
"Mbak Wulan bekerja di rumah mertua saya, Ma," ucap Khairi seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh mamanya itu.
Nur mengangguk. Meski Wulan bekerja di rumah Khairi pun tidak ada masalah untuknya. Bagi wanita itu, Hamdan adalah masa lalu. Kini yang diinginkannya hanya berbahagia bersama anak-anaknya.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu." Wulan tidak ingin mengganggu mereka melepas rindu. dia juga kangen dengan anaknya.
Setelah kepergian Wulan, mereka duduk di atas tikar yang sudah lusuh. Sejujurnya baik Khairi maupun Afrin tidak nyaman, tetapi keduanya mencoba untuk biasa saja. Tidak mungkin mereka hanya berdiri saja.
"Maaf, ya, beginilah rumah Ibu," ucap Nur.
"Tidak pa-pa, Bu." sahut Afrin.
"Kalian, kok bisa tahu kalau Ibu tinggal satu desa sama Wulan?"
Khairi pun menceritakan bagaimana dia menemukan semua barang peninggalan Nur dulu dan pertemuannya dengan Wulan. Ada kesedihan di mata wanita paruh baya itu. Ternyata sang mantan suami tidak pernah melihatnya dan itu semua karena mantan mertuanya. Lagi-lagi karena wanita itu.
Nur menghela napas panjang. Dia sudah memperkirakannya. Mantan mertuanya memang tidak pernah menyukainya dari pertama kali wanita itu datang. Akan tetapi, semua sudah berlalu. Kini Nur hanya akan menatap masa depan. Sesekali dia terbatuk meski hanya sebentar. Mereka pun berbincang banyak hal.
Laily tengah gelisah. Dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, sepertinya sangat sulit untuk diutarakannya. Afrin yang mengerti pun segera bertanya.
"Ada apa, Dhek? Apa ada sesuatu?" tanya Afrin sambil menatap adik iparnya itu.
"Sudah waktunya sarapan," ucap Laily dengan pelan sambil menundukkan kepalanya. Sudah hampir setengah delapan. Dia ingin menawari makan, tetapi sudah pasti keduanya tidak berselera dengan makanan mereka.
"Ya ampun, Ibu sampai lupa!" seru Bu Nur. "Ayo, kalian belum sarapan, kan?"
"Belum, Ma," sahut Khairi.
"Bu, kita cuma masak tempe sama sambal. Masa kita kasih Kakak makanan itu?" ucap Laily dengan berbisik tetapi masih bisa didengar Khairi dan Afrin.
Nur membenarkan ucapan Laily. Dia lupa jika putra dan menantunya orang kaya, sudah pasti tidak makan seperti yang mereka makan. Namun, membiarkan mereka kelaparan juga tidak baik.
__ADS_1
"Kamu beli rendang di Bu Sumi sana! Kamu masih ada uang, kan?" tanya Bu Nur dengan berbisik pula. Saat Laily akan menjawab, Afrin lebih dulu berbicara.
"Ayo, Bu! Aku sudah lapar." Afrin sengaja mengajak mereka segera, tanpa mau menimpali kara-kata Laily.
Nur pun terpaksa mengajak anak dan menantunya untuk makan. Dia tidak mungkin membiarkan keduanya kelaparan. Mudah-mudahan tempe yang dia masak disukainya.
"Kalian tunggu di sini saja. Biar Laily yang bawa ke sini. Di dalam tidak ada tikarnya," ucap Nur yang diangguki Laily yang segera masuk untuk melakukan apa yang ibunya katakan.
"Biar saya bantu Laily, Bu," ucap Afrin yang segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari wanita itu.
Nur hanya diam memandang punggung Afrin yang hilang di balik bilik dinding bambu rumahnya. Laily muncul dengan membawa nasi dan ikan diikuti Afrin yang membawa perlengkapan lainnya. Dalam hati wanita paruh baya itu ada rasa takut jika anak dan menantunya tidak berselera makan di sini. Mengingat apa yang dimasaknya tadi subuh.
Laily dan Afrin kembali ke tempat duduknya. Bu Nur dan Laily hanya diam, sementara Khairi dan sang istri saling pandang.
"Bu, kita kapan makannya? Saya sudah lapar," ucap Afrin berbohong.
"Iya, ayo, silakan!" sahut Nur gelagapan.
Mereka pun makan dalam diam. ingin sekali Khairi dan Afrin menangis, tetapi keduanya mencoba menahannya sedari tadi. Berkali-kali mereka menarik napas dengan pelan agar sesak di dada bisa berkurang. Nyatanya, semakin bertambah kebersamaan, semakin sesak pula dada keduanya.
Kenyataan tentang kehidupan Bu Nur dan Laily benar-benar membuat hati keduanya terluka. Memang Wulan sudah menceritakan dalam perjalanan semalam, tetapi melihatnya dengan mata kepala sendiri justru sangat menyakitkan.
Lauk hanya ada tempe dengan sayur daun ubi jalar dipetik sendiri di belakang rumah, serta nasi yang sudah dingin. Untunglah sayur yang dibuat Bu Nur sangat enak meski dengan bahan seadanya jadi, Khairi dan Afrin menyukainya. Setelah selesai makan, Laily dibantu Afrin kembali membawa semuanya ke belakang.
"Bu, aku pamit kerja, ya!" ucap Laily yang baru saja keluar dengan membawa tas dan sudah memakai seragam. Semua orang pun menatap Laily.
"Dhek, sebaiknya kam ...."
"Dhek, kami sudah jauh-jauh ke sini, kamu malah kerja. Padahal Kakak mau jalan-jalan sama kamu dan Ibu, sekalian kita periksakan Ibu ke dokter. Aku sama Kak Khairi nggak tahu sakitnya Ibu. Kalau Ibu ditanya pasti jawabnya nanti baik-baik saja jadi, kamu bisa libur, kan? Buat menemani kami memeriksakan Ibu?" tanya Afrin memotong ucapan suaminya.
Wanita itu tahu apa yang akan dikatakan suaminya. Dia hanya takut jika Laily merasa tersinggung jika Khairi memintanya berhenti sekarang juga. Tidak semua orang mengerti maksud ucapan kita, kan!
__ADS_1
"Baik, Kak. Aku telepon temanku dulu untuk izin pada atasanku," ucap Laily yang diangguki Afrin.
"Ibu tidak apa-apa, tidak perlu ke dokter," sahut Nur.
"Bu, kita belum sampai di depan dokternya. Nanti saja kasih tahunya," ucap Afrin dengan tersenyum.
Laily kembali dengan gamis dan hijabnya. Gadis itu sudah tidak lagi memakai pakaian kerjanya. Nanti Khairi dan Afrin akan bicara pelan-pelan padanya agar mau berhenti bekerja tanpa menyinggung atau merendahkannya. Bahkan mereka berniat untuk mendaftarkan Laily kuliah.
Seperti yang dikatakan Afrin tadi, dia dan suaminya mengajak Nur dan Laily pergi jalan-jalan. Mereka harus pergi ke rumah Wulan dulu karena mobil Khairi ada di sana. Ibunya Wulan sempat terkejut mendengar jika menantu majikan anaknya adalah anak kandung Bu Aini. Namun, Wulan melarang ibunya untuk bertanya lebih lanjut karena itu bukanlah urusannya.
Afrin dan keluarganya sudah sangat baik padanya. Mereka membelikan banyak mainan untuk Putri. Bu Yasna juga memberinya uang secara cuma-cuma. Wulan tidak bisa membalasnya. Dia hanya bisa melakukan yang terbaik untuk mereka.
"Pak Hari, tunggu di sini tidak apa-apa, kan? Saya mau pergi dulu sama Mama dan adik saya," ucap Khairi.
"Mas, sebaiknya ajak Pak Hari juga. Dari semalam kamu belum tidur sama sekali, takut ngantuk nanti di jalan. Kalau Pak Hari sudah tidur meski sebentar," sela Afrin sebelum Pak Hari menjawab.
"Iya, Tuan. Biar saya ikut saja. Tadi saya juga sudah istirahat," sahut Pak Hari.
"Ya sudah, kalau begitu. Ayo, kita berangkat.," ajak Khairi.
Mereka pun pergi dengan Pak Hari dan Khairi di depan. Afrin, Bu Nur dan Laily duduk di belakang.
"Kamu semalam nggak tidur, Nak?" tanya Bu Nur pada Khairi. "Kalau begitu, kita kembali ke rumah saja. Biar kamu bisa istirahat dan tidur."
"Aku tidak apa-apa, Ma," sahut Khairi dengan tersenyum.
.
.
.
__ADS_1