Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
47. Di rumah Ibu


__ADS_3

"Assalamualaikum." Yasna mengetuk pintu sambil berteriak.


"Waalikumsalam."


Pintu terbuka, tampak Alina tersenyum menyambut anak dan menantunya.


"Kalian sudah datang, ayo, masuk!"


"Ayah mana, Bu?" tanya Yasna.


"Ayah sudah berangkat kerja."


"Kenapa Ayah masih kerja? Aku kan sudah minta Ayah supaya berhenti kerja, kenapa belum berhenti?"


"Ayahmu itu keras kepala, sama sepertimu."


Yasna mendengus mendengar cibiran ibunya, padahan ibunya jauh lebih keras kepala.


"Kakak sudah pulang, Bu?"


"Belum, dia keluar, katanya ada janji sama teman-temannya."


"Memang Ayah bekerja dimana, bu?" tanya Emran.


"Perusahaan minyak, sebagai HRD," jawab Alina. "Na, buatin minum buat suamimu."


"Nggak usah, Bu. Nanti kalau saya haus bisa ambil sendiri," tolak Emran.


"Mana boleh begitu, cepat buatin, Na!"


"Iya, Bu." Yasna pergi membuatkan minuman untuk suaminya.


"Nak Emran, Ibu minta satu hal padamu, tolong jangan sakiti Yasna. Dia sudah cukup menderita selama ini, dia tidak pernah cerita apapun yang dialaminya selama menjadi istri, tapi Ibu tahu kalau dia menderita, dia selalu direndahkan oleh mertuanya, karena kekurangannya sebagai istri. Seandainya Nak Emran sudah tidak mencintainya lagi, tolong kembalikakan dia pada Ibu dengan baik-baik." Alina meneteskan air mata saat mengatakannya.


Emran mendekati Alina dan menggenggam tangan mertuanya itu. "Bu, jangan bicara seperti itu, saya akan berusaha membahagiakan Yasna, Ibu cukup mendoakan kami agar rumah tangga kami diberi keberkahan. Aku yakin doa Ibu pasti akan terkabul."


"Ibu pasti akan selalu mendoakan kalian."


"Ada apa? kenapa Ibu menangis?" tanya Yasna yang baru saja keluar.


"Tidak ada apa-apa," jawab Alina.


"Tidak ada apa-apa, kok menangis?"


"Sudahlah, kamu temani suamimu, Ibu mau buat kue, nanti kalian bawa pulang." Alina masuk ke dapur meninggalkan Yasna bersama suaminya.


"Mas, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Ayo, aku bantu kemasin barang-barang kamu."


Yasna sebenarnya masih ingin tahu, apa yang Suami dan ibunya bicarakan, hingga membuat ibunya menangis, tapi sepertinya baik ibu atau suaminya tidak ada yang ingin menjelaskan.


Yasna memasuki kamarnya diikuti oleh Emran, kamar sederhana yang ukurannya hanya setengah dari kamar suaminya. Mereka memasukkan baju dan keperluan Yasna lainnya ke dalam koper dan tas.

__ADS_1


"Mas, kita nggak jemput anak-anak?"


"Tadi aku sudah hubungin Pak Hari buat jemput mereka."


"Kita pulangnya sore aja ya, Mas. Sekalian pamit sama Ayah aku juga belum bertemu ponakanku."


"Iya, terserah kamu saja." Emran merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia merasa tubuhnya sangat lelah.


Yasna memasukkan alat make up-nya ke dalam tas kecil.


"Alhamdulillah, sudah selesai, Mas ....


Ucapan Yasna terhenti saat ia melihat Emran yang sudah tertidur, ia tersenyum saat melihat sang suami merasa nyaman berada di rumahnya, padahal jika dibandingkan dengan rumah Emran, sangat jauh sekali perbedaannya.


Yasna ikut merebahkan tubuhnya di samping Emran, ia memeluk suaminya itu dari samping, sesuatu yang akan menjadi kebiasaannya mulai sekarang. Mereka akhirnya tertidur hingga sore hari.


Sore hari Hilman pulang dari kantor, ia melihat ada mobil Emran terparkir di depan rumah, ia yakin anak dan menantunya pasti datang. Gibran, istri dan anak-anaknya juga sudah datang.


"Ayah lihat ada mobil Emran di depan, Bu, tapi kok rumah sepi."


"Mereka di belakang, lagi sama Gibran dan keluarganya, sebaiknya Ayah mandi dulu."


Hilman mengangguk dan berlalu menuju kamar, sementara Alina membuatkan teh hangat untuk suaminya, kebiasaan Hilman yang selalu dilakukannya sepulang kerja.


"Kamu sudah berapa lama kenal adikku?" tanya Gibran.


"Sekitar lima bulan yang lalu," jawab Emran.


"Kalian baru kenal, kenapa kamu begitu yakin ingin menikah dengannya? Apa kamu tidak takut kalau dia hanya ingin memanfaatkanmu?"


"Jangan pernah menyakitinya, sudah cukup satu pria saja yang membuat dia menangis."


"Aku akan berusaha agar membuatnya bahagia."


"Mas, Afrin di rumah nangis terus, pulang, yuk!" ajak Yasna.


"Nangis kenapa?" tanya Emran.


"Dia nyariin aku dari tadi."


Emran menghela nafas, selama ia menjadi papanya tidak pernah sekalipun Afrin menangis karena mencarinya, tetapi kenapa sekarang saat Yasna tidak ada di rumah ia menangis? Bukankah itu berlebihan? Ia jadi tidak bisa berduaan dengan istrinya ini.


"Baiklah, ayo!"


Mereka masuk ke kamar, mereka akan mandi lebih dulu dan bersiap untuk pulang. Yasna sebenarnya belum ingin kembali, ia masih merindukan kakaknya, tapi ia sudah punya tanggung jawab di rumah.


Mereka keluar dari kamar mencari ayah dan ibu Yasna untuk berpamitan.


"Kalian sudah mau pulang? Ayah baru saja datang, kenapa tidak makan dulu?"


"Tidak usah, Bu! Di rumah Afrin sudah nangis nyariin aku," tolak Yasna.


"Lain kali ajak cucu Ibu ke sini."

__ADS_1


"Iya, Bu."


"Kalian mau pulang?" tanya Hilman yang baru keluar.


"Iya, Yah." Yasna memeluk ayahnya.


"Jaga diri baik-baik, nurut sama suami, jangan membantahnya selama itu masih di jalan yang benar," bisik Hilman yang masih bisa di dengar semua orang.


Yasna hanya mengangguk dalam pelukan ayahnya.


"Terima kasih, Ayah sudah didik Yasna dengan baik hingga seperti sekarang," ucap Yasna yang diangguki pula oleh ayahnya, ia melepas pelukannya dan beralih pada Gibran dan yang lainnya, terakhir ia memeluk ibunya, orang tua sekaligus teman bagi Yasna.


"Makasih ya, Bu, atas semua yang Ibu berikan buat Yasna, aku pasti akan sangat merindukan Ibu."


"Kalau kamu rindu, datanglah! Ajak cucu-cucu Mama juga."


"Pasti, aku akan ajak mereka ke sini."


"Ini kue buat keluargamu, tadi Ibu sengaja membuat banyak."


"Terima kasih, Bu. Seharusnya Ibu nggak perlu capek-capek membuatnya."


Emran menyalami seluruh keluarga Yasna satu per satu, banyak wejangan yang ia dapatkan dari mereka. Emran senang, keluarga Yasna sudah menganggap anak-anaknya, sebagai cucu dan ponakan bagi mereka.


Emran dan Yasna meninggalkan rumah orang tuanya, ada kesedihan dalam hati Yasna saat meninggalkan rumah itu, tapi sebisa mungkin ia tahan, ia tidak ingin membuat Emran khawatir.


"Lain kali kita berkunjung lagi." Emran seolah mengerti apa yang ada dipikiran Yasna.


"Iya, Mas."


Emran tahu, pasti berat untuk Yasna meninggalkan orang-orang yang sangat mencintainya.


"Aku heran sama Afrin, selama ini dia tidak pernah seperti ini, dia tidak pernah mencariku sambil menangis, tapi kenapa sekarang dia berlebihan begitu?"


"Mas iri padaku?"


"Tidak."


"Benar?"


"Tidak."


Yasna tertawa mendengarnya, Emran hanya menggelengkan kepalanya.


'Tetaplah seperti ini, aku hanya ingin melihat tawamu, bukan kesedihanmu,' batin Emran.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2