
"Mas, Ayo, Putri sudah lapar!" ajak Avi.
Namun, sepertinya Zahran tidak memperdulikan keberadaan Avi, ia masih saja menatap Yasna, membuat istrinya itu geram.
"Maaf, saya tidak menawarkan tempat, meja kami hanya untuk empat orang," ujar Emran membuyarkan lamunan Zahran.
"Tidak apa-apa, kami bisa cari tempat lain," sahut Zahran.
"Iya, lagi pula, siapa yang mau makan satu meja dengan wanita mandul," sindir Avi.
"Avi!" Zahran geram dengan ucapan Avi, ingin sekali ia menyumpal mulut wanita itu.
"Sebaiknya jaga mulut Anda," desis Emran.
"Kenapa? Memang--
"Sebaiknya tutup mulutmu, kalau tidak biar aku yang menutupnya," potong Zahran membuat Avi terdiam.
Yasna hanya diam, baginya itu sudah biasa. Lagi pula apa yang dikatakan Avi memang benar, ia tidak bisa memiliki anak. Jadi, untuk apa mempermasalahkan hinaan Avi.
"Kami permisi. Lanjutkan makan kalian." Zahran menarik tangan Avi menjauh.
"Kamu apa-apaan sih! Seharusnya kamu berterima kasih pada Yasna, karena kebaikannya kamu tidak mendekam dibalik jeruji besi dan menjadikan anakmu sebagai anak napi." Zahran memcoba menahan amarahnya, saat ini ia berada di tempat umum, apalagi ada kedua anaknya di sini.
"Dia juga anakmu. Lagi pula, aku tidak akan--
"Diam!"
Avi kesal, lagi-lagi Zahran membela mantan madunya itu. Kapan Zahran akan melihatnya seorang? Avi semakin membenci keberadaan Yasna, tetapi ia masih ingat ancaman Zahran dan mertuanya. Kalau sampai ia mencelakai Yasna lagi, maka ia harus siap angkat kaki dari rumah dan meninggalkan kedua anaknyaa.
Sementara Emran dan Yasna sudah tidak selera makan lagi, mereka lebih banyak diam, hanya sesekali menjawab pertanyanyaan Afrin.
"Kalau sudah, sebaiknya kita pulang," ucap Emran.
"Aydin, Afrin, sudah selesai belum?" tanya Yasna.
"Sudah," jawab mereka bersamaan.
"Ayo! Kita pulang," ajak Yasna.
Emran memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka, setelah itu mereka pergi. Dalam perjalanan pulang Emran dan Yasna masih saja diam. Yasna ingin bicara, tetapi masih ada anak-anak di sini, ia tidak ingin mereka mendengar apa yang ingin ia bicarakan dengan Emran.
Emran melihat ada sebuah taman, ia membelokkan mobilnya mencari tempat parkir, karena ia tahu ada sesuatu yang ingin Yasna katakan.
"Kok ke taman, Pa?" tanya Aydin.
"Iya, kalian senang-senang dulu," jawab Emran.
"Aku sudah besar, Pa. Kenapa di ajak ke tempat seperti ini," gerutu Aydin.
"Sekali-kali temani adikmu main," sahut Emran.
__ADS_1
Aydin semakin cemberut, ia tidak suka bermain di tempat ramai seperti ini, lebih baik ia memainkan game di dalam mobil. Sayangnya Emran sudah mengambil ponselnya tadi.
Emran dan Yasna duduk di bangku di pinggir taman, sementara Aydin menemani Afrin bermain.
"Ada apa? Dari tadi kamu sepertinya gelisah," tanya Emran.
"Apa Mas sudah tahu, siapa pria tadi?" tanya Yasna balik tanpa menjawab pertanyaan Emran.
"Zahran?"
"Iya."
"Yang aku tahu, dia mantan suami kamu, itu saja."
"Mas, tahu dari mana? Apa sebelumnya kalian pernah bertemu?"
"Tidak, aku hanya pernah mendengar namanya disebut, saat kejadian penculikanmu waktu itu. Kalau bertemu secara langsung, baru tadi."
"Maaf, aku tidak pernah cerita tentang dia."
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Tapi aku akan menceritakannya sekarang, itu kalau kamu mau mendengarkan."
"Aku akan mendengarkan semua ceritamu."
Hening sesaat, Yasna berpikir, dari mana ia akan memulai bercerita.
Yasna akhirnya menceritakan semua yang terjadi padanya, ia sudah mencoba menahan air matanya. Namun, tetap saja air mata itu mengalir begitu saja, tanpa dapat dicegah. Menyedihkan, kala kita harus menceritakan kehancuran kita, kepada orang lain. Namun, ia harus tetap menceritakannya, ia tidak ingin itu menjadi masalah dikemudian hari.
Emran masih menyimak dengan baik cerita Yasna, ia juga bukan pria yang baik, tetapi ia akan berusaha membuat Yasna tersenyum. Cukup hari ini ia melihat air mata kesedihan itu.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Emran setelah Yasna selesai bercerita.
"Kalau aku masih mencintainya, tidak mungkin saat ini aku ada di sini bersamamu, aku bukan orang yang suka mempermainkan sebuah hubungan."
"Maaf."
"Tidak apa-apa, Mas punya hak untuk bertanya."
"Sejujurnya aku cemburu padanya, dia sepertinya sangat baik padamu dan itu pasti membekas diingatanmu."
"Iya, dia memang sangat baik, itulah kenapa saat dia membuat kesalahan, itu sangat menyakitkan. Aku tahu, di sini akulah yang memiliki kekurangan, hingga dia mencari wanita lain, yang bisa membuatnya sempurna, tapi aku juga seorang wanita. Meski aku tidak sempurna, bukan berarti aku dengan suka rela berbagi suami dan menyaksikan kemesraan dan kebahagiaan mereka."
"Tapi dari yang aku lihat, sepertinya dia tidak mencintai istrinya."
"Entahlah, itu bukan urusanku lagi," sahut Yasna. "Kalau Mas sendiri? Mas tidak pernah cerita, tentang kehidupan sebelum bertemu denganku. Berapa wanita yang sudah Mas dekati?"
"Aku tidak pernah mendekati mereka. Mereka sendiri yang mendekatiku."
"Kenapa Mas jadi narsis?"
__ADS_1
"Memang kenyataannya seperti itu."
Yasna tertawa mendengar kepercayaan diri Emran, pria yang biasanya berwibawa dan tegas, tiba-tiba membanggakan dirinya.
"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Emran.
"Tidak apa-apa." Yasna berusaha menahan tawanya.
"Huaaaa ... huaa ...."
Terdengar suara Afrin yang menangis, segera Emran dan Yasna berlari menghampirinya.
"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Emran dengan berjongkok.
"Adek jatuh, Pa. Tadi aku sudah ingetin, nggak boleh lari-lari. Dia nggak mau denger," jawab Aydin.
"Mana yang sakit?" tanya Yasna pada Afrin.
Afrin menunjuk lututnya yang lecet sambil menangis.
"Tidak apa-apa, Bunda bersihin dulu, ya?"
"Sakit."
"Pelan-pelan, nggak akan sakit."
Yasna membersihkan lutut Afrin dengan telaten, Afrin meringis kala lututnya terasa perih. Yasna menutup luka dengan plester yang dibeli Emran di sekitar taman.
"Sudah mainnya? Kita pulang, yuk!" ajak Yasna.
"Memangnya Papa sama Tante sudah selesai pacarannya? Lain kali kalu mau pacaran nggak usah ngajak kita." Afrin menyindir dengan suara yang ketus.
"Aydin, ngizinin Papa sama Tante pacaran, nih?" goda Yasna.
"Terserah." Aydin pergi meninggalkan mereka bertiga. Ia merasa malu, karena secara tidak langsung, ia memberi kode bahwa ia sudah setuju dengan hubungan mereka.
Emran dan Yasna terkekeh. Ternyata, Aydin mengerti maksud Emran, mengajak mereka ke taman.
"Afrin, mau digendong Papa?" tanya Emran yang diangguki Afrin.
Mereka meninggalkan taman menuju rumah Yasna. Aydin duduk di deoan dengan Emran, sementara Yasna di belakang bersama Afrin. Sesari tadi Aydin diam saja, beda dengan Afrin yang selalu bermanja-manja dengan Yasna.
Aydin melihat Afrin dari kaca spion, ia dapat melihat betapa sayangnya Yasna pada adiknya. Ia mengukir senyum tanpa diketahui siapapun.
.
.
.
.
__ADS_1