
Setelah Afrin mendapatkan perhiasan yang diinginkannya, segera mereka menuju toko jam tangan. Wanita itu tidak mengerti jam tangan laki-laki, dia pun meminta sang suami yang memilihkannya.
"Mas, kamu saja yang pilih. Aku tidak tau selera Kak Ivan seperti apa. Aku juga tidak tahu model yang pas untuk remaja atau pria dewasa," ucap Afrin.
Khairi pun melihat deretan jam tangan yang ada di depannya. Hingga dia menjatuhkan pilihannya pada sebuah jam tangan yang cukup mahal. Pria itu tidak masalah dengan harganya. Begitu pun dengan sang istri. Setelahnya mereka memutuskan pulang.
Mengenai lingeri, Afrin menolak untuk membeli. Dia malu untuk membeli barang seperti itu, lebih baik nanti dia pesan online saja. Khairi pun menyetujuinya yang penting istrinya nanti membeli. Mereka pun meninggalkan mall dengan mengendarai mobil.
"Kamu jadi, Sayang ikut sama bunda, berangkat besok?" tanya Khairi.
"Iya, Mas. Aku juga sudah kangen sama Mbak Rani."
"Besok aku anterin ke rumah bunda, ya!"
"Iya, harus pagi-pagi, ya, bangunnya. Kamu itu sulit sekali dibanguninnya atau kita nginep saja malam ini di rumah bunda," usul Afrin.
"Jangan, dong, Sayang! Aku kan juga menginginkan bekal, sebelum kamu pergi."
"Bekal apa?" tanya afrin yang merasa bingung. Dia tidak mengerti apa maksud suaminya dengan mengatakan bekal. "Makanan, bukankah akan basi! Jika pun nanti dimasukkan ke dalam kulkas juga pasti rasanya akan berbeda."
"Bukan makanan, Sayang. Bekal biar aku nggak pusing saat kamu tinggal."
Khairi mencoba memberi kode pada istrinya, berharap wanita itu mengerti.
Afrin memikirkannya dengan saksama. Dia mencoba untuk menelaah kata-kata yang dikatakan oleh suaminya. Hingga beberapa menit kemudian dia mengerti arti bekal yang dimaksud Khairi. Wanita itu menghela napas, ternyata tidak jauh-jauh dari itu.
"Iya, baiklah, besok saja ke rumah bundanya," ucap Afrin dengan menahan kesal.
"Terima kasih, Sayang. Kamu paling mengerti bagaimana keadaanku."
Afrin mencebikkan bibirnya tanpa mengatakan apa pun. Bukan dia tidak mau, hanya saja dia malu mengatakannya.
"Sekarang kamu mau diantar ke mana? Ke kampus atau pulang dulu, ambil mobil."
"Kalau pulang kelamaan, Mas. Langsung ke kampus saja. Ini sudah mepet jamnya, bentar lagi kelas dimulai."
"Baiklah aku antar langsung ke kampus." Khairi pun melajukan mobilnya ke kampus tempat Afrin menimba ilmu. Jalanan cukup ramai, membuat perjalanan mereka semakin lama dan benar saja saat wanita itu sampai di depan kelas seorang dosen sedang memberikan mata kuliahnya.
"Assalamualaikum, maaf, Pak. Saya terlambat," ucap Afrin dengan menundukkan kepalanya.
Dosen itu hanya mengangguk dan mempersilakan Afrin duduk. Dia juga baru masuk jadi, tidak akan menghukum siapa pun. Afrin merasa lega, wanita itu pun mengikuti pelajaran hingga selesai.
"Tumben kamu terlambat, Frin?" tanya Zahra setelah kelas selesai.
"Iya, tadi pergi dulu beli kado buat Mbak Rani dan suaminya."
__ADS_1
"Tadi aku lihat Vira sudah mulai kuliah lagi," ucap Zahra.
"Bagaimana keadaannya?"
"Baik-baik saja sepertinya, tapi tadi banyak pria yang kayak ngerendahin dia gitu."
"Maksudnya?" tanya Afrin yang tidak mengerti maksud Zahra.
Merendahkannya? Kata-kata yang sangat mudah dimengerti tanpa harus dijelaskan. Apalagi setelah kasus yang Vira alami, tetapi Afrin perlu penjelasan kali ini. Dia tidak ingin berasumsi yang tidak-tidak.
"Tadi banyak pria-pria yang mendatangi dia dan menawarkan beberapa barang yang mereka punya asal Vira mau tidur sama mereka."
"Astaghfirullahaladzim, mereka benar-benar keterlaluan," sahur Afrin. "Lalu, Vira nanggepin nya bagaimana?"
"Dia tidak mengatakan apa pun. Cuma berlalu pergi begitu saja."
Afrin semakin khawatir pada keadaan Vira, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau sekarang dia bertemu mantan sahabatnya itu, pasti dia akan berpikir jika Afrin menghinanya. Lebih baik dia diam seolah tidak peduli.
"Kamu mau ketemu Vira?" tanya Zahra.
"Tidak usah, suamiku sudah nunggu di depan. Aku langsung balik saja. Kamu mau ikut bareng?"
"Tidak, aku langsung pulang saja."
"Nggak ke restoran?"
"Ya sudah, kalau begitu. Aku balik dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Afrin pergi meninggalkan Zahra menuju tempat parkir, di mana sang suami sedang menunggu. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada dua orang wanita yang sedang duduk di taman. Mereka adalah Vira dan Siska. Dia bersyukur karena temannya dalam keadaan baik-baik saja. Semoga kejadian kemarin memberinya pelajaran dan membuatnya berubah. Afrin pun meneruskan langkahnya menuju mobil sang suami.
"Maaf, ya, Mas. Nungguin lama," ucap Afrin begitu memasuki mobil.
"Tidak apa-apa, kamu tadi nggak di hukum karena terlambat, kan?"
"Tidak, mungkin karena terlambatnya juga baru dua menit," jawab Afrin.
"Sudah tidak ada lagi? Kita pulang sekarang?" tanya Khairi diangguki oleh Afrin. Mereka pun meninggalkan kampus menuju apartemen.
*****
"Assalamualaikum, Bunda!" teriak Afrin saat memasuki rumah orang tuanya.
"Sayang, jangan teriak-teriak," tegur Khairi yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Iya, Mas, maaf," ucap Afrin berlalu memasuki rumah. "Assalamualaikum, Bunda," ucap Afrin lagi saat melihat bundanya ada di ruang keluarga.
"Waalaikumsalam, kamu itu kebiasaan teriak-teriak. Sudah punya suami juga, nggak malu apa!" tegur Yasna.
"Iya, Bunda, maaf, habisnya aku tuh nggak sabar mau ketemu sama Bunda," sahut Afrin membuat Yasna mendengus.
"Khairi, juga mau ikut sekalian hari ini?" tanya Yasna pada menantunya.
"Tidak, Bunda, saya ikut rombongan Ivan saja. Saya juga masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum keluar kota," jawab Khairi yang diangguki Yasna.
"Kalau papa ikut nggak, Bunda?" tanya Afrin.
"Suamimu saja tidak ikut, apalagi suami Bunda. Mereka berdua itu sama saja, selalu pekerjaan," sindir Yasna membuat Khairi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi, tidak apa lah, biar kita tetap bisa belanja." lanjutnya.
"Ada apa, ini? Kenapa ngomongin tentang Papa?" tanya Emran yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Siapa yang ngomongin Papa? Kami hanya membahas tentang acara pernikahan Rani," kilah Yasna.
"Kirain ngomongin papa."
Emran tahu jika Yasna tadi mengeluh tentang dirinya. Dia hanya pura-pura tidak tahu. Pria itu mengerti jika saat ini istrinya butuh perhatian, tetapi Emran benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sekarang. Nanti setelah acara pernikahan Rani, dia akan menebusnya.
"Maaf Nyonya mobil sudah siap," ucap Hari yang baru memasuki rumah.
"Koper saya ada di mobil suami saya, Pak Hari. Tolong diambil, ya!" pinta Afrin.
"Mari, Pak! Saya bukakan bagasinya," sela Khairi.
"Iya, Den." Kedua pria itu keluar diikuti Yasna dan Afrin. Emran pun ikut mengantarkan istrinya ke depan.
"Bunda, jaga diri baik-baik, ya! Kamu juga Afrin, jangan bikin masalah di kampung orang," ucap Emran pada Istri dan anaknya disela langkah mereka.
"Aku juga nggak pernah bikin masalah, kecuali orang itu yang lebih dulu membuat masalah denganku."
"Itu sama saja."
"Beda, dong, Pa!"
"Terserah kamulah, yang pasti kalian berdua harus hati-hati. Jaga diri baik-baik."
"Iya, Pa, kami akan menjaga diri dengan baik," sahut Yasna dengan memeluk suaminya.
.
.
__ADS_1
.
.