Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
84. Sekolah di luar kota


__ADS_3

"Apa Celina masih menghubungi kamu, Ran?" tanya Mama Karina.


"Sudah nggak sih, Ma. Sejak aku tidak pernah mengangkat teleponnya. Dia tidak lagi menghubungiku," jawab Emran.


"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah kamu kirim ke rumahnya? Apa mereka tidak memberi tahu apa pun?"


"Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan. Doni juga mengatakan kalau Ferdi selalu baik pada anak-anak, tidak sekalipun dia membedakan mereka."


"Berarti benar yang dikatakan Ferdi, kalau Celina itu sengaja ingin menjelekkan suaminya, hanya untuk bisa mendapatkan perhatian darimu?"


Karina tidak menyangka mantan menantunya itu, sanggup melakukan hal seperti itu. Padahal dulu dia sangat baik pada siapapun. Celina juga istri penurut tidak pernah membangkang pada suaminya atau Karina yang memang tidak tahu apa-apa.


"Entahlah, Ma. Aku juga sudah tidak mau ikut campur lagi. Kemarin juga Ferdi menghubungiku. Dia bilang, dia akan pergi ke luar negeri. Jika Celina ikut, dia akan mempertahankan rumah tangganya, tapi jika Celina menolak mungkin Ferdi akan menceraikannya."


"Kenapa sekarang Celina jadi, seperti itu? Padahal dulu dia sangat baik."


"Setiap orang bisa berubah, Ma. Yang baik jadi jahat, begitu pun yang jahat bisa jadi baik. Kita tidak pernah tahu apa isi hati orang lain."


Karina mengangguk, dia membenarkan apa yang diucapkan oleh Emran. Wanita paruh baya itu juga tidak mau terlalu ikut campur, dalam rumah tangga mantan menantunya itu karena dia tidak ingin hubungan baiknya dengan Windi jadi renggang.


"Mas Emran sama Mama lagi ngobrolin apa?" tanya Yasna yang baru saja datang, membuat Karina dan Emran menoleh.


"Tidak ada, hanya bicarakan mengenai rencana Ferdi kemarin." jawab Emran.


Yasna menganggukkan kepala. Dia juga tahu apa yang sudah direncanakan Ferdi karena Emran sudah menceritakan semua, tentang percakapannya dengan Ferdi pada Yasna.


"Oh, iya, Mas. Aku mau nanya, kenapa Aydin akhir-akhir ini jadi pendiam? Setiap aku tanya dia tidak pernah jawab. Biasanya tanpa aku tanya dia selalu cerita," tanya Yasna setelah duduk di samping Emran.


"Mungkin mengenai rencananya sekolah di boarding school, tapi dia ragu karena tidak mau meninggalkan kamu."


"Maksudnya?" Yasna menyernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti apa maksud Emran. Apa hubungannya dia dengan sekolah Aydin?


"Sebelumnya Aydin pernah mengirimkan biodata dirinya, ke sekolah Boarding School yang ada di luar kota. Dia juga mengikuti beberapa tes online dan lulus. Sekolahnya juga sangat bagus. Dari dulu, dia sangat tertarik untuk sekolah di sana, tapi saat ini, dia ragu karena dia tidak mau berpisah denganmu," jawab Emran.


"Sepertinya Aydin sudah sangat menyayangi kamu, Na," ucap Karina.

__ADS_1


"Iya, Ma. Aku senang mendengarnya, tapi aku juga tidak mau menjadi penghalang masa depan Aydin. Aku akan bicara dengannya nanti. Jika memang sekolahnya bagus, kenapa tidak?," ujar Yasna. "Apa Mas sudah melihat sekolahnya?" tanya Yasna pada suaminya.


"Sudah dan sekolahnya sangat bagus. Banyak murid yang berprestasi dari sana." Emran pun menjelaskan semua tentang sekolah itu.


Yasna juga mencari tahu tentang sekolah itu di ponselnya. Ternyata benar sekolahnya sangat bagus, pantas saja Aydin tertarik sekolah di sana. Bukan hanya prestasi di bidang study, ada juga bidang seni.


Malam hari setelah makan malam, Yasna menemui Aydin di kamarnya. dia ingin berbicara dengan anak itu. Dia mengetuk pintu beberapa kali, hingga terdengar sahutan dari dalam untuk memintanya segera masuk.


"Lagi banyak tugas, kak?" tanya Yasna saat melihat Aydin sedang menulis.


"Lumayan, Bunda."


Yasna mendekat ke meja belajar Aydin. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada sebuah brosur sekolah yang sebelumnya, sudah dia bicarakan dengan Emran. Dia mengambil brosur itu dan bertanya, "Sekolahnya bagus sekali! Ada di mana ini?"


"Ada di Jogja, Bunda," jawab Aydin.


"Sekolahnya bagus, kamu nggak mau sekolah di sini?" tanya Yasna dan Aydin hanya menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam? Kamu nggak suka?"


"Memangnya kenapa, kalau kamu tinggal di sana? Kamu nggak mau?"


"Aku nggak mau jauh dari Bunda," jawan Aydin dengan suara lirih.


Sebenarnya dia ingin sekolah di sana saat memasuki bangku SMP, tapi saat itu dia sedang sakit jadi, tidak bisa mengikuti tes dan sekarang saat akan memasuki bangku SMA, dia mendaftar lagi dan di terima.


"Bunda, kan, masih bisa datang," sahut Yasna dengan duduk di samping Aydin.


"Tapi, kan, nggak tiap hari. Kalau aku kangen sama Bunda, bagaimana?"


"Aydin masih bisa telepon atau Video call sama Bunda, masa depan kamu itu masih sangat panjang. Kamu harus menggapai cita-cita setinggi langit agar masa depan kamu cerah dan bisa membuat Bunda bangga."


"Apa Bunda bahagia kalau Aydin sekolah di sana?"


"Bunda akan sangat bahagia jika melihat anak-anak Bunda sukses, di mana pun dia sekolah jadi, sesulit apapun itu kamu harus tetap berjuang. Jangan patah semangat karena Bunda. Itu akan membuat Bunda sedih karena merasa, Bunda adalah penghalang masa depan kamu. Kalau kamu suka dengan sekolah itu, kamu harus berusaha agar bisa masuk ke sana. Sekolah itu bagus, banyak anak-anak berprestasi di sana yang bisa membanggakan orang tuanya. Bunda juga ingin seperti mereka, bangga pada anak-anaknya."

__ADS_1


"Apa Bunda senang jauh dari Aydin?"


"Bunda juga sedih, tapi Bunda akan lebih sedih jika kehadiran Bunda hanya akan menghalangi cita-cita kamu."


Yasna sebenarnya juga tidak ingin jauh dari anak-anaknya. Dia baru saja merasakan bahagianya menjadi seorang ibu, tapi harus dipisahkan lagi. Akan tetapi, demi masa depan anak-anak dia harus merelakannya.


Aydin berpikir, dia juga ingin seperti anak-anak lain yang membuat orang tua mereka bangga, saat melihat dirinya sukses. Aydin melihat ke arah Yasna yang sedang tersenyum.


Dia pun bertekad akan menjadi anak hebat yang mampu, membuat Yasna tersenyum saat melihat kesuksesan dan masa depannya yang cerah.


"Aydin mau sekolah di sana, Bunda." Akhirnya kata itu terucap dari bibir Aydin.


Yasna benar-benar senang mendengarnya. Meskipun ada sedikit kesedihan yang dia rasakan. "Bunda akan selalu mendoakan kamu agar apapun yang kamu inginkan, segera tercapai."


"Terima kasih, Bunda." Aydin memeluk bundanya.


Mungkin nanti dia akan sangat merindukan bundanya, tapi demi masa depan dan melihat kebanggaan yang Yasna tujukan padanya, dia akan menahan itu.


"Bukannya pendaftarannya sudah selesai?" tanya Yasna yang pura-pura tidak tahu.


"Aku sudah mendaftar, Bunda dan sudah diterima," jawab Aydin dengan tersenyum.


"Benarkah ... anak Bunda memang hebat!" seru Yasna.


Aydin pun menceritakan pada Yasna, bagaimana dia bisa di terima di sekolah itu. Meskipun saat ini, Aydin belum memulai ujiannya karena sekolah itu, memang selalu lebih dulu membuka pendaftaran siswa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2