Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
48. Berkelahi


__ADS_3

Hari ini Yasna yang akan mengantar anak-anak ke sekolah dan akan menjadi rutinitas Yasna selanjutnya, Emran sudah mulai bekerja hari ini.


"Bunda sudah tidak ngajal di sekolah?" tanya Afrin.


"Tidak, Bunda antar jemput Afrin sama kakak ke sekolah, setelah itu Bunda di rumah saja."


"Bisa main sama Alin nanti?"


"Iya," jawab Yasna. "Aydin, nanti Bunda nggak bisa antar sampai sekolah, Bunda harus urus surat resign dulu, nggak papa kan di antar Pak Hari saja?"


"Biasanya juga begitu."


Yasna tersenyum, setidaknya Aydin mau bicara dengannya, meski dengan suara ketus daripada diam saja. Yasna dan Afrin turun dari mobil, mereka melambaikan tangan pada Aydin hingga mobil melaju.


Yasna mengurus surat resignnya sambil berbincang dengan Nadin.


"Kamu beneran mau berhenti ngajar? Padahal semua pengajar dan anak-anak semua menyukaimu," ujar Nadin.


"Aku harus menjaga anak-anakku, Nad. Aku nggak mau mereka kurang perhatian, tujuanku menikah juga karena mereka, kan!"


Mereka berbincang cukup lama hingga ponsel Yasna berdering, di sana tertera nama sekolah Aydin. Segera Yasna menggeser tombol berwarna hijau.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, maaf dengan Mama Aydin?" tanya seorang di seberang telepon, Emran memang sudah memberikan nomor ponsel Yasna pada sekolah Aydin maupun Afrin.


"Benar, Pak."


"Begini, Bu. Saya Guru BK di sekolah Aydin, mohon kehadirannya saat ini juga di sekolah, karena sedari tadi saya sudah menghubungi Pak Emran, tapi sepertinya beliau sangat sibuk hingga tidak menganggkat panggilan kami."


"Baik, saya akan segera ke sana, mohon tunggu sebentar ya, Pak!"


"Kami tunggu kehadirannya, Bu."


"Baik, Pak."


Yasna segera memutuskan panggilan dan memasukkan semua barang-barangnya.


"Nad, aku pergi dulu," pamit Yasna.


"Ada apa? Kenapa buru-buru?"


"Aydin sepertinya sedang ada masalah, aku harus ke sekolahnya sekarang." Yasna segera berlari meninggalkan Nadin.


"Hati-hati," teriak Nadin.


Yasna pergi ke sekolah Aydin bersama Pak Hari, untung saja Pak Hari sudah ke sekolah Afrin.


"Pak, tolong lebih cepat sedikit," pinta Yasna.

__ADS_1


"Iya, Buk."


Akhirnya Yasna sampai di sekolah Aydin, ia bertanya pada beberapa murid dimana ruangan Guru BK, ia pun menuju tempat yang di tunjuk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, silakan masuk, bu," ucap seorang guru bernama Wahyu.


Terlihat Aydin dengan wajah yang lebam, karena berkelahi dengan temannya. Ada dua orang tua wali murid lainnya juga di sana.


"Begini, Bu ....


"Maaf saya terlambat," ucap seorang yang baru datang yang tidak lain adalah Emran.


"Tidak apa-apa, Pak. Silakan duduk."


Emran menatap Aydin yang sedang menundukkan kepalanya, Aydin memang sering membuat masalah di sekolah sejak memasuki bangku SMP, padahal ia termasuk murid yang pandai.


"Begini, Pak, Bu. Anak-anak Bapak dan Ibu tadi berkelahi, menurut saksi mereka berkelahi karena Aydin memalak temannya, Dave berusaha menegurnya, tapi Aydin malah marah dan memukul Dave."


"Mohon maaf, Pak Wahyu. Bukankah di sekolah ini ada CCTV, kenapa kita tidak melihatnya saja," sela Yasna.


"Maaf, Bu, kejadian itu terjadi di tempat yang tidak terjangkau CCTV," sahut Pak Wahyu.


"Saya tidak terima, anak saya sampai babak belur seperti ini, pokoknya saya minta ganti rugi," ucap Mama Dave.


"Tolong tenang dulu, Bu ... mohon maaf, Pak Emran. Aydin kami liburkan sementara selama satu minggu, dia juga harus mengerjakan hukuman yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Untuk mengenai Dave, silakan dibicarakan secara kekeluargaan."


"Saya akan menggantinya, sebutkan saja nominal dan nomor rekening Anda," sahut Emran. "Aydin, minta maaf."


"Nggak mau," tolak Aydin.


Emran akan bicara, tapi Yasna lebih dulu mencegahnya.


"Aydin, minta maaf bukan berarti mempermalukan diri, itu juga melatih kerendahan dalam hati kita. Ayo, minta maaf!" pinta Yasna.


Aydin menurut, ia mengulurkan tngannya pada Dave. Namun, Mama Dave justru mengatakan sesuatu yang membuat Yasna marah.


"Dia harus minta maaf dengan berlutut dihadapan Dave."


Yasna segera menarik Aydin ke belakangnya.


"Putraku tidak akan pernah berlutut di depan siapapun, meskipun dia bersalah, aku tidak akan mengizinkannya berlutut!"


"Kenapa kamu membelanya, anakmu itu sudah melakukan kekerasan pada anakku, sebagai seorang ibu, seharusnya kamu mengajari hal yang benar padanya, bukan malah seperti ini!"


"Anda tidak perlu mengajari saya cara mendidik anak, didik anak Anda saja agar suatu hari, dia tidak semena-mena terhadap orang lain!" Yasna menarik tangan Aydin meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan.


"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya juga harus undur diri. Mengenai ganti rugi, Anda bisa memberikan nomor rekening Anda pada Pak Wahyu, beserta nominal yang Anda inginkan, saya permisi."

__ADS_1


Emran menyusul istri dan anaknya yang sudah lebih dulu pergi. Sementara Yasna sudah berdiri di samping mobil Emran, dengan menahan kekesalannya.


"Ayo, kita pulang!" ajak Emran. "Pak Hari, jemput Afrin di sekolah."


"Baik, Pak," sahut Hari.


Emran memasuki mobil diikuti Yasna dan Aydin, sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi, Yasna melihat Aydin dari kaca spion, sepertinya anak itu takut pada Emran, karena sedari tadi dia melirik ke arah Emran yang sedang fokus menyetir dan menundukkan kepalanya.


Mereka akhirnya sampai setelah tiga puluh menit perjalanan. Emran masuk ke dalam rumah lebih dulu diikuti Yasna dan Aydin.


"Aydin!" panggil Emran


"Iya, Pa."


"Bawa laptop, ponsel, game, appun yang biasa kamu pakai bermain ke sini."


"Tapi, Pa--


"Bawa ke sini!" Emran berbicara dengan nada tegas dan keras, membuat Yasna ikut takut.


"Mas, apa tidak keterlaluan? Kita tidak tahu yang sebenarnya?" sela Yasna


"Kamu lihat buktinya, kan! Aku tidak ingin dia jadi berandalan."


Yasna tidak lagi bicara, ia juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Aydin, tapi dia tidak yakin Aydin melkukan hal itu.


"Ada apa, Ran? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Karina.


"Aydin berkelahi di sekolahnya, Ma."


"Kenapa berkelahi lagi? Sudah berapa kali Mama nasehati dia, tapi dia sepertinya tidak menghiraukan," keluh Karina.


"Jadi, ini bukan pertama kali Aydin dapat masalah?" tanya Yasna.


"Dulu dia tidak pernah membuat masalah, tapi sejak memasuki bangku SMP, dia sering berkelahi dengan temannya," jawab Karina.


Aydin meletakkan semua yang di minta Emran di atas meja.


"Masuk kamar dan laksanakan hukumanmu," ucal Emran dengan tegas.


Tanpa banyak kata Aydin masuk ke kamarnya, Yasna merasa sedih melihat ini semua. Sebagai seorang ibu, ia merasa gagal meski ia baru dua hari menjadi ibu di rumah ini dan keputusannya memang benar untuk berhenti mengajar.


Emran membawa semua barang milik Aydin ke ruang kerjanya.


"Kamu mandilah dulu, setelah itu kita makan siang," ucap Karina yang diangguki Yasna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2