
"Assalamualaikum," ucap Afrin yang baru pulang sekolah. Dia datang bersama dengan sahabatnya Nuri. Ini pertama kalinya gadis itu membawa seorang teman ke rumah.
"Waalaikumsalam, sudah pulang, Sayang. Ada teman kamu juga?" tanya Yasna.
"Selamat siang, Tante. Perkenalkan nama saya Nuri," ucap Nuri sambil mencium punggung tangan Yasna.
"Panggil Bunda saja, ya."
"Iya, Bunda."
"Nuri mau nginap di sini, boleh, kan, Bunda?" tanya Afrin.
"Tentu boleh. Bunda seneng, rumah ini makin rame."
"Makasih, Bunda. Kami masuk dulu. Masih ada tugas sekolah yang harus diselesaikan." Afrin berjalan ke kamarnya sambil menarik tangan sahabatnya itu. Namun, dicegah oleh Yasna.
"Makan siang dulu!"
"Kami sudah makan siang di luar, Bunda."
"Ya sudah, biar nanti Mbak Rani yang bawain minuman ke kamar kamu."
"Makasih, Bunda." Afrin mengajak Nuri masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.
Nuri begitu kagum dengan isi rumah Afrin. Baru kali ini dia datang ke rumah yang semewah ini. Bahkan rumah Vira saja tidak sebesar ini. Gadis itu berpikir bahwa Afrin pasti lebih kaya dari Vira, tapi dia senang karena temannya ini tidak sombong.
Afrin memang berbeda dengan Vira yang sombong dan suka memerintah. Meski mereka berteman, tapi Vira suka bersikap seenaknya pada yang lain.
"Ayo, masuk, Ri!" ajak Afrin setelah membuka pintu kamarnya.
"Kamar kamu bagus sekali, Frin. Ini besar banget. Kalau disamain sama rumahku, ini, mah, separuh dari rumahku," ucap Nuri sambil melihat isi kamar Afrin.
"Sebesar apapun rumah itu, yang penting nyaman untuk kita tinggali," sahut Afrin. "Kamu kalau mau mandi di sana, ya, kamu pakai saja baju aku. Ada di lemari itu," tunjuk Afrin.
"Nggak, ah, aku takut mengotori kamar mandi kamu."
"Ih, apaan, sih, enggak boleh kayak gitu. Kamu kayak nggak tahu aku aja. Kita sudah berteman lama."
"Nggak pa-pa, nih?" tanya Nuri dengan ragu-ragu.
"Iya, enggak apa-apa," jawab Afrin. "Handuknya ada di dalam kamar mandi juga."
"Iya."
Sementara Nuri memasuki kamar mandi. Afrin merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil memainkan ponsel. Tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saat dia baca ternyata itu pesan dari Ihsan. Gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya. Afrin lebih suka membalas pesan dari teman-temannya.
Terdengar pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar. Karena terlalu malas bangun, Afrin meminta orang itu masuk.
"Masuk," ucap Afrin dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
Orang itu pun membuka pintu kamar dan masuk. Ternyata adalah Rani yang membawa minuman dan juga cemilan.
"Ini minuman dan kue buatan Ibu tadi pagi, Non."
"Bunda buat kue lagi?" tanya Afrin. Semua orang sudah melarang Yasna untuk melakukan pekerjaan di dapur, tapi wanita itu tidak mau mendengarkannya .
Afrin mengerti, karena dapur adalah tempat favorit wanita itu selain taman. Di tempat itu Yasna bisa berkreasi sesuai keinginannya. Seperti hari ini, membuat kue. Padahal kue buatannya kemarin masih ada.
"Iya, Non."
"Bunda suka sekali buat kue."
"Iya, padahal kue yang kemarin masih ada."
"Ya sudah, Mbak. Taruh di situ saja."
"Iya, Non. Saya permisi," pamit Rani yang diangguki Afrin.
"Ada apa, Frin?" tanya Nuri yang baru keluar dari kamar mandi.
"Nggak ada apa-apa, barusan ada Mbak Rani mengantar minuman sama kue itu, ada di meja. Kalau kamu mau, makan saja."
"Ini kue buatan Bunda kamu?"
"Iya."
"Pasti rasanya enak. Kamu juga sering bawa ke sekolah."
"Aku makan, ya?"
"Iya, makan saja," jawab Afrin. "Aku mau mandi dulu." Afrin beranjak menuju kamar mandi.
"Eh, tapi handuknya aku masih pakai."
"Tidak apa-apa, masih ada handuk di dalam. Kamu jangan lupa pakai baju, nanti tahu-tahu ada cowok masuk kamar, baru tahu rasa."
"Kamu nggak kunci pintunya? Terus aku gantinya di mana, dong?"
"Kalau mau ganti, masuk sana, Sayang," tunjuk Afrin pada sebuah ruang ganti.
"Luar biasa memang. Buat ganti baju saja, ada ruangannya sendiri," gumam Nuri yang tidak mungkin didengar oleh Afrin, karena gadis itu sudah masuk ke kamar mandi.
Saat membuka lemari, Nuri terkejut melihat baju afrin yang begitu banyak dan bagus-bagus.
"Wah! Ini lemari baju atau toko pakaian banyak banget bajunya dan bagus-bagus lagi." Disentuhnya baju-baju itu membuat Nuri semakin kagum.
"Kainnya juga halus. Ini pasti harganya sangat mahal. Aku pakai baju yang mana? Di sini mana ada baju yang murah." Nuri mencoba untuk mencari pakaian yang jelek. Namun, Gadis itu tidak menemukannya.
"Ya ampun! Dari tadi kamu belum pakaian juga!" seru Afrin yang sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Aku bingung mau pakai baju apa? Baju kamu semuanya bagus-bagus, mana tega aku memakainya."
"Kamu ini ada-ada saja, pake nggak tega segala. Kamu pikir baju bisa ngomong. Pakai ini saja, jangan pakai bekas aku."
Afrin memberi baju yang masih berada di papper bag. Dia tidak mungkin memberi baju bekas pada temannya.
"Ini masih baru, aku pakai bekas kamu saja. Masa pinjam pakai baju baru?"
"Nggak pa-pa, sudah pakai baju itu saja. Nanti ada kakak masuk."
Mau tidak mau, Nuri segera memakai baju yang diberikan oleh Afrin. Tubuh mereka memang sama hingga baju itu terlihat sangat cocok di tubuh Nuri.
"Cantik sekali kamu, Ri," puji Afrin saat melihat sahabatnya itu keluar dari ruang ganti.
"Aku nggak pede, Frin. Beneran, deh. Nggak ada baju yang jelek apa? Baju kamu bagus semua."
"Kalau jelek mah udah dibuang. Memang kamu mau pakai baju yang sudah bolong-bolong?"
"Ya, nggak gitu juga," jawab Nuri. "Baju ini terlalu bagus.
"Sudah, kamu terlihat sangat cantik. Nanti pasti banyak cowok yang klepek-klepek sama kamu."
"Kamu bukannya menghibur, malah makin membuatku nggak percaya diri saja." sahut Nuri dengan cemberut.
Nuri memang tidak pernah pacaran. Orang tuanya mengajarkan untuk tidak dekat dengan pria manapun karena itu, dia tidak pernah menanggapi setiap pria yang ingin mendekatinya. Bahkan tak jarang Nuri juga meminta teman-temannya untuk mengusir setiap pria yang datang menggodanya.
"Bentar, ya. Aku mau ganti baju dulu, setelah itu kita kerjain tugas." Afrin segera beranjak menuju ruang ganti.
"Iya."
'Semoga kamu tetap seperti ini, Frin. Tidak seperti teman kita lainnya. Aku yakin kamu akan selalu baik,'
Sambil menunggu Afrin, Nuri membuka bukunya. Dia juga mengambil buku Afrin yang ada di meja belajar. Tidak lupa kue yang disuguhkan menemani kesendiriannya.
"Kamu kenapa nyiapin bukuku juga? Aku bisa sendiri," tanya Afrin. Dia merasa tidak enak pada Nuri, seolah menganggap temannya itu asistennya.
"Nggak pa-pa, cuma sedikit doang."
"Lain kali jangan seperti ini, ya."
"Iya."
.
.
.
.
__ADS_1
.