Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
125. S2 - Kamu cantik


__ADS_3

"Baju buatan kakak bagus-bagus, ya?" puji Afrin saat melihat-lihat hasil karya Nayla.


"Alhamdulillah, kalau kamu suka. Kakak jadi senang mendengarnya. Semoga orang-orang juga suka. Setidaknya usaha yang aku kerjakan tidak sia-sia," sahut Nayla dengan tersenyum.


"Pasti banyak yang suka, Kak. Ini kan cantik-cantik."


"Amin."


Sejak kecil Nayla memang sangat suka melihat majalah desain. Dia sering meminta pada tetangganya yang seorang pengepul rongsokan. Tidak jarang dia menemukan beberapa di sana. Tetangganya pun dengan senang hati memberikan tanpa meminta apa pun.


"Ehemm ...." deheman dari seseorang membuat kedua gadis itu menoleh.


"Kakak, ngapain ke sini?"


Orang itu adalah Aydin. Sedari tadi dia berkeliling. Melihat-lihat sekitar butik.


"Kakak cuma lihat-lihat saja," jawab Aydin.


"Kak Nayla, toilet ada di mana? Aku tiba-tiba kebelet."


"Ada di belakang. Kamu mau aku temani?" tawar Nayla.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


Setelah Afrin pergi, suasana terasa canggung. Baru kali ini mereka berada di satu ruangan hanya berdua. Nayla sama sekali tidak berani melihat ke arah Aydin.


"Berapa pegawai yang sudah melamar di sini?" tanya Aydin. Dia berusaha untuk mencairkan suasana.


"Ada beberapa, sih. Cuma aku belum memperkerjakan mereka, hanya satu saja. Mas tahulah budget saya masih terbatas."


Hening kembali, mereka sama-sama bingung mau ngomong apa. Hanya helaan napas yang terdengar oleh keduanya.


"Kamu cantik kalau memakai hijab," puji Aydin dengan suara pelan. Namun, masih bisa terdengar oleh Nayla.


Gadis itu salah tingkah dibuatnya. Namun, dia berusaha terlihat biasa-biasa saja. Baru kali ini Aydin memujinya. Padahal sebelumnya pria itu bersikap sinis padanya.


"Memangnya setiap hari aku tidak cantik, ya?"


"Cantik, sih. Semua wanita juga relatif cantik, tapi ada sesuatu yang spesial saat kamu memakainya."


Wajahnya Nayla sudah memerah, entah seperti apa. Dia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya, agar pria yang ada di depannya ini tidak melihat.


"Tidak usah malu. Cuma aku yang ada di sini."


"Apa, sih, Mas?"

__ADS_1


"Habisnya kamu dari tadi nunduk terus. Memangnya kamu lagi nyari koin?"


"Kata Bunda Mas Aydin orangnya kaku, tapi ternyata tidak juga."


"Itu memang Bunda saja yang suka jelek-jelekin anaknya," gerutu Aydin, tapi Nayla mengerti, itu hanya candaan saja. Gadis itu tahu betapa sayangnya keluarga itu terhadap Yasna.


"Boleh aku bertanya sesuatu? Dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur."


"Iya, silakan saja."


"Apa kamu sudah memiliki kekasih atau pria yang sedang dekat dengan kamu?" tanya Aydin dengan menatap wajah Nayla yang masih menunduk.


"Tidak ada, Mas. Memangnya kenapa?"


"Bolehkah aku mendekatimu?"


Nayla mematung dengan mulut terbuka. Dia begitu terkejut dengan apa yang Aydin katakan. Entah apa yang dimakan pria itu tadi, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Jangan lebar-lebar buka mulutnya. Nanti ada lalat masuk," tegur Aydin.


Nayla segera menutup mulutnya. Lagi-lagi gadis itu salah tingkah. Berada dalam satu ruangan bersama dengan Aydin membuat dia tidak sehat. Tubuh yang terasa panas dingin, jantung berdebar tak beraturan, perasaannya pun tak tenang.


"Sebenarnya apa maksud, Mas? aku nggak ngerti?" tanya Nayla, dia ingin meyakinkan apa yang gadis itu dengar. Nayla takut, itu hanya rasa percaya dirinya saja yang berlebihan.


"Aku rasa kamu cukup mengerti dengan apa yang aku katakan tadi, aku ingin mendekati kamu. Istilah anak zaman sekarang PDKT. Jujur untuk rasa cinta aku belum ada, tapi di dalam hatiku, aku ingin memiliki kamu. Aku kagum padamu dan semua yang kamu lakukan membuat aku selalu menatap ke arahmu."


Gadis itu teringat ucapannya Yasna, jika kita harus mencari suami yang baik dalam segi apapun. Dia juga ingin tahu bagaimana kepribadian dan semua tentang pria itu.


"Aku tidak akan memaksamu. Cukup terima apa pun yang aku lakukan itu saja. Selebihnya Itu Biarlah waktu yang menentukan karena aku pun sama. Aku juga ingin memulai semuanya dari awal. Kamu pasti mengerti, kan, maksudku?" tanya Aydin.


Pria itu tidak ingin memaksa Nayla. Dia hanya ingin gadis itu memberinya kesempatan untuk menunjukkan usahanya agar bisa meluluhkan hati Nayla.


"Saya mengerti, Mas. Seperti yang pernah bunda katakan jika aku harus memilih pasangan hidup, yang baik dalam segi manapun. Aku juga ingin tahu bagaimana kepribadian dan semua tentang kehidupan mas."


"Jadi, kamu mau saling mengenal denganku?"


Nayla hanya tersenyum dan mengangguk. Apa pun hasilnya nanti, mudah-mudahan semuanya baik-baik saja.


"Terima kasih, mudah-mudahan aku tidak mengecewakanmu."


"Aku juga sama, Mas. Mudah-mudahan kita tidak saling mengecewakan dan tidak saling menyakiti."


"Apa pun hasilnya nanti kita harus saling menjaga perasaan dan hati masing-masing. Bagaimana?" tanya Aydin.


"Iya, Mas. Saya setuju." Nayla berpikir mungkin ini memang jalan dia untuk mengenal siapa Aydin. Mengenai mereka berjodoh atau tidak, biarlah Tuhan yang menentukan. Mereka hanya berusaha untuk saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


"Kita keluar saja, Mas. Tidak enak kita di sini berdua saja."


"Iya, yang ketiganya setan, kan? Kamu siap-siap saja, setelah ini mereka akan mengejek kita."


"Mereka siapa?"


"Kamu akan tahu nanti."


Nayla mengerutkan keningnya. Namun, dia masih mengikuti Aydin. Entah siapa yang dimaksud oleh pria itu. Nayla tidak ingin ambil pusing.


"Tuan rumah akhirnya keluar juga. Sedari tadi kita semua nungguin ternyata mereka asyik pacaran," sindir Yasna.


Yasna sengaja ingin menggoda keduanya. Wanita itu senang jika memang putranya ingin mendekati Nayla.


Aydin hanya diam. Sementara Nayla salah tingkah. Gadis itu malu disindir seperti itu, meski saat ini hanya ada keluarga Aydin dan keluarganya saja.


"Kami tidak pacaran. Kami hanya ngobrol-ngobrol saja sebentar," kilah Nayla. Dia tidak ingin orang lain berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Wah, sekarang ngomongnyaa sudah kami, bukan aku dan dia," sela Afrin membuat Nayla salah tingkah. Sementara yang lain tertawa cekikikan.


"Sepertinya sudah cocok, Mbak Yasna. Saya setuju saja," ucap Rini.


"Saya juga setuju-setuju saja, Mbak. Tinggal gimana mereka saja."


"Kamu ngomong apa sih, Bu. Sudah, jangan godain melulu ponakannya," ucap Doni, suami Bu Rini.


"Tapi, bener, Yah. Mereka cocok, yang satu ganteng, satunya cantik," sahut Rini.


"Iya, Pak Doni. Apa Pak Doni nggak mau ponakannya cepet-cepet nikah, teria kasih cucu buat kita?" tanya Yasna.


Nayla semakin dibuat malu. Ternyata ini yang dimaksud Aydin tadi. Benar-benar memalukan.


"Bunda, sudah. Naylanya malu," sela Aydin.


"Baiklah, Bunda nggak godain lagi, asal kamu cepat halalin. Nggak baik pacaran lama-lama."


Bukannya berhenti menggoda, Yasna semakin menjadi, sepertinya darah Alina mengalir deras di tubuhnya. Mereka suka sekali menggoda anak-anaknya.


"Terserah, Bunda, lah."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2