Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
253. S2 - Pelajaran untuk Ivan


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Khairi saat memasuki apartemennya. "Assalamualaikum," ucap Khairi lagi. Namun, belum juga ada jawaban.


Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Seharusnya Afrin sudah pulang, kenapa apartemennya sepi sekali? Pria itu mencoba mencari ke seluruh ruangan. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya. Khairi mencoba menghubungi ponsel istrinya, tetapi nomornya tidak aktif.


"Kamu ke mana sih, Sayang?" gumam Khairi dengan nada khawatir.


Karena terlalu lelah Khairi merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, tanpa terasa matanya tertutup dan akhirnya dia menuju ke alam mimpi. Padahal hari ini pria itu tidak banyak pekerjaan. Hanya memeriksa beberapa dokumen dan meeting bersama mertua dan kakak iparnya.


Tidak berapa lama, pintu apartemen terbuka. Tampak Afrin masuk dengan membawa beberapa kantong kresek. Wanita itu terkejut mendapati sang suami tertidur di sofa ruang tamu. Ini masih siang kenapa suaminya sudah pulang? Belanjaannya dia letakkan di atas meja dan membangunkan sang suami.


"Mas, kenapa tidur di sini? Mas," panggil Afrin dengan menggoyangkan tubuh Khairi. "Mas, bangun! Kenapa tidur di sini?" ulangnya.


Khairi terbangun. Dia menguap sambil menggosok matanya yang sulit terbuka.


"Sayang, kamu sudah pulang! Kamu ke mana saja tadi?"


"Aku tadi belanja. Stok makanan kita sudah habis."


"Ponsel kamu kenapa nggak bisa dihubungi?"


"Baterainya habis, Mas. Aku lupa nggak bawa charger," jawab Afrin. "Kamu ke dalam sana, mandi dulu!"


"Aku masih ngantuk," ucap Khairi sambil memeluk sang istri.


"Kamu tumben pulang jam segini?" tanya Afrin yang masih dalam pelukan sang suami.


"Iya, tadi habis meeting sama papa terus kita makan siang bareng. Habis itu mau ke kantor, tapi malas, ya sudah, pulang saja."


"Mentang-mentang bos seenaknya malas-malasan," cibir Afrin.


"Iya, dong, Sayang. Aku juga jarang sekali bolos kerja, kan! Baru kali ini, sekali-kali boleh lah."


"Terus bagaimana hasil meeting dengan papa?"


"Alhamdulillah, kerjasama kita berhasil jadi, perusahaan sekarang aman. Tinggal cara memajukannya."

__ADS_1


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Berarti aku enggak jadi miskin, dong! Masih bisa belanja apa pun yang kumau."


"Biasanya juga aku kasih kamu buat belanja kamunya yang nggak mau, pakai alasan bisa belanja apa pun," gerutu Khairi.


Afrin hanya tersenyum mendengarnya. Memang selama ini wanita itu tidak pernah menghambur-hamburkan uang suaminya. Dia hanya memakai seperlunya saja mungkin karena didikan Yasna agar tidak boros, menjadi kebiasaan bagi Afrin.


"Sudah sana mandi! Sebentar lagi ashar."


"Iya." Khairi melepaskan pelukannya dan bangkit dari duduknya. Saat akan berjalan Afrin mengatakan sesuatu.


"Kita habis ini ke rumah papa, yuk!"


"Ngapain, Sayang? Baru siang tadi aku ketemu sama papa."


"Bukan papa Emran, tapi papa Hamdan. Kemarin kita main kerumah Papa Emran, kayaknya enggak enak juga enggak main ke rumah Papa Hamdan. Aku juga kangen sama Mama Merry."


Khairi tersenyum mendengarnya. Dia senang ternyata istrinya masih memikirkan Mama Merry, meski wanita paruh baya itu sempat menyakiti hati istrinya.


"Baiklah, aku mandi dulu. Habis ini kita ke sana. Kamu nggak mau mandi bareng sekalian, Sayang?"


"Nggak mau, aku mau beresin belanjaan dulu. Mau masukin ke kulkas, kalau tidak segera dimasukkan bisa busuk sayurannya, nggak bisa dimakan."


*****


"Bagaimana persiapan pernikahan kamu, Ran?" tanya Yasna saat mereka sedang memasak berdua.


Rani menundukkan kepalanya. Wanita itu bingung mau menjawab apa. Dia tidak tahu apa-apa.


"Ran," tegur Yasna.


"Saya tidak tahu, Bu. Semuanya sudah diurus sama Mas Ivan," jawab Rani dengan pelan.


"Memang semuanya sudah diurus sama Ivan. Apa dia tidak memberitahu kamu sudah sejauh mana persiapannya? Jangan bilang kalau kamu tidak pernah berkomunikasi sama dia?"


Rani hanya diam tidak menjawab. Memang kenyataannya seperti itu, Ivan sama sekali tidak menghubunginya meski hanya sekadar memberi kabar tentang persiapan pernikahan mereka. Apalagi bertanya kabar. Diamnya wanita itu sudah menjawab pertanyaan Yasna.

__ADS_1


"Ya ampun, itu orang bener-bener, ya! Mau saya jitak kepalanya kalau ketemu. Sini ponsel kamu! Kamu simpan nomornya, kan?"


"Iya, Bu." Rani memberikan ponselnya pada Yasna. Wanita itu segera mencari nomor Ivan dan menekan tombol memanggil.


"Halo, assalamualaikum," ucap pria yang berada di seberang yang tidak lain pasti Ivan.


"Waalaikumsalam, nanti malam kamu ke sini. Tante mau bicara sama kamu. Assalamualaikum."


Yasna segera menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Rani terkejut mendengar majikan meminta Ivan datang ke sini. Untuk apa? pikirnya.


"Ibu kenapa nyuruh Mas Ivan ke sini Memangnya ada apa?"


"Sudah, kamu diam saja. Biar saya kasih pelajaran itu anak. Berani-beraninya mempermainkan wanita," ucap Yasna dengan menggebu membuat Rani semakin bingung. Apa yang akan dilakukan majikannya itu? Dia berdoa semoga saja Ivan baik-baik saja nanti. Yasna memberikan ponsel Rani.


"Bu, apa tidak apa-apa meminta Mas Ivan datang ke sini?" tanya Rani ingin memastikan. Dia memang menyetujui permintaan Yasna, tetapi tetap saja dia khawatir.


"Sudah kamu ikuti saya saja. Lihat saja nanti, saya akan memberi pria itu pelajaran. Biar dia tidak seenaknya sama kamu, tapi apa itu tidak terlalu berlebihan? Saya merasa tidak enak sama Mas Ivan."


"Kenapa kamu merasa tidak enak?"


"Mas Ivan sudah mau repot mengurusi semua keperluan pernikahan. Bahkan acara di kampung juga semua diurus sama Mas Ivan."


"Anggap saja kamu tidak tahu apa-apa," sahut Yasna.


"Tapi, Ibu pinjam ponsel saya. Bagaimana bisa saya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa," sahut Rani membuat yasna menjadi tahu kalau ternyata, baik Rani maupun Ivan sama-sama bodo amat. Kalau begini kan dia sendiri yang repot, tapi melihat keduanya yang diam-diam membuat Yasna geram.


"Sudahlah, kamu diam saja, nanti juga kamu akan tahu apa yang saya lakukan," ucap Yasna sama membuat Rani diam.


Apa pun yang majikannya nanti lakukan Rani berharap jika Ivan akan baik-baik saja dan tidak sakit hati. Karena wanita itu tahu yang Yasna lakukan, semua demi kebaikannya.


*****


Sementara di apartemennya, Ivan merasa heran. Kenapa mertua dari atasannya itu meminta dia untuk datang ke rumah? Apa ada sesuatu yang terjadi? Bukannya Khairi tidak tinggal di sana? Apa mungkin ini semua berhubungan dengan pernikahannya dengan Rani? Berbagai pertanyaan ada dipikirannya karena rasa penasaran dan tidak ingin membuat Yasna menunggu, akhirnya dia bersiap untuk pergi ke sana.


Dalam perjalanan, pria itu masih saja memikirkan kemungkinan yang terjadi, tapi tidak ada satu jawaban yang bisa membuatnya lega. Tanpa terasa akhirnya dia sampai juga di halaman rumahnya. Tampak mobil Emran dan Aydin. Pria itu segera turun dan memencet bel di samping pintu rumah beberapa kali, hingga akhirnya pintu terbuka. Ternyata Rani, wanita itu cukup terkejut karena Ivan datang lebih cepat dari yang dia kira.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Ivan.


"Waalaikumsalam, Mas. Silakan masuk," sahut Rani.


__ADS_2