Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
87. S2 - Happy Anniversary


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tak terasa kini sudah sepuluh tahun telah berlalu. Kehidupan Yasna dipenuhi dengan kebahagiaan. Suami yang sangat mencintainya, anak-anak yang menyayanginya, serta sang mertua yang juga begitu peduli padanya. Namun, beliau sudah dipanggil oleh Sang maha kuasa, dua tahun yang lalu.


Pagi-pagi sekali Yasna sudah menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. dibantu oleh Rani, anak dari Bik Ima. Wanita tua itu sendiri memutuskan untuk berhenti karena usianya yang sudah renta.


Usai membuat sarapan Yasna kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian untuk suaminya.


"Kamu kapan sih, Sayang? Berhenti sibuk dengan urusan dapur? Kan, sudah ada Rani, ngapain aku kerjakan Rani Jika kamu masih saja sibuk di sana," gerutu Emran.


"Aku hanya menyiapkan makanan, untuk suami dan anak-anakku. Apa salahnya sih? Aku masih sehat, Mas."


"Aku hanya tidak ingin kamu sakit. Kamu harus jaga kesehatan. Jangan terlalu capek."


"Aku tidak capek, kalau aku capek pasti akan berhenti," sahut Yasna. "Sudah selesai, kan. Ayo, kita keluar! Anak-anak pasti sudah menunggu."


Yasna dan Emran menuju meja makan. Di sana sepi, tak ada seorang pun. hanya ada Rani yang sedang menata makanan di meja.


"Mbak, anak-anak ke mana? Kok belum keluar?" tanya Yasna pada Rani.


"Tidak tahu, Bu. Mereka belum keluar," jawab Rani.


Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Yasna diiringi dengan tepuk tangan.


"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun Papa dan Bunda, semoga langgeng selalu ...."


Afrin bertepuk tangan, sementara Aydin membawa sebuah kue beruliskan angka sepuluh. Hari ini adalah hari anniversary pernikahan Emran dan Yasna. Aydin dan Afrin sengaja memberi kejutan untuk kedua orang tuanya.


Emran dan Yasna sebenarnya sudah tahu, kalau hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka dan memang sengaja tidak merayakannya, karena mereka merasa sudah bukan masanya lagi.


Mata Yasna berkaca-kaca. Dia tidak menyangka, anak-anak akan memberi kejutan di hari ulang tahun pernikahannya yang kesepuluh. Padahal dirinya saja sudah tidak berniat merayakannya.


Emran merangkul pundak istrinya, Dia juga terharu dengan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya, tapi lebih dari itu, dia sangat senang Afrin dan Aydin begitu sangat menyayangi Yasna, hingga hari ini. Meskipun mereka sudah sangat mengerti, akan status Yasna sebagai ibu sambung.


Yasna juga tidak pernah lupa mengingatkan anak-anaknya, agar selalu mendoakan almarhum mama mereka dan juga berkunjung ke makamnya.


"Selamat hari anniversary buat Papa sama Bunda," ucap Afrin dengan merentangkan tangan dan segera berhambur memeluk kedua orang tuanya.


Aydin meletakkan kue di atas meja dan dia juga ikut memeluk kedua orang tuanya. Mereka berempat saling berpelukan, hingga membuat Yasna menangis. Bukan karena sedih, tapi karena dia sangat bahagia bisa memiliki mereka.


"Sudah, ayo, tiup lilinnya! Nanti semakin meleleh," seru Afrin dengan mengurangi pelukannya.


Yasna dan Emran berdoa dalam hati kemudian meniup lilin bersama-sama. Mereka menikmati kue setelah sarapan sambil bercanda tawa bersama. Hal yang selalu mereka lakukan.

__ADS_1


Usai sarapan, Afrin bersiap pergi ke sekolah dengan diantar Aydin, sebelum pria itu pergi ke kantor.


"Hari ini, Afrin mau di antar Papa nggak?" goda Emran.


"Nggak mau, aku mau sama kakak saja." jawab Afrin membuat Emran dan Yasna tertawa.


Aydin dan Afrin sama-sama menutupi identitasnya sebagai orang kaya. gadis itu selalu diantar oleh kakaknya dengan menggunakan motor. Tidak ada seorangpun yang tahu tentang siapa mereka.


Yasna juga kadang kesal. Karena tidak bisa leluasa mengantar anaknya ke sekolah atau pergi bersama.


Aydin juga bekerja di perusahaan Emran, tapi hanya sebagai karyawan biasa dan tidak ada seorang pun yang tahu kalau dia adalah putra dari pemilik perusahaan itu, kecuali Pak Romi, orang kepercayaan Emran.


"Bunda sama Papa mau kado apa dari aku?" tanya Aydin.


Emran dan Yasna saling pandang dan tersenyum.


"Kalau Bunda mau sesuatu, yakin Kakak bisa mengabulkannya?" tanya Yasna.


"Tentu, apapun yang Bunda minta Aydin pasti akan mengabulkannya."


"Benar?" tanya Yasna menyakinkan.


"Bunda percaya." Yasna berpikir sejenak. "Bunda mau calon menantu," jawab Yasna membuat Aydin terkejut.


Pacar saja sampai detik ini Aydin tidak punya, dia juga tidak dekat dengan wanita manapun. Ada beberapa wanita yang berusaha mengambil perhatiannya, hanya saja Aydin sama sekali tidak tertarik dengan mereka.


Afrin tertawa cekikikan. Dia sangat tahu bagaimana sang kakak, bahkan beberapa kali dia menjadi korban kakaknya dengan berpura-pura menjadi pacarnya. Aydin mendengus mendengar permintaan sang Bunda.


"Apa sih, Bunda. Nggak ada permintaan yang lain apa!"


"Katanya tadi, permintaan apapun pasti akan dikabulkan," sindir Yasna.


Emran hanya mengulum senyum. Pria itu juga sama seperti Afrin yang sangat tahu, bagaimana sikap Aydin terhadap wanita. Di tempat kerja juga ada beberapa wanita yang mengejarnya, tapi entah kenapa Aydin sama sekali tidak pernah menanggapi mereka.


"Ya sudahlah, kalau nggak mau mengabulkan," sahut Yasna yang pura-pura kesal.


"Yang lain saja, Bunda."


"Bunda nggak punya permintaan lain. Suami Bunda lebih kaya daripada kamu. Dia bisa mengabulkan semua keinginan Bunda jadi, Bunda cuma mau menantu dari kamu."


"Sudahlah, Sayang. Kamu nggak usah maksa dia buat cari menantu. Dia nggak bisa romantis, bisa-bisa istrinya makan hati," cibir Emran.

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak bisa romantis? Lihat saja nanti, aku pasti bisa lebih romantis daripada Papa."


"Coba saja buktikan."


Aydin benar-benar kesal, semua orang membuatnya terpojok, tapi memang benar dia bukan orang yang romantis. Buktinya, hingga kini dia belum memiliki kekasih.


"Ayo, dhek kita berangkat! Mau bareng, nggak?"


"Iya, Papa, Bunda, aku berangkat dulu, ya?" pamit Afrin.


Kakak beradik itu mencium tangan kedua orang tuanya dan pergi menaiki motor bersama.


"Kakak, belum punya pacar?" tanya Afrin saat mereka dalam perjalanan.


"Nggak usah tanya, sudah tahu jawabannya juga," jawab Aydin ketus karena Afrin kembali bertanya, padahal adiknya itu sudah tahu jawabannya.


"Aku kan pengen mastiin aja, Kakak masih normalkan?"


"Masihlah enak aja ngatain orang."


"Ya, kali aja belok," sahut Afrin tanpa rasa bersalah.


"Ngaco kamu, mau aku turunin di sini?"


"Jangan dong, Kakak ku yang baik hati. Aku, kan, cuma bertanya."


Setelah itu, hanya terdengar suara kendaraan di sisi kiri kanan mereka. Jalanan begitu ramai dengan orang-orang yang akan pergi bekerja dan juga anak-anak yang akan menuntut ilmu di sekolah.


Hingga sampailah motor Aydin di depan gerbang sekolah Afrin. Gadis itu turun dari motor sang kakak. Dia berpamitan pada laki-laki itu dengan mencium punggung tangannya.


"Ingat, belajar yang rajin jangan pacaran."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2