
Khairi telah selesai membaca buku diary milik mamanya. Ternyata isinya tentang masa SMA mama dan papanya yang ternyata memang sepasang kekasih. Mereka putus karena kesalahpahaman, Nur difitnah berselingkuh dengan teman Hamdan padahal saat itu, teman pria itu ingin menolongnya yang hampir terjatuh.
Nur menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, tetapi Hamdan tidak percaya. Dia lebih percaya pada apa yang dilihatnya, padahal itu hanya sebuah foto. Wanita itu merasa sakit hati karena sang kekasih tidak mempercayainya.
Nur juga menulis kisahnya saat kuliah, dia menjalani hubungan dengan Adam. Namun, itu hanya berlangsung satu tahun karena pria itu ketahuan selingkuh. Setelah itu dia tidak lagi menjalin hubungan dengan siapa pun.
Setelah lulus kuliah Nur dijodohkan oleh ibu pemilik panti dengan salah satu anak donatur di sana. Wanita itu tidak bisa menolak karena ibu panti memohon padanya. Dia menganggap perjodohan ini adalah hutang yang harus dibayar kepada donatur itu. Hanya orang itu yang selama ini baik pada panti ini.
Betapa terkejutnya Nur saat tahu ternyata pria yang akan dijodohkan dengannya adalah Hamdan, mantan kekasihnya semasa putih abu-abu. Begitu pun dengan pria itu yang tidak bisa menolak keinginan papanya. Jika Hamdan tidak mau, maka dia akan dicoret dari daftar ahli waris.
Saat pertemuan pertama baik Hamdan atau Nur pura-pura tidak saling mengenal. Sikap pria itu pada pada calon istrinya pun dingin karena masih mengingat perpisahan mereka dulu. Dia masih menganggap semua itu kesalahan Nur.
Papanya Hamdan tidak peduli jika anaknya bersikap dingin. Menurutnya lama-kelamaan juga pasti luluh dengan kebaikan Nur. Lain dengan mamanya Hamdan yang sangat menolak perjodohan ini. Padahal dia sudah menyiapkan calon untuk anaknya yang cantik, berpendidikan, dari keluarga kaya tentunya.
Awal pernikahan sikap Hamdan masih dingin, bahkan ibu pria itu juga bersikap acuh. Wanita itu akan bersikap baik pada menantunya jika ada Hamdan dan papanya. Nur diperlakukan layaknya pembantu di rumah mertuanya. Para pembantu tidak ada yang berani mengatakan yang sejujurnya. Mereka takut akan kehilangan pekerjaan.
Hingga beberapa bulan akhirnya Hamdan mulai membuka hati. Nur pun dinyatakan hamil, bahkan saat wanita itu berbadan dua, mertuanya tidak berubah. Pak udin yang diam-diam membantu tanpa ketahuan.
Hidup mereka sangat bahagia setelah Nur melahirkan anak laki-laki. Namun, itu tidak berlangsung lama. Saat usia Khairi dua tahun, kejadian itu pun terjadi. Kejadian yang menghancurkan rumah tangga yang susah payah mereka bangun. Kebaikan yang selama ini wanita itu lakukan tidak berarti sama sekali.
Hancur sudah harapan Nur untuk menua bersama sang suami. Wanita itu menuliskan semua perasaannya pada Hamdan, jika selama ini rasa cintanya begitu besar. Tidak tergoyahkan oleh apa pun.
Cinta semasa putih abu-abu yang sempat kandas itu, bersemi kembali setelah pernikahan terjadi. Walau selama ini dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari mertuanya. Nur tetap sabar selama sang suami menyayangi dan mencintainya.
__ADS_1
Khairi merasa sakit hati. Ternyata omanya ada dibalik ini semua. Apa Papa Hamdan mengetahui semuanya? Kenapa pria itu membiarkannya saja. Apa istrinya sama sekali tidak berharga, hingga tidak dijemput? Berbagai pertanyaan hadir di kepalanya.
Tiba-tiba Khairi teringat jika tadi sudah membentak istrinya. Pasti wanita itu merasa terluka dengan apa yang dikatakannya. Segera pria itu mengemasi kembali buku dan DVD dan masuk ke kamarnya. Dilihat Afrin sudah tertidur, membuatnya membuang napas pelan. ingin membangunkan pun dia tidak tega.
Khairi naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dari belakang. Dia begitu menyesal sudah membentak Afrin. Tidak ada niat melakukan itu, semua keluar begitu saja tanpa bisa dicegah. Semoga besok wanita itu mau memaafkannya.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Khairi tepat di telinga istinya.
Pria itu pun memejamkan matanya sambil tetap memeluk Afrin. Dia tidak ingin kehilangan sang istri, seperti Papa Hamdan kehilangan istrinya. Apa pun akan di lakukan, asal wanita itu selalu menemaninya disetiap langkah.
Tanpa Khairi ketahui, sebenarnya Afrin belum tidur. Wanita itu masih terjaga karena dia tidak bisa tidur, sebelum melihat sang suami ada di sampingnya. Afrin senang, ternyata sang suami menyadari kesalahannya, tetapi tetap saja pria itu harus dihukum.
Wanita itu berpikir, kira-kira hukuman apa yang akan diberikan pada Khairi? Menghukum disaat seperti ini rasanya kurang tepat, tetapi dia tidak mungkin membiarkan suaminya berbuat seenaknya pada dirinya. Jangan karena Afrin seorang wanita, pria itu bisa melakukan apa pun.
*****
"Bik, apa Khairi mengatakan sesuatu saat membawa Bibi dan Fatma ke sini tadi?" tanya Merry saat suaminya sudah tidur.
"Tidak, Nyonya. Den Khairi cuma minta kami menemani Nyonya dan Tuan," jawab Bik Asih. "Memang kenapa, Nyonya?"
"Tidak apa-apa, hanya aneh saja Khairi tidak mau menginap di sini malam ini. Padahal kemarin dia bilang mau menemani papanya sampai sembuh."
Merry merasa ada sesuatu yang Khairi sembunyikan. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi? Apakah ini mengenai perusahaan? Apa ada masalah dengan investor atau yang lainnya? pikir Merry.
__ADS_1
"Mungkin semalam Den Khairi tidak bisa tidur, Nyonya, makanya sekarang ngajak istrinya pulang. Biar malam ini bisa tidur, besok baru menginap lagi," ujar Bik Asih agar majikannya tenang.
"Mungkin seperti itu, Bik. Ya sudahlah, biar saja. Sebaiknya kalian istirahatlah."
Bik Asih juga mencurigai sesuatu, tetapi dia tidak bisa menebak apa yang terjadi. Pagi tadi saat pulang dari rumah sakit sampai berangkat ke kantor, pria itu terlihat biasa saja. Namun, saat pulang tadi sore sikapnya jadi aneh. Setelah Khairi pindah ke apartemen, tidak pernah sekalipun pria itu bicara dengannya atau Fatma, tetapi hari ini obrolan mereka panjang sekali.
"Sebaiknya, Nyonya, dulu yang istirahat. Saya biar jaga Tuan."
"Saya belum ngantuk. Kalian tidurlah dulu."
Bik Asih tidak mau memaksa majikannya. Dia sangat tahu jika merry sangat keras kepala, akan sangat susah membujuknya.
*****
Azan subuh berkumandang membuat Khairi terbangun dari tidurnya. Pria itu meraba sisi tempat tidurnya, ternyata kosong. Segera dia bangun mencari keberadaan sang istri. Kamar mandi nampak sunyi menandakan tidak ada seseorang di sana lalu, ke mana Afrin pergi?
Khairi turun dari ranjang mencari istrinya, barangkali di luar melakukan sesuatu. Ternyata benar, wanita itu sedang memasak, tetapi kenapa pagi sekali? Pasti Afrin sangat marah padanya? Pria itu memeluk sang istri dari belakang. Dia tahu apa yang dilakukannya semalam, sungguh sangat menyakiti sang istri.
"Maafkan aku, Sayang. Sungguh aku tidak berniat marah sama kamu, semalam aku sedang kalut. Aku mohon maafkan aku," bisik Khairi tepat di telinga sang istri.
.
.
__ADS_1
.