
"Jika aku bilang, lepaskan aku. Apa kamu akan melepaskanku?" tanya Fazilah.
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku sudah sampai sejauh ini dan hatiku pun sudah terpaut padamu. Aku akan memperjuangkan kamu, apapun yang akan terjadi meskipun kamu menolaknya."
"Jadi, untuk apa kamu bertanya jika akhirnya kamu tahu jawabannya."
"Apa kamu akan membatalkan pernikahan ini?"
"Bukankah kamu bilang tidak akan melepaskanku? Begitupun dengan keluargamu dan juga mamaku, mereka tidak akan membiarkan semua itu terjadi dan aku tidak sampai hati jika harus menyakiti dan mempermalukan mama. Sudah cukup pengorbanannya selama ini."
Hisyam menatap Fazilah, sungguh hal seperti ini yang semakin membuat Hisyam tidak akan melepaskan wanita itu. Ia yakin, Fazilah akan menjadi seorang ibu yang hebat untuk anak-anaknya nanti.
Fazilah rela melepaskan cintanya agar semua orang bahagia, meski ia harus mengorbankan kebahagiaannya.
"Kenapa kamu tidak berusaha untuk bersamanya Jika kamu masih mencintainya."
"Karena aku percaya Jika dia memang jodohku, kami akan dipersatukan, tapi jika tidak, mungkin lebih baik kami di jalan masing-masing."
"Apa kamu sangat mencintainya?"
"Aku tidak perlu menjawabnya, bukan? Biarlah itu menjadi rahasiaku dan mungkin akan selamanya menjadi rahasiaku."
"Maaf, aku tidak bisa melepaskanmu, mungkin kamu akan menganggapku egois, tapi sama sepertimu, aku juga tidak mungkin menyakiti keluargaku dan yang paling utama, aku tidak mungkin melepaskan wanita secantik dan sebaik dirimu."
Itu merupakan kalimat sanjungan, tapi entah kenapa Fazilah sama sekali tidak merasa tersanjung ataupun berbunga-bunga.
Kalimat yang manis, tetapi terasa hambar di telinga Fazilah, mungkin jika orang yang mengatakannya adalah orang yang yang ada dalam hatinya, itu akan terdengar indah.
Hisyam bisa melihat tatapan Fazilah yang kosong seperti, tidak bernyawa. Entah kenapa senyum wanita itu terasa hambar, tidak seperti Fazilah biasanya, meskipun ia tahu penyebabnya, ia tidak akan bisa memenuhinya.
*****
Siang hari ponsel Emran terus saja berdering, tertera nama Celina di sana, pemilik ponsel sama sekali tidak berniat mengangkatnya.
Emran mengingat pesan mamanya untuk menjauhi Celina, ia juga tidak ingin menyakiti perasaan Yasna, ia mencoba menjadi seorang suami yang sepenuhnya menjaga perasaan istri.
Sebuah pesan masuk, Emran pun tidak berniat untuk membacanya, ia memasukkan ponselnya ke dalam laci, ia lebih memilih konsentrasi pada pekerjaannya saja.
Sementara Celina di rumah tengah menggerutu karena saat ini badan Revan kembali panas, dengan terpaksa ia menghubungi sang suami untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Revan?" tanya suami Celina, saat baru datang.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa."
"Apa kamu bercanda! Aku sedang ada meeting, kamu menghubungiku dan memintaku segera pulang karena Revan kembali demam, sekarang apa?"
"Tadi memang demam lalu aku memberikannya obat penurun demam dan sekarang demam nya sudah turun."
"Seharusnya tadi kamu bilang kalau demam Revan sudah turun. Kamu pasti tadi menghubungi Emran dan dia tidak bisa datang, kan?"
"Tidak, kamu kenapa sih? Selalu menuduhku yang tidak-tidak."
"Karena memang kenyataannya seperti itu, begitu cintanya kamu padanya, hingga tidak bisa melihat kalau dia sudah punya istri dan kamu sudah punya suami."
"Terserah," ucap Celina kemudian berlalu memasuki kamarnya.
Celina kesal pada suaminya, dia menghubunginya juga karena Revan, tapi kenapa dia seperti sangat keberatan?
Itu juga yang membuat Celina iri pada Yasna, Emran begitu sangat baik dalam memperlakukan istrinya, padahal dari yang ia dengar, Yasna tidak bisa memberinya anak.
Berbeda dengan suami Celina yang sama sekali tidak pernah romantis padanya, yang paling membuat Celina sedih, suaminya itu tidak pernah menyayangi kedua anak Celina dari almarhum Amir, adik Emran.
'Mas, kenapa kamu begitu cepat meninggalkan kami? Aku ingin menitipkan mereka pada Kak Emran, tapi itu artinya aku harus jauh dari mereka dan aku tidak bisa melakukannya.' batin Celina.
*****
"Kamu mau bicara denganku?" tanya Hisyam.
"Iya, hanya sebentar."
Hisyam merasa aneh karena ia tidak begitu dekat dengan adik iparnya itu, apalagi sampai bicara berdua saja, ia takut akan jadi fitnah nanti.
"Apa tidak apa-apa, kalau hanya bicara berdua saja?"
"Tidak, sama Mas Irfan juga kok," jawab Nuri, Irfan adalah suami Nuri.
"Baiklah, kita bicara di mana?"
"Di taman belakang saja, Mas Irfan sudah menunggu di sana."
"Kamu duluan saja, nanti aku akan ke sana."
Nuri pergi lebih dulu, tidak lama setelah itu disusul Hisyam. Mereka duduk di kursi yang memang yang sudah menjadi tempat bagi keluarga ini untuk bersantai.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Hisyam yang baru saja duduk.
"Bolehkah aku meminta sesuatu pada kakak?"
"Minta apa?"
"Aku mohon, tolong batalkan pernikahan Kakak dengan Fazilah."
"Kenapa kamu tiba-tiba minta Kakak Untuk membatalkan pernikahan ini, Sayang?" tanya Irfan suami Nuri.
"Iya, kenapa kamu tiba-tiba memintaku untuk membatalkan pernikahan ini? Kamu tahu 'kan pernikahan ini sudah disusun oleh keluarga?" tanya Hisyam.
"Sebenarnya fadzilah adalah sahabatku, aku sudah sangat menyakitinya." Nuri pun menceritakan semua kejadian masa lalu kepada suami dan juga kakak iparnya.
Hisyam sangat terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka itulah yang membuat Fazila dan mantannya itu putus. Pantas saja mereka masih saling mencintai, apalagi cinta Hafidz pada Fazilah ternyata sangat besar.
"Begitulah, Kak. Semua kesalahanku ... aku yang membuat mereka berpisah jadi, aku mohon kepada kakak, tolong batalkan pernikahan ini karena aku tahu Fazilah tidak akan mungkin membatalkan pernikahan ini, meskipun dia harus terluka karena itu."
"Bagaimana kamu tahu kalau dia terluka jika menikah denganku? Apa aku tidak cukup baik untuknya?"
"Aku sudah pernah mengalami, menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak pernah mencintai kita. Meskipun aku mencintainya dengan sepenuh hati."
"Dulu kamu menikah dengan Irfan Juga tidak ada cinta, sekarang kalian saling mencintai dan aku yakin bisa seperti kalian?"
"Kakak, yakin bisa membuat Fazila jatuh cinta pada kakak?"
Hisyam diam tidak bisa mengatakan apapun, dia juga tidak yakin apa Fazilah bisa jatuh cinta padanya nanti.
"Apa yang membuatmu ragu jika Fazilah tidak aku jatuh cinta padaku?"
"Aku sangat mengenalnya, dia orang yang sangat keras kepala Mungkin dia akan bersikap baik kepada kakak, karena menghormati Kakak sebagai suaminya, tapi aku tidak yakin dia bisa menyerahkan hatinya untuk kakak. Aku sangat mengenalnya dari kecil, kami dulu sering bersama kemanapun."
"Apa yang membuatmu yakin jika mereka bersama mereka akan bahagia?"
"Hubungan Hisyam dan Fazilah bertahan cukup lama karena mereka berdua sama-sama memiliki kesetiaan yang tinggi. Kakak boleh mengatakan Aku sok tahu atau sok bijak, tapi itulah yang aku tahu tentang mereka, buktinya setelah sekian tahun perasaan mereka tetap sama meski tidak pernah bertemu."
.
.
.
__ADS_1
.
.