
Mereka telah sampai di rumah keluarga Hilman. Nayla dengan terpaksa ikut karena paksaan dari Alina dan juga Yasna. Mereka mengadakan syukuran sekaligus doa bersama untuk almarhum Ibu Asri, Ibu dari Nayla. Para tetangga banyak yang hadir, semakin membuat suasana terasa haru.
Setelah acara selesai, semua orang berkumpul sambil berbincang. Nayla hanya bicara ketika ditanya, selebihnya dia hanya diam. Gadis itu tidak tahu harus berbicara apa. Mereka tidak saling mengenal. Meskipun begitu, Nayla sangat sopan dalam bertutur kata.
"Nayla sudah punya sudah punya pacar atau sudah punya suami?" tanya Aisyah, istri Gibran.
"Belum, Tante. Saya belum memikirkan hal itu, saat ini saya masih ingin mengembangkan butik saya."
"Mudah-mudahan sukses, ya, butiknya dan semakin maju."
"Amin, terima kasih,Tante ... maaf sebelumnya, tapi ini sudah sore, saya harus segera pulang," pamit Nayla, sudah terlalu lama dia berada diantara keluarga ini. Sejujurnya gadis itu merasa senang berada di sini. Mereka tidak ada yang membedakan dirinya.
"Iya, nggak pa-pa," sahut Yasna. "Aydin, kamu antar Nayla, ya!" perintah Yasna.
"Nggak usah, Tante. Saya bisa naik taksi."
"Jangan di sini juga ada mobil. Aydin nganterin sebentar juga nggak pa-pa. Iya, kan, Nak?"
"Iya, Bunda." Terpaksa Aydin menyetujuinya. Dia juga tidak mungkin membiarkan Nayla pulang sendiri. Mengingat apa yang sudah keluarga gadis itu lakukan pada kakeknya.
"Nggak pa-pa, sudah sana!" pungkas Yasna saat melihat Nayla merasa tidak enak.
"Terima kasih, Tante. Kalau begitu saya permisi." Nayla pamit pada semua orang, kemudian pergi mengikuti Aydin.
"Kayaknya Aydin dan Nayla cocok. Kenapa kamu nggak jodohin aja mereka," ucap Aisyah setelah kepergian kedua remaja itu.
"Kamu ini, jangan ikut campur sama urusan orang lain," tegur Gibran. Dia tidak ingin memaksakan Aydin dalam memilih calon istri. Apalagi laki-laki itu bukan anak kandung Yasna.
Meskipun selama ini, Yasna sudah menganggap Aydin sebagai Putra kandungnya. Begitupun sebaliknya. Tetap saja Gibran tidak ingin adiknya terlalu mengatur pemuda itu.
"Kami menyerahkan semuanya pada anak-anak saja, Mbak. Terserah mereka memilih pasangan yang seperti apa," sahut Emran.
Aisyah hanya menganggukkan kepalanya.
*****
Dalam perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Baik Nayla ataupun Aydin tidak ada yang berbicara. Mereka sama-sama terdiam, hanya terdengar suara musik dari radio mobil. Tidak ingin suasana semakin canggung. Aydin pun mulai bertanya.
__ADS_1
"Kamu sudah lama mengenal bunda?"
"Lumayan," jawab Nayla seadanya.
"Kenapa kamu nggak kerja di kantoran saja, kenapa harus membuka butik? Bukankah itu memerlukan usaha yang sangat keras?"
"Selain untuk mewujudkan cita-cita. Saya juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain. Saya ingin mencari nafkah, sekaligus membantu orang lain. Sekarang banyak sekali pengangguran, saya kasihan melihatnya."
"Iya, kamu benar, tapi itu akan sangat memakan waktu."
"Asalkan kita berusaha dengan baik, pasti hasilnya tidak akan mengecewakan," ucap Nayla dengan tersenyum.
Aydin menganggukkan kepalanya. Dia tidak menyangka di zaman seperti, masih ada orang yang peduli pada sesama. Apalagi orangnya seusia Nayla yang biasanya asik memikirkan kesenangan pribadinya.
"Itu rumah saya, Mas," tunjuk Nayla pada sebuah rumah minimalis di pinggir jalan.
Aydin pun menghentikan mobilnya, tepat di depan pagar rumah yang di tunjuk Nayla. Rumah yang terlihat asri dengan berbagai tanaman hias di depannya.
"Mari, Mas! Mampir sebentar," tawar Nayla.
"Tidak perlu, di rumah kakek masih banyak keluarga. Nggak enak kalau pergi lama-lama, saya harus segera pulang."
"Terima kasih, sekali lagi, Mas. Sudah mau mengantar."
"Sama-sama, saya pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aydin segera melajukan mobilnya meninggalkan Nayla, yang masih berdiri di depan pagar rumahnya.
Setelah mobil Aydin tidak terlihat Nayla memasuki rumahnya. Terlihat rumah begitu sepi karena kini, hanya tinggal dia seorang diri di rumah itu. Tidak ada keluarga yang menemaninya. Gadis itu memang memiliki seorang bibi, tapi setelah kakeknya meninggal bibinya merebut semua harta warisan. Bahkan bagian Ibunya Nayla pun diambil.
*****
Dalam perjalanan pulang Aydin berhenti di saat lampu merah menyala. Saat dia melihat sekeliling, pria itu seperti melihat Airin di dalam sebuah mobil mewah. Mobil itu tepat di samping Aydin, saat akan menyapa mobil itu lebih dulu melaju. Pria itu penasaran dan mengikutinya. Namun, karena jalanan yang begitu ramai Aydin kehilangan jejaknya. Dia sempat kecewa, tapi biarlah. Nanti pria itu akan bertanya pada Airin secara langsung.
*****
__ADS_1
Malam ini keluarga Emran memutuskan untuk menginap di rumah Ayah Hilman. Mereka tidur di ruang keluarga, yang kursinya sudah disingkirkan dan di ganti dengan kasur lantai, agar semuanya bisa tidur bersama.
"Menurut, Mbak. Apa Aydin cocok sama Nayla?" tanya Yasna dengan berbisik. Dia tidak ingin siapa pun mendengar pembicaraannya dengan Aisya. Wanita itu hanya ingin tahu pendapat kakak iparnya sebagai sesama wanita.
"Dia wanita yang baik. Aku sangat setuju jika Aydin sama Nayla," jawab Aisyah dengan berbisik juga.
"Aku juga sama, tapi Mas Emran sepertinya tidak setuju. Dia menyerahkan semuanya pada Aydin. Sebenarnya aku juga tidak ingin memaksanya, hanya saja Nayla terlalu baik untuk dilewatkan. Apalagi dia wanita yang mandiri dan aku yakin kalau dia akan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya."
Sebagai seorang ibu, Yasna punya harapan yang besar pada Nayla. Dia akan coba membicarakan hal ini dari hati ke hati bersama Aydin nanti.
"Jadi, menurut kamu bagaimana?"
"Lihat saja nanti, kalau ada waktu. Aku akan mengatakannya pada Aydin. Semoga saja dia menerimanya."
Sementara Emran dan Gibran sedang bermain catur. Aydin sebagai penonton karena dia sama sekali tidak tahu apapun tentang permainan itu. Sedangkan Afrin bermain dengan anak Gibran.
Gibran mempunyai dua anak perempuan, yang pertama sudah menikah dan ikut suaminya dan yang kedua kelas tiga SMA. Dia bernama Gendis. Gadis itu akan bersekolah di tempat Afrin.
Afrin dan Gendis saling bercerita tentang sekolah dan juga teman-temannya. Mereka sangat mudah akrab. Hilman dan Alina merasa senang saat melihat anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul bersama tanpa berselisih dan semoga selamanya akan seperti itu.
"Ibu senang semuanya kembali baik-baik saja, Yah. Apalagi melihat anak-anak berkumpul seperti ini," ucap Alina pada suaminya saat mereka hanya berdua di dalam kamar.
Hilman dan Alina memang tidur di dalam kamar karena Hilman yang baru keluar dari rumah sakit, tidak mungkin harus ikut tidur di lantai.
"Ayah juga senang, Bu. Mungkin ini adalah hikmah dari penyakit Ayah."
"Tapi, Ibu nggak mau Ayah sakit lagi seperti kemarin. Ibu takut sekali melihat Ayah seperti itu.
"Maaf, sudah membuat Ibu khawatir."
.
.
.
.
__ADS_1
.