Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
40. Setuju


__ADS_3

"Bunda nggak ke sini, Oma?" tanya Afrin.


Saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi, mungkin karena beberapa hari ini Yasna sering datang jadi, terasa aneh jika Yasna tidak ada.


"Tidak, nanti juga ketemu, kan? Di sekolah," jawab Karina.


"Kenapa bunda tidak tidul di sini saja?"


"Kalau Afrin mau bunda tidur di sini, Afrin harus banyak berdoa."


"Kata teman Alin, Papa sama bunda harus nikah dulu. Kenapa Papa sama bunda nggak nikah?"


Karina dan Emran saling tatap, mereka bingung harus menjelaskan apa. Afrin masih terlalu kecil untuk mengerti.


"Hari ini, Afrin mau dibawain bekal apa?" Karina mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Alin mau puding saja."


"Kebetulan, Oma buat puding dengan dua rasa, ada coklat sama strawberry, Afrin mau rasa apa?"


"Mau dua-duanya, nanti yang coklat buat bunda, yang strawberry buat Alin."


Karina memasukkan puding ke dalam kotak makan untuk bekal Afrin. Mereka melanjutkan sarapan. Hari ini Emran tidak mengantar anak-anak, siang nanti ada meeting. Karina yang akan mengantar mereka sekolah.


"Kalian diantar Oma, ya. Papa ada meeting," ucap Emran.


"Iya, Pa."


Afrin lebih dulu keluar bersama Karina. Aydin juga akan pergi, baru satu langkah, anak itu berbalik dan mengatakan sesuatu pada Emran.


"Kalau Papa mau nikah sama Tante Yasna, Aydin setuju." Aydin segera pergi tanpa menunggu sahutan Emran.


Emran masih melongo mendengar ucapan Aydin, ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, tetapi Aydin bukanlah orang yang suka berbasa-basi, pasti yang dikatakannya tadi adalah kebenaran.


Emran sangat senang, ia akan memberitahu Yasna. Tidak, dia akan bicara secara langsung pada calon istrinya itu, ia akan membuat janji makan siang atau makan malam.


Sedangkan di tempat lain, Yasna baru sampai di gedung ia biasa mengajar, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.


Emran:


"Nanti siang, aku tunggu di restoran xxx. Jangan sampai lupa."


Yasna:


"Iya, Mas."


'Kenapa Mas Emran ngajak makan siang? Apa telah terjadi sesuatu?' tanya Yasna dalam hati.


*****


Pukul 12:00 siang. Emran menunggu Yasna di restoran tempat yang sudah ia janjikan, bukan restoran mewah apalagi romantis, hanya restoran sederhana. Namun, sangat nyaman, membuat orang betah berlama-lama di sana. Tidak lama yang ditunggu pun datang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Maaf, Mas. Lama nunggunya?"


" Tidak, saya juga baru datang."


"Kamu mau pesan apa?" Emran memberikan buku menu pada Yasna.


Yasna menyebutkan pesanannya dan ditulis oleh pelayan yang baru saja datang.


"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

__ADS_1


"Apa harus ada sesuatu jika aku ingin makan denganmu?"


"Biasanya kita selalu makan rame-rame, aneh saja, saat Mas ngajak makan siang berdua."


"Mungkin, setelah ini kita akan sering makan berdua."


"Maksud, Mas?"


"Na, Aydin sudah setuju dengan pernikahan kita."


"Mas, serius?"


"Aku tidak pernah bercanda, tentang masa depan kita."


"Apa Mas yakin? Apa Aydin tidak sedang bercanda?"


"Aydin bukan orang yang seperti itu. Kalau kamu tidak percaya, nanti atau besok, kamu bisa datang ke rumah dan berbicara dengannya."


Yasna mengangguk, ia menyetujui saran Emran, ia juga ingin sekali berbicara dengan Aydin. Selama ini ia tidak pernah berbicara berdua dengan anak itu.


"Aku juga ingin bicara dengannya." Yasna tersrnyum, ia tidak sabar ingin bertemu dan bicara dari hati ke hati, dengan calon anak sambungnya itu.


Seorang pelayan datang, menghidangkan makanan pesanan mereka.


"Makanlah dulu, kamu butuh banyak energi untuk menghadapi Aydin."


Yasna terkekeh mendengarnya.


"Dia nggak sekejam itu. Aku yakin dia masih memiliki sisi anak-anak, meski dia selalu menolak jika dibilang anak kecil."


Usai makan siang, Emran kembali ke kantor. Sementara Yasna, ia akan ke rumah Emran, ia ingin mendengar secara langsung dari mulut Aydin, jika ia telah mengizinkannya menjadi ibu sambung untuk dirinya dan Afrin.


"Assalamualaikum."


"Saya bawa motor, Bu."


"Ayo, masuk! Tapi Afrin baru saja tidur."


"Tidak apa-apa, Bu. Kalau Aydin dimana?"


"Dia selalu di kamar, keluar cuma makan saja."


"Boleh saya ke sana, Bu?"


"Boleh, tapi jika dia marah, jangan diambil hati, ya!"


"Iya, Bu." Yasna berjalan menuju kamar Aydin. Beberapa kali ke sini, membuat Yasna tahu di mana letak kamar para penghuni rumah ini.


Yasna mengetuk pintu kamar Aydin beberapa kali, pemilik kamar akhirnya membukakan pintu dengan kesal. Yasna tersenyum menanggapinya.


"Boleh Tante masuk? ... ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan."


Aydin hanya melebarkan pintu tanpa berkata apapun. Yasna berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Sini." Yasna menepuk sisi sebelahnya, ia meminta agar Aydin duduk.


Aydin menurutinya tanpa banyak berkata, ia duduk sedikit jauh dari Yasna.


"Tante ingin bertanya, kamu jawab jujur, ya? ... apa benar kamu sudah setuju, Tante menikah sama papa?"


"Iya."


"Apa itu tulus dari dalam hatimu? Atau ada orang yang memeksamu? Tante nggak mau, kalau kamu menerima Tante hanya karena terpaksa, kalau kamu tidak suka, katakan? Tante akan dengan senang hati mendengarnya."


"Boleh aku tanya sesuatu?"

__ADS_1


"Ya, silakan."


"Apa Tante akan selalu menyayangi aku dan adek selamanya? Apa Tante akan adil pada kami jika Suatu hari nanti, Tante memiliki anak?"


"Jika Tante memiliki anak, Tante akan tetap selalu menyayangi kalian, dalam keadaan apapun, tapi Tante tidak akan bisa memiliki anak. Apa kamu tidak keberatan jika hanya memiliki satu adik saja?"


"Kenapa Tante tidak bisa memiliki anak?"


"Jika sudah saatnya, kamu pasti akan mengerti."


"Aku tidak keberatan jika hanya memiliki satu adik, lagi pula banyak anak kecil, terlalu merepotkan."


Yasna tersenyum, benar seperti yang ia perkirakan, Aydin bukan orang yang kaku, ia hanya perlu mendekatkan diri.


"Jadi kamu sungguh, sudah ikhlas jika Tante menikah sama papa?"


Aydin hanya mengangguk, membuat Yasna tersenyum.


Pintu kamar terbuka, terlihat Afrin yang baru bangun tidur di sana.


"Bunda," panggil Afrin.


"Kok tahu Bunda ada di sini?"


"Ada motol Bunda di lual, aku tanya oma, oma bilang Bunda ada di sini."


"Ayo, keluar! Kakak mau istirahat," ajak Yasna. "Tante keluar dulu, ya?"


"Heemm," gumam Aydin sebagai jawaban.


Yasna menggendong Afrin meninggalkan kamar Aydin.


"Oma di mana?"


"Di sana." Afrin menunjuk arah ruang keluarga dan ternyata benar, Karina berada di sana.


Yasna duduk di sofa, ia juga mendudukkan Afrin di sampingnya.


"Na, maaf, Ibu tadi mendengar kalian berbicara, apa benar Aydin sudah setuju, kamu dan Emran menikah?" tanya Karina.


"Iya, Bu."


"Alhamdulillah."


"Bu, apa Ibu akan merestui kami?"


"Tentu, kalau tidak, sudah pasti kamu tidak akan ada di sini."


"Terima kasih, Bu."


Yasna sangat bahagia hari ini, semua orang di keluarga ini menerima dan menyayanginya.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komennya ya!


Sambil nunggu up yuk mampir ke karya teman-teman saya yang berjudul "Camelia Chen"


__ADS_1


__ADS_2