Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
192. S2 - Nuri kecil


__ADS_3

"Terima kasih, Nuri. Kamu telah memberikan penglihatanmu padaku. Aku bisa melihat bagaimana keponakanmu yang sangat cantik itu. Kamu pasti akan sangat bahagia jika saja kamu bisa melihat. Aku memberinya nama Nuri agar kelak dia juga bisa sepertimu, menjadi wanita yang baik dan solehah. Nanti aku akan menceritakan tentangmu padanya dan kamu jangan khawatir, aku akan memanfaatkan penglihatan ini dengan sebaik-baiknya," ucap Aydin di samping gundukan tanah dengan nisan yang bertuliskan Nuri Maulida.


"Aku juga minta maaf, tidak bisa membalas cintamu. Seluruh cintaku sudah aku berikan pada Nayla. Semoga kamu bahagia di sana."


Pria itu menaburkan bunga yang dia beli dipinggir jalan tadi. Pria itu juga meletakkan bunga lili putih, bunga kesukaan Nuri, menurut pengakuan Afrin tadi saat membeli bunga.


Tidak lupa doa Aydin tujukan pada almarhumah agar ditempatkan di surganya Allah nanti. Hanya itu yang bisa dia lakukan kini.


"Aku pamit dulu, assalamualaikum." Aydin berdiri dan berjalan menuju mobil di mana adiknya menunggu.


*****


Satu tahun telah berlalu. Pengobatan yang Nayla lakukan telah berhasil dan dia dinyatakan sembuh dari penyakit kanker. Namun, wanita itu masih harus menunggu satu bulan lagi untuk pulang padahal wanita itu sudah tidak sabar, ingin menemui putrinya yang kini sudah bisa berjalan.


Nayla baru mendapat kabar dari sang suami yang saat ini ada di Indonesia. Dia juga sudah mengetahui tentang kejadian yang menimpa suaminya dan Nuri. Wanita itu juga tidak keberatan dengan keputusan Aydin yang memberi putrinya nama gadis itu.


Dia di sana bersama dengan Bibi Rini. Selama ini memang jika Aydin pulang ke indonesia, pria itu selalu meminta Rini atau Yasna untuk datang menemani istrinya selama dia pergi.


Aydin di Indonesia sedang mengurus beberapa pekerjaan yang sangat penting. Dia juga sangat merindukan putrinya yang setiap satu bulan sekali pria itu kunjungi karena harus menemani istrinya berobat.


"Papa," celoteh khas suara anak bayi dari Nuri kecil.


"Sayang, sekarang bisa panggil Papa? Ayo, sini!" panggil Aydin, segera Nuri berjalan selangkah demi selangkah menuju tempat Papanya berdiri sambil merentangkan tangan.


Nuri sangat bahagia saat sang ayah mengangkat dan menggendongnya. Dia tertawa cekikikan. Sudah lama gadis kecil itu merindukan papanya.


"Papa."


"Iya, Sayang. Ini Papa sebentar lagi mama akan pulang, nanti Papa kenalin sama mama, ya!"


"Ma, tuh," ucap Nuri sambil menunjuk Yasna.


"Itu Oma sayang bukan mama. Mama ada di Singapura. Satu bulan lagi akan pulang."


"Tate," ucap Nuri sambil menunjuk Afrin.


"Iya, itu Tante. Tante jelek, ya?"


"Enak saja, sudah cantik gini. Iya, kan, Nuri?"


"Tate antik."

__ADS_1


"Iya, pintar deh ponakan Tante," ucap Afrin sambil mencubit pipi Nuri membuat gadis kecil itu menangis, mengadu kepada papanya.


"Afrin, kamu ini mencubit anak kecil sampai nangis," tegur Aydin sambil mengusap pipi Nuri.


"Habisnya gemes tahu," sahut Afrin.


Nuri memang terlihat begitu gemuk dan menggemaskan, membuat siapa pun yang melihatnya ingin mencubit pipinya. Yasna mengasuh cucunya seorang diri tanpa bantuan baby sitter. Dia sangat senang akhirnya bisa merasakan rasanya mengurus bayi. Meski terkadang membuat Emran kesal karena merasa terabaikan.


Sudah sering Emran dan Aydin menawarkan jasa baby sitter, tetapi ditolak oleh wanita itu. Bahkan Emran pernah mendatangkan seorang wanita yang akan mengasuh Nuri tanpa pemberitahuan, membuat Yasna marah dan mengusir wanita itu.


"Kalau begitu kamu jangan ajak Nuri lagi. Bisa-bisa pipi anak saya berkurang?" ucap Aydin


"Apaan? lebay," cibir Afrin. "Sudah sana berangkat! Sebelum ketinggalan pesawat," lanjut Afrin.


Aydin akan kembali ke Singapura, menemani sang istri dan kembali satu bulan lagi bersama dengan Nayla. Dia berharap semuanya kembali baik-baik saja setelah ini.


"Iya, ini juga mau berangkat," jawab Aydin sambil menyerahkan Nuri pada Yasna. "Aku berangkat dulu, Bunda." pamit Aydin pada Yasna sambil mencium punggung tangan wanita itu.


"Iya, hati-hati, jangan ngebut."


"Bagaimana mau ngebut, kan, yang nyetir Pak Hari," kilah Aydin.


"Nuri, Papa berangkat dulu, ya?" pamit Aydin sambil mencium pipi putrinya. "Ya sudah, aku berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Afrin dan Yasna bersamaan.


"Da da Papa," ucap Yasna sambil melambaikan tangan Nuri ke arah Aydin.


"Aku juga mau pergi, Bunda," ucap Afrin setelah mobil yang ditumpangi Aydin tidak terlihat.


"Kamu mau pergi ke mana? Kamu, kan, sudah selesai ujian?"


"Mau lihat-lihat kampus, Bunda."


"Bisa saja kamu, sekarang kan daftar lewat online? Kenapa harus ke kampus segala?"


"Aku ingin lihat cara secara nyata, Bunda. Seperti apa kampusnya, nggak cuma lewat gambar doang."


"Iya, iya, terserah kamu. Asal jangan melakukan hal yang dilarang."


"Iya, Bundaku yang cerewet. Aku akan selalu ingat semua nasehat Bunda. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Afrin sambil mencium punggung tangan Yasna dan pipi ponakannya.

__ADS_1


"Iya, hati-hati. Waalaikumsalam."


Afrin pergi mengendarai mobil dari Emran saat ulang tahunnya dua bulan yang lalu. Gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mendengarkan musik. Dia juga tidak terlalu buru-buru.


Di saat lampu merah menyala Afrin berhenti. Namun, tiba-tiba sebuah mobil menabraknya dari belakang hingga membuat dia terkejut. Gadis itu segera turun dan melihat apa yang terjadi. Afrin menghela napas karena mobil barunya sudah lecet.


Pemilik mobil di belakang pun turun. Ingin sekali Nayla marah, tetapi dia mencoba menahannya. Gadis itu tidak ingin mempermalukan dirinya karena dia sedang berada di tempat umum.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap pria itu.


"Tidak sengaja bagaimana? Lihat! Mobil saya lecet."


"Tadi saya buru-buru. Majikan saya ada meeting penting."


"Maaf, ya, Pak. Bukan hanya atasan Bapak yang sibuk. Semua orang juga sibuk, tetapi seharusnya Anda bisa menjaga keselamatan pengguna jalan lain. Bukan hanya Anda sendiri."


Afrin kesal dengan pria itu. Beruntung dia tidak apa-apa. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Afrin dan pria itu terlibat cek cok hingga membuat atasan dari pria itu keluar dari mobil.


"Ivan, kenapa lama sekali? Kamu tahu 'kan saya ada meeting penting?" tanya atasan dari pria itu.


"Maaf, Tuan saya tidak sengaja menabrak Nona ini."


Orang itu melihat mobil yang ada di depan dan melihat pemiliknya. Tiba-tiba saja dia terdiam. Pria itu sungguh terkesima dengan kecantikan Afrin dan terus menatap wanita itu. Baru kali ini dia melihat wanita yang begitu menarik perhatiannya. Hingga tidak sadar kalau wanita di depannya sedang bertanya.


"Kenapa Anda melihat saya seperti itu?"


Pria itu masih terdiam.


"Tuan, kenapa Anda melihat saya seperti itu?" tanya Afrin kali ini dengan suara yang lebih keras, hingga menyadarkan pria itu.


"Iya ... Anda sangat cantik. Perkenalkan nama saya Khairi," ucap Pria itu dengan mengulurkan tangannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2