Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
91. S2 - Tidak mau


__ADS_3

Emran lebih dulu mengantar Afrin ke sekolah. Dia menurunkan putrinya di halte, yang tidak jauh dari sekolah.


"Sudah, Pa. Di sini saja," ucap Afrin.


Emran menepikan mobilnya, agar putrinya itu bisa turun. Gadis itu mencium punggung tangan Emran dan Aydin, segera dia turun setelah sebelumnya melihat ke sekeliling dan ternyata tidak ada seorangpun, yang melihatnya. Afrin segera berlari meninggalkan mobil Emran. Membuat papanya menggelengkan kepala.


Emran segera melajukan mobilnya, menuju perusahaan tempat dia dan putranya bekerja.


"Kamu mau turun di mana?" tanya Emran pada putranya.


"Nanti, aku tunjukkan," jawab Aydin.


"Lagian, kamu kenapa, pake pura-pura segala? Memangnya apa yang kalian dapatkan dengan berpura-pura seperti ini?"


"Papa kayak nggak tahu aja, semua orang yang dekat dengan kita dulu. Itu semuanya palsu. Mereka mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri dan aku saat ini, pengen seseorang yang benar-benar tulus mau bersahabat denganku dan juga tulus ...." Aydin tidak melanjutkan kata-katanya, dia tersadar jika telah keceplosan.


Emran tersenyun, dia seolah tahu apa yang ada dalam pikiran putranya tersebut. "Tulus mencintai kamu? Kamu mau cari wanita yang tidak memandang harta kamu, gitu maksudnya?"


"Begitulah," jawab Aydin pasrah karena memang itulah tujuannya, untuk mencari seorang wanita, yang tulus mencintainya.


"Kamu tidak harus berpura-pura menjadi miskin untuk mendapatkannya. Buktinya Papa, tanpa harus berpura-pura Papa bisa dapatkan seorang wanita yang tulus mencintai Papa dan anak-anak Papa," Emran membanggakan dirinya, karena bisa mendapatkan istri sebaik Yasna.


"Tidak semua orang seberuntung Papa dan aku hanya ingin yang terbaik untuk masa depanku dan keluargaku kelak." Emran menganggukkan kepala, dia tidak lagi bertanya.


"Terserah kamulah."


Aydin turun sedikit jauh dari perusahaan. Saat pria itu berjalan dia melihat Airin turun dari angkot.


"Airin!" panggil Aydin.


"Mas Aydin!" seru Airin.


"Panggil Aydin saja."


"Nggak enak, Mas. Nggak sopan."

__ADS_1


"Kalau nggak enak dibuang saja."


"Mas, bisa saja." Mereka tertawa bersama.


"Ayo! Kelamaan ngobrol nggak jadi berangkat kita bisa dipecat nanti," ucap Emran.


"Mari, Mas!"


Mereka berjalan sambil berbincang, hingga sampailah di gedung perusahaan. Airin pamit kebelakang karena dia harus mengambil peralatan pekerjaannya. Dia bekerja sebagai seorang cleaning service. Sedangkan Aydin memasuki lift, menuju ke ruangannya, tapi dia terkejut melihat kehadiran Vania yang ada di ruangannya.


"Vania! Kenapa kamu ada di sini?" tanya Afrin.


"Aku tadi ikut sama papa, dia ngizinin aku ke sini. dia juga bilang, kalau aku harus banyak belajar sama kamu agar aku bisa bekerja dengan baik nanti setelah lulus kuliah," jawab Vania panjang lebar.


Aydin menahan kekesalannya. Dia sangat tidak suka pekerjaannya diganggu, apalagi oleh wanita seperti Vania, yang menurut banyak orang, dia wanita baik. Sedangkan menurut Aydin dia sama saja dengan wanita lainnya, hanya menginginkan harta.


Pria itu yakin jika dia bukan anak Emran, sudah pasti wanita itu tidak akan mau susah-susah datang ke sini, untuk belajar bekerja padanya. Lebih baik dia belajar pada papanya.


"Maaf, Va, tapi pekerjaanku hari ini sangat banyak. Aku tidak bisa mengajarimu, sebaiknya kamu belajar pada papamu." Aydin berusaha menolak keinginan Vania dengan hati-hati.


"Kamu memang cantik dan pintar, tapi aku tidak butuh itu untuk wanita yang akan menjadi istriku, yang aku butuhkan adalah seorang wanita yang mampu menjadi ibu dari anak-anakku kelak."


"Apa kamu pikir aku tidak sanggup untuk menjadi seorang ibu?"


"Tidak. Mungkin kamu bisa menjadi seorang ibu untuk anak-anakmu kelak, tapi tidak dengan anak-anakku. Mereka membutuhkan seorang ibu yang mandiri, kuat dan mampu menyayangi mereka melebihi siapapun di dunia ini termasuk aku sebagai ayahnya."


"Kamu sungguh-sungguh menghinaku, kamu lihat saja nanti. Apa yang bisa aku lakukan terhadapmu." Vania pergi begitu saja. Dia benar-benar kesal karena Aydin. Padahal selama ini dia sudah sangat sabar menghadapi pria itu.


"Terserahlah, kalau dia mau bilang sama papanya, yang penting Aku tidak mau diganggu lagi olehnya," gumam Aydin sambil melihat kepergian Vania.


Aydin duduk di kursinya dan mulai mengerjakan pekerjaan. Sementara Vania, kembali ke ruangan papanya dengan kesal. Dia masuk begitu saja, tanpa mengetuk pintu, membuat Romi terkejut.


"Kamu kenapa, sih, Vania. Ketuk pintu dulu sebelum masuk bikin kaget saja," gerutu Romi.


"Pa, Aydin bener-bener keterlaluan. Dia seenaknya saja mengatakan kalau aku, tidak pantas untuk menjadi Ibu dari anak-anaknya. Apa coba maksudnya?" Vania menceritakan semua yang Aydin lakukan padanya.

__ADS_1


Gadis itu ingin Romi membelanya. Namun, ternyata dia salah. Pria paruh baya itu justru mengomelinya karena tidak bisa sabar. Dia sangat tahu bagaimana watak Aydin yang tidak suka dipaksa, termasuk oleh dirinya yang notabene mengetahui rahasianya.


"Papa, kan, sudah bilang. Aydin bukan orang yang bisa dipaksa. Kamu harus pelan-pelan mendekatinya."


"Tapi, ini sudah dua tahun, Pa. Aku capek," keluh Vania.


"Kalau kamu capek, ya sudah, jangan kejar Aydin lagi. Cari pria lain yang mencintai kamu," sahut Romi. "Sudah, Papa juga nggak enak sama Pak Emran. Selama ini dia sudah sangat baik pada Papa."


Romi memang senang jika anaknya, mampu membuat Aydin jatuh cinta, tapi dia juga tidak bisa memaksa pria itu untuk menjadi menantunya. Bisa mengenalnya saja membuat Romi senang karena Aydin, seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Semua pekerjaannya selama ini selalu baik dan tidak pernah mengecewakannya.


Vania menatap papanya kesal karena tidak mau membantu dia mendapatkan hati Aydin. Gadis itu sangat berharap bisa menjadi menantu keluarga Emran. Dia selalu berusaha mencari perhatian keluarga itu, kalau dia berhenti seperti ini, sia-sia saja usahanya selama ini.


"Baiklah, kalau Papa tidak mau membantuku. Aku akan berusaha dengan caraku sendiri." Vania pergi meninggalkan papanya yang menatap kepergiannya dengan cemas.


Romy takut putrinya melakukan sesuatu yang diluar batas. Dia sangat tahu bagaimana perilaku gadis itu, Vania selalu melakukan semuanya sesuai kehendak karena dia selalu dimanja oleh ibunya.


Dia anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Dua orang kakaknya adalah laki-laki. Vania keluar dari perusahaan dengan kesal dan marah. Karena tidak fokus pada jalannya, secara tidak sengaja dia menabrak seorang wanita hingga terjatuh.


"Aduh," rintih wanita itu dengan mengusap tubuhnya yang terbentur.


"Kalau jalan lihat-lihat, dong! Mata kamu taruh di mana?" hardik Vania.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja, tapi Mbak sendiri yang jalan terburu-buru dan nggak lihat saya lagi bersihin lantai," sahut wanita itu, yang tidak lain adalah Arini.


Kekesalan Vania semakin memuncak, dia tidak menyangka seorang cleaning service berani berkata tidak sopan padanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2