
"Ivan, apa masih ada meeting hari ini?" tanya Khairi setelah keluar dari restoran usai meeting dengan kliennya.
"Dua jam lagi ada meeting bulanan dengan para manager, Tuan."
"Umumkan kalau meeting diajukan tiga puluh menit lagi. Kita segera kembali ke perusahaan sekarang juga."
"Tuan, yakin?"
Khairi menatap asistennya dengan tidak suka, ucapan Ivan seolah meremehkannya. Tidak tahu saja jika pria itu ingin segera bertemu dengan sang istri. Setelah itu dia berkata, "Kamu meremehkanku?"
"Ti–tidak, Tuan."
"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu."
Khairi segera memasuki mobil diikuti Ivan. Mereka segera menuju perusahaan. Selama perjalanan, Pria itu membuka email yang masuk dan menelitinya dengan cepat karena dia ingin bisa segera pulang.
Ivan hanya bisa melihat Khairi lewat kaca yang berada di atasnya. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi, tetapi pria itu sama sekali tidak tahu apa itu. Ivan takut jika atasannya kembali seperti satu bulan yang lalu.
"Fokus saja pada jalanan, tidak usah mengkhawatirkanku!" tegur Khairi tanpa melihat asistennya. Pria itu tahu jika Ivan sedari tadi melihatnya. Entahlah, dia seperti punya mata di mana-mana.
Akhirnya mereka sampai juga di perusahaan. Ivan akan membuka mulutnya untuk memberitahu jika mereka sudah sampai. Namun, Khairi sudah turun begitu saja dan berlalu tanpa menunggunya. Bahkan tidak mengucap satu kata pun.
"Ada apa dengannya? Seperti dikejar waktu saja. Apa dia mau pergi ke suatu tempat?" gumam Ivan melihat punggung Khairi yang semakin menjauh. "Semoga saja dia tidak membuat masalah."
*****
"Non Afrin, ke mana saja? Kami semua merindukan Nona, terutama Tuan Khairi. Dia sering tertidur di ruang tamu menunggu kedatangan Nona," ujar Bik Asih saat mereka sedang membersihkan taman di samping rumah.
"Saya hanya liburan sementara, Bik," jawab Afrin seadanya.
"Kandungan Nona, bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik, Bik. Sebenarnya sudah jadwal periksa, tapi saya nunggu Mas Khairi, dia juga pasti ingin melihat perkembangan bayi kami," jawab Afrin sambil tersenyum.
"Saya senang Non Afrin dan Tuan Khairi bersatu kembali. Saja tidak harus melihat wajah sedih dan putus asa dari Tuan Khairi."
"Bukannya selama ini dia baik-baik saja, Bik?"
"Terlihat dari luar memang baik, tapi saya sangat tahu bagaimana perasaannya karena dari kecil saya sudah sangat mengenalnya. Sekarang saya tenang dengan keberadaan Non Afrin di sini."
__ADS_1
Afrin terharu mendengar seberapa besar cinta Khairi padanya dari Bik Asih. Memang inilah yang dia harapkan, dicintai dan mencintai. Wanita itu menengadahkan kepalanya guna mencegah agar air matanya tidak terjatuh.
"Maaf, Non. Di depan ada tamu," ucap Pak Jono yang baru datang.
"Tamu? Siapa, Pak?" tanya Afrin sambil melihat ke arah Pak Jono.
"Saya kurang tahu, Non. Seorang laki-laki, katanya mau ketemu Tuan Khairi."
Afrin mengangguk. Wanita itu berpikir, mungkin teman suaminya atau rekan bisnis, tetapi kenapa datang ke rumah? Kenapa tidak ke perusahaan saja? Apa ada sesuatu yang penting hingga harus datang ke rumah? Berbagai pertanyaan bersarang di kepalanya.
"Suruh masuk saja, Pak."
"Iya, Nyonya." Pak Jono segera pergi ke depan dan membuka pintu pagar. Pria itu mempersilakan tamu majikannya untuk segera masuk.
Afrin menunggu tamunya di ruang tamu. Tidak lama, terdengar suara langkah kaki memasuki rumah. Wanita itu menyernyitkan keningnya merasa heran. Orang itu masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa mengucap salam atau permisi.
"Selamat siang, Nyonya Khairi," sapa seorang pria dengan gaya angkuhnya. Dia duduk begitu saja tanpa dipersilakan membuat Afrin mulai merasa ada sesuatu yang tidak enak.
"Selamat siang," sahut Afrin dengan enggan.
"Di mana Tuan Khairi? Saya ada keperluan dengannya."
"Saya lebih suka berbicara di rumah secara pribadi langsung. Saya juga ingin menawarkan kerja sama yang pastinya akan menguntungkan suami Anda."
Afrin melongo mendengar ucapan tamunya. Dia segera mengambil ponselnya. Lebih baik dia menghubungi sang suami dan memintanya untuk segera pulang. Wanita itu tidak mengerti cara menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan bisnis.
Terdengar dering ponsel tersambung, tidak perlu lama akhirnya sang suami mengangkatnya.
"Halo, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas, ada di mana?" tanya Afrin secara langsung.
"Ini dalam perjalanan pulang. Memang ada apa, Sayang? Sudah kangen?" tanya Khairi dengan nada menggoda.
"Syukurlah."
Bukannya membalas godaan yang dilontarkan sang suami, Afrin justru mendesah sambil mengucap syukur.
"Memang ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"Ada tamu di rumah cari kamu. Aku pusing meladeninya."
"Hah ... memang tamunya siapa?"
"Kamu pulang saja dan lihat sendiri."
"Iya, sebentar lagi juga sampai. Aku tutup dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Afrin kembali ke ruang tamu untuk menemani tamunya.
Lima menit, akhirnya terdengar suara mobil. Wanita itu yakin jika itu suaminya yang pulang. Benar saja terdengar suara Khairi mengucap salam yang segera di jawab oleh Afrin. Sementara pria yang sedang duduk itu tidak bersuara sama sekali.
"Selamat siang, Tuan Khairi. Perkenalkan nama saya Gani, saya seorang pengusaha muda terkenal di kota ini," ucap pria—bernama Gani dengan sombongnya. Dia mengulurkan tangan ke depan Khairi.
Khairi menyambut ulurannya sambil melihat ke arah sang istri. Pantas saja Afrin mengeluh pusing menghadapi tamu yang datang, orangnya seperti ini!
"Salam kenal, Tuan Gani. Silakan duduk!"
Kedua pria itu duduk, sementara Afrin memilih ke dalam untuk membuatkan suami dan tamunya minuman.
"Saya tidak ingin berbasa-basi, Tuan Khairi. Kedatangan saya ke sini untuk melamar adik Anda untuk menjadi istri saya," ucap Gani membuat Khairi terkejut hingga melototkan matanya.
Afrin yang baru keluar dengan membawa nampan pun tak kalah terkejutnya. Minuman memang sudah dibuat oleh Bik Asih jadi dia hanya tinggal membawa saja. Wanita itu segera meletakkan dua gelas minuman di meja dan ikut duduk di samping sang suami.
Awalnya dia tidak begitu tertarik dengan kedatangan tamunya itu, tetapi ketika Gani menyampaikan maksudnya, Afrin jadi penasaran. Wanita itu ingin tahu di mana pria itu mengenal adik iparnya karena setahu dia, Laily jarang sekali pergi ke luar rumah.
"Darimana kamu mengenal adik saya?" tanya Khairi dengan menatap Gani.
"Saya tidak sengaja bertemu dengannya di mini market tempat tinggalnya. Saya meminta anak buah saya menyelidiki tentang jati dirinya dan ternyata dia adik Anda. Itulah kenapa saya datang ke sini. Saya juga akan memberi proyek besar untuk Anda jika setuju. Anda juga pasti sudah sangat mengenal siapa keluarga saya yang paling terkenal di kota ini."
"Sepertinya Anda salah bertamu, Tuan Gani. Saya belum ada niat untuk mencarikan adik saya jodoh. Kalau pun dia menikah nanti, itu sudah pilihannya dan saya menghargai itu."
Khairi memang sudah tahu jika adiknya dulu sewaktu di kampung dekat dengan seorang pria. Bahkan setelah di kota keduanya masih berkomunikasi setelah Laily memiliki ponsel.
.
.
.
__ADS_1