
"Assalamualaikum," ucap Yasna yang baru saja keluar.
"Waalaikumsalam, Tante," sahut Khairi sambil menyalami Yasna diikuti oleh Ivan.
"Sebentar, ya! Rani lagi manggil Afrin."
"Iya, Tante."
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Sudah sangat baik, Tante. Sebenarnya saya ke sini mau bertemu dengan Tante dan juga Om."
"Apa ada sesuatu yang penting?"
"Menurut saya ini penting, Tante."
Yasna menatap pemuda yang ada di depannya. Sepertinya memang ada sesuatu yang pria itu ingin katakan. Meski penasaran dia tetap memanggil suaminya.
"Ya sudah, kalau begitu Tante panggilkan dulu. Mungkin masih tidur."
Yasna pun kembali masuk ke kamarnya untuk membangunkan sang suami. Setiap hari Minggu memang Emran bangun lebih siang jika tidak ada acara. Hanya dihari itu dia bisa bersantai.
"Van, kenapa jantungku berdetak lebih cepat gini, ya? Mudah-mudahan saja semuanya nggak berantakan," ucap Khairi dengan mengusap dadanya agar bisa mengurangi kegugupannya.
Sementara Ivan hanya diam mendengarkan tanpa mau menimpali. Dia sendiri sedari tadi tidak bisa mengontrol detak jantungnya, saat melihat wanita yang membukakannya pintu.
"Silakan diminum, Tuan. Sebentar lagi Non Afrin turun," ucap Rani sambil meletakkan minuman untuk tamunya.
Dia tersenyum kearah kedua pria yang sedang duduk itu. Namun, Rani merasa aneh dengan pria yang ada di samping Khairi karena saat wanita itu melihatnya, pria itu memalingkan muka.
"Terima kasih," ucap Ivan tanpa menatapnya. sementara Khairi langsung meminum minumannya begitu saja.
Rasa gugup membuat tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Tidak berapa lama Afrin keluar bersama dengan kedua orang tuanya. Bahkan Aydin pun juga ikut duduk di ruang tamu. Mereka berbincang sebentar sebelum membahas sesuatu yang serius.
"Jadi apa yang ingin kamu katakan? Kata Tante kamu ingin mengatakan sesuatu yang penting?" tanya Emran setelah sedikit berbasa-basi.
__ADS_1
"Begini, Om. Kedatangan saya ke sini ingin melanjutkan pembicaraan saya sebelumnya. Saya ingin melamar Afrin untuk menjadi istri saya," ucap Khairi membuat semua orang terkejut kecuali Emran. Sebagai seorang pria. Dia mengerti maksud dan tujuan Khairi.
"Apa kamu sudah memenuhi syarat yang pernah saya ajukan?"
"Sudah, Om. Meskipun belum sempurna. Saya sudah mengerti dan Alhamdulillah sudah bisa mengerjakannya."
Emran menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Dia harus bicara hati-hati agar tidak menyakiti hati pria itu.
"Jawaban dari pertanyaan kamu tadi, hanya ada dua yaitu, kamu diterima dan tidak. Saya ingin bertanya apa yang akan kamu lakukan jika lamaran kamu diterima dan bagaimana jika tidak?"
"Jika lamaran saya tidak diterima, saya akan bertanya mengenai kekurangan saya dan saya akan berusaha untuk memenuhinya. Namun, jika belum juga memenuhi standar yang Om inginkan, mungkin Afrin memang bukan jodoh saya. Mudah-mudahan saya bisa ikhlas menerimanya dan kalau saya diterima, saya ingin segera menikah karena saya tidak ingin menambah dosa."
"Bukankah kamu tahu kalau putriku belum ingin menikah, sebelum dia lulus kuliah?"
"Saya tidak akan menghalangi keinginannya jika dia mau kuliah atau melakukan apa pun yang dia inginkan. Saya hanya ingin sah, karena saya tidak mungkin menjalin hubungan dengan seorang wanita. Saya bisa saja khilaf. Saya bukan anak kecil yang bisa diajak bermain," jawab Emran dengan yakin.
Emran mengangguk. "Oh, ya, ada satu lagi yang belum aku tanyakan kepada kamu dan saya harus memastikannya dulu," ucap Emran dengan begitu serius. Membuat semua orang menatap pria itu seolah bertanya apa yang begitu penting yang ingin Emran tanyakan?
"Apa, Om?" tanya Khairi.
"Iya, apa, Pa?" tanyain Yasna yang juga penasaran.
"Papa, ini ada-ada saja," tegur Yasna dengan memukul bahu suaminya.
"Papa, kan, ingin memastikan saja, bunda!" bela Emran.
Dia tidak ingin terlambat mengetahui hal itu nanti. Kemarin saja waktu ditanya tentang agamanya, pria itu tidak tahu.
"Saya sudah khitan, Om, sungguh dan saya tidak ingin di khitan lagi nanti habis punya saya, Om," jawab Khairi dengan masih menutupi kelelakiannya dengan kedua tangannya.
Aydin berusaha menahan tawanya. Dia benar-benar tidak menyangka akan terucap pertanyaan seperti itu dari papanya.
Untungnya pria itu masih ingat jika dia sudah disunat kalau tidak akan ada drama saling ... aku tidak bisa melanjutkan kan apa yang akan terjadi. Silakan kalian pikirkan sendiri-sendiri.
"Kakak!" tegur Yasna pada Aydin.
__ADS_1
"Iya, Bunda," jawab Aydin yang mencoba untuk mengendalikan dirinya.
Sementara Afrin memalingkan muka karena malu mendengar jawaban dari Khairi. Sebagai seorang gadis tentu sangat memalukan saat mendengar pembahasan seperti itu.
"Baguslah kalau kamu sudah di khitan dan mengenai jawaban lamaranmu, Om tidak punya kuasa untuk itu. Semua keputusan tergantung pada Afrin, dia yang lebih berhak menjawabnya," ucap Emran membuat semua orang menatap kearah gadis itu menunggu dia mengatakan jawabannya.
"Bagaimana, Kak?" tanya Yasna karena gadis itu tak kunjung mengeluarkan kata-katanya.
"Aku ... aku terserah Bunda saja," jawab Afrin akhirnya.
"Kok, terserah Bunda? Kan, bukan Bunda yang dilamar?" tanya Yasna. Dia mengerti jika anak gadisnya itu sudah mulai memiliki perasaan pada Khairi, hanya saja pasti Afrin malu untuk menjawab iya.
Khairi hanya bisa mengambil napas dalam-dalam untuk mengisi udara di dadanya yang terasa sesak. Tidak mudah mendapatkan gadis sekelas Afrin. Apa ini juga karma untuknya yang selama ini selalu menolak semua wanita dengan kasar?
"Baiklah, karena jawabannya terserah Bunda, Bunda akan menjawabnya. Maaf, ya, Khairi. Bunda menolak lamaran ini," ucap Yasna tanpa basa-basi.
Khairi terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka jika lamarannya benar-benar akan ditolak dan kali ini oleh Bunda Yasna. Bukan hanya pria itu yang terkejut. Afrin pun sama terkejutnya, dia mengira bundanya sudah mulai menyukai Khairi.
Melihat begitu perhatiannya Yasna pada pria yang sudah menolong putrinya itu. Siapa yang menyangka jika wanita itu masih menolak.
"Kok, ditolak Bunda!" seru Afrin.
"Kan, tadi katanya terserah Bunda? Ya sudah, bunda jawab Bunda menolak. Kamu sendiri enggak mau jawab."
"Bunda, aku kira Bunda mau menerima."
"Lagian kamu kalau mau, tinggal bilang saja mau, pake terserah Bunda," sahut Yasna membuat semua orang di ruangan itu tersenyum.
Semua orang kini tahu apa jawaban dari gadis itu, tanpa bertanya lagi. Terutama Khairi, wajah pria itu tersenyum begitu lebar. Ternyata apa yang dia rasakan selama ini benar. Gadis itu sudah jatuh cinta padanya, berarti cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Khairi berdoa agar rumah tangganya kelak akan bahagia dunia dan akhirat. Dalam hati dia berjanji akan berusaha membahagiakan Afrin dan mendahulukan kepentingan wanita itu daripada dirinya.
.
.
__ADS_1
.
.