan meyakinkan agar tidak ada yang tersakiti nanti. Kalau afrin memang menyukai pria itu Yasna juga tidak akan memaksa mereka berpisah, asal pria itu bisa memenuhi apa yang disampaikan oleh Emran tadi.
"Benar, Bunda. Aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Aku juga mengenalnya baru-baru ini."
"Kapan kamu mengenalnya?" tanya Emran.
"Waktu itu dia tidak sengaja nabrak mobilku."
"Kapan? Kenapa kamu tidak bilang sama Bunda?" tanya Yasna.
"Cuma lecet aja mobilnya, Bunda. Aku tidak apa-apa. Aku juga nggak kena apa pun."
"Tetap saja kamu harus mengatakannya."
"Kapan kejadiannya?" tanya Emran.
"Sekitar dua bulan yang lalu."
"Kalau kamu tidak menyukainya sebaiknya kamu jaga jarak dengannya. Jangan memberi harapan palsu kepada orang lain, takut dia akan terluka. Kamu juga pasti akan terluka kan jika mengalami hal yang sama," nasehat Yasna.
"Iya, Bunda. Aku juga sudah berusaha untuk menghindarinya, tapi dia selalu tahu di mana pun Aku berada."
"Assalamualaikum," ucap Aydin yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam."
"Ada apa ini? Kenapa semuanya terlihat sedih?" tanya Aydin sambil menyerahkan tas kerjanya pada Nayla.
"Nggak pa-pa," jawab Afrin jutek.
"Baru saja Mbak Afrin dilamar sama cowoknya, Tuan Aydin," jawab Rani yang sedang membereskan gelas bekas minuman tamunya.
"Hah, yang benar? Siapa orangnya? Kok aku nggak tahu! Sepertinya aku ketinggalan berita!" ucap Aydin antusias yang justru membuat Afrin semakin kesal.
"Mbak Rani kenapa sih bilang seperti itu! Aku 'kan nggak ada hubungan apa-apa sama Khairi! Dia saja yang kepedean padahal kita nggak ada hubungan apa-apa."
"Oh, jadi, namanya Khairi!' seru Aydin yang membuat Afrin cemberut.
__ADS_1
Lagi-lagi gadis itu kelepasan. Seharusnya tadi diam saja, tidak usah meladeni kakaknya itu.
"Bagaimana, Mbak Rani, orangnya ganteng gak?" Aydin semakin ingin menggoda adiknya.
"Ganteng, Tuan. Tajir lagi, dia tadi bilang pengusaha," sahut Rani yang juga ingin menggoda anak majikan itu.
"Wah, Benarkah! Sebentar aku cari dulu namanya di google, kali aja ada namanya. Tadi siapa namanya, Mbak Rani?"
"Khairi kalau enggak salah. Nama lengkapnya saya tidak tahu."
Aydin mengeluarkan ponselnya dan mengetik nama Khairi di dalam kolom pencarian. Sesekali pria itu melirik adiknya yang cemberut.
"Apa ini orangnya?" tanya Aydin sambil menunjukkan sebuah foto seorang pria yang ada di ponselnya kepada Rani.
"Iya, benar!"
"Khairi Wisnubrata, pengusaha muda yang sukses bergerak di bidang elektronik yang saat ini berkembang sangat pesat." Aydin membaca salah satu artikel di dalam ponselnya.
"Nggak usah dijelasin juga papa sudah tahu," sela Afrin.
"Emang Papa sudah tahu?" tanya Aydin.
"Sudahlah, kalian ini selalu saja berdebat. Papa mau istirahat. Emran berlalu menuju kamarnya diikuti Yasna di belakang.
"Mas, sudah, tidak usah menggoda Afrin terus. Ayo, masuk!" ajak Nayla.
"Adik kesayanganku sebentar lagi akan menikah. Ingat jangan galak sama suami," ucap Aydin kemudian berlalu dengan cepat sebelum tanduk Afrin keluar.
"Kakaak!" teriak Afrin kesal.
"Kamu itu suka sekali menggoda Afrin, Mas," ucap Nayla begitu mereka sampai di kamar.
"Memang tadi benar ada yang melamar dia, Sayang?"
"Ya, begitulah," jawab Nayla sambil menahan tawa.
"Kok malah senyum-senyum gitu? Apa ada kejadian yang lucu?" tanya Aydin.
Nayla pun menceritakan semua kejadian tadi kepada suaminya. Aydin tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak bahkan hingga terdengar sampai keluar. Membuat adiknya menggedor pintu kamar mereka.
.
.
.
__ADS_1
.
.