Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
193. S2 - Jaga pandangan Anda


__ADS_3

"Perkenalkan nama saya Khairi," ucap Pria itu dengan mengulurkan tangannya.


"Maaf saya hanya perlu pertanggungjawaban Anda pada mobil saya," sahut Afrin tanpa membalas uluran tangan pria itu.


"Bagaimana kalau kita ke bengkel di depan sana. Saya akan bertanggung jawab. Di sana bengkelnya sangat bagus."


"Tapi, Tuan. Anda ada meeting penting hari ini," sela Ivan sopir sekaligus asisten pribadi Khairi.


"Tidak apa-apa, semuanya bisa ditunda yang penting kita harus tanggung jawab dulu, atas perbuatan kita," jawab Khairi mencoba untuk mengambil hati Afrin. Sayangnya gadis itu bukan wanita yang terbuai dengan kata-kata manis.


Ivan pun akhirnya diam. Dia mengerti jika saat ini atasannya itu sedang jatuh cinta. Banyak wanita di luar sana yang selalu datang menggoda Khairi. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mampu merebut hati atasannya itu.


"Ayo, kita pergi! Saya juga masih ada urusan yang sangat penting!" ucap Afrin dengan penegasan di kalimat terakhirnya.


Mereka pergi bersama. Gadis itu melaju lebih dulu, kemudian diikuti mobil Khairi di belakang, menuju bengkel yang berada disekitar.


"Ivan."


"Iya, Tuan."


"Cari tahu tentang gadis itu."


"Siap, Tuan."


'Gadis yang menarik, aku akan membuatmu menjadi milikku.'


*****


"Assalamualaikum," ucap Emran saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, Opa," jawab Yasna sambil menggendong Nuri.


"Cucu Opa sudah mandi? Wangi sekali, boleh Opa cium?" tanya Emran sambil mengambil alih cucu pertamanya itu dari gendongan Yasna.


"Papa nggak capek? Baru juga pulang kerja. Sebaiknya mandi dulu," tegur Yasna.


"Tidak apa-apa, cuma sebentar, kok."


Yasna tersenyum melihat interaksi suami dan cucunya. Apalagi Nuri yang sudah mulai belajar berjalan dan berbicara, membuat semua orang gemas padanya.


"Satu bulan lagi pasti kebersamaan kita dengan Nuri tidak bisa seperti sekarang," ucap Yasna dengan nada sedih.


"Maksud, Bunda?" tanya Emran yang tidak mengerti.


"Nayla dan Aydin akan pulang. Pasti Nuri akan lebih sering sama mereka."


Emran tahu Yasna sudah sangat menyayangi cucunya, tetapi Nayla tetaplah mamanya dan lebih berhak atas Nuri daripada mereka berdua.


"Tapi kita masih bisa bertemu dengannya, Bunda." Emran mencoba menghibur.

__ADS_1


"Tetap saja pasti ada perbedaan nanti."


"Itu memang hak mereka, Sayang. Kamu bisa minta mereka untuk tinggal di sini jadi, kamu masih punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan Nuri."


"Bunda rasa itu tidak mungkin. Pasti mereka akan pergi juga. Waktu mereka berdua saja, mereka tinggal di apartemen. Sekarang pasti akan membeli rumah sendiri."


"Kalau, Bunda, mau? Kita adopsi anak saja," usul Emran yang langsung ditolak Yasna.


"Enggak ah, Pa. Nanti pasti Afrin akan cemburu melihat aku lebih memperhatikan anak lain. Sama Nuri saja kadang dia cemburu, apalagi kita mengadopsi anak," jawab Yasna membuat Emran tertawa.


"Iya, aku juga heran sama Afrin. Dia sudah dewasa, tapi masih suka manja sama kamu."


"Tapi Bunda suka, kok! Bunda merasa masih diperlukan di sini."


"Jangan bilang begitu. Bunda selalu kami inginkan di sini," sahut Emran kemudian beralih kepada cucunya. "Sayang, sama Oma dulu, Opa mau mandi."


Yasna segera mengambil Nuri dari gendongan Emran. Pria itu pun langsung ke dalam kamarnya.


"Mbak Rani!"


"Iya, Bu."


"Tolong ajak Nuri sebentar. Saya mau menyiapkan keperluan Bapak dulu."


"Iya, Bu."


Rani mengambil alih Nuri dari gendongan Yasna sambil berkata, "Ayo, main sama Mbak!"


*****


"Sambil menunggu mobilnya selesai, bagaimana kalau kita ke coffee shop sebelah," tawar Khairi.


Afrin hanya mengangguk, kemudian keduanya berjalan. Tiba-tiba gadis itu berhenti.melihat kebelakang ternyata Ivan masih berdiri di tempat


"Mas yang tadi tidak ikut?" tanya Afrin.


"Tidak, dia 'kan sopir saya jadi, dia harus menunggu di sana."


"Kalau begitu aku nggak jadi. Aku nggak mau cuma berdua saja, orang ketiganya bisa setan."


Afrin teringat dengan nasehat Yasna jika dia tidak boleh terlalu dekat dengan pria. Apalagi yang baru dikenalnya. Gadis itu juga bisa melihat kalau Khairi memiliki ketertarikan padanya. Bukannya terlalu percaya diri, tetapi begitulah yang dia rasakan.


"Akan saya panggil," kata Khairi. "Ivan!" panggilnya dengan sedikit keras.


Segera pria yang bernama Ivan iti mendekat dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Iya, Tuan."


"Kamu ikut kita ke sana."

__ADS_1


"Tapi, Tuan."


"Kamu ikut saja!" ucap Khairi tegas dan akhirnya diangguki Ivan.


Mereka bertiga pun menuju coffee shop di samping bengkel. Saat sedang menikmati pesanan Khairi terus saja menatap Afrin, membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


"Maaf, Tuan. Bisakah Anda menjaga pandangan? Saya merasa risih dengan tatapan Anda," ucap Afrin dengan nada sinis. Justru membuat pria itu itu tersenyum.


"Kamu selalu cantik dalam keadaan apa pun. Bahkan saat marah."


"Dimana pun dan dalam keadaan apa pun, buaya tetaplah buaya," sindir Afrin.


Sementara Ivan menahan tawanya. Baru kali ini atasannya dibilang buaya padahal Khairi sama sekali tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Apalagi sampai menjalin hubungan.


Pria itu sangat tahu, bagaimana kehidupan Khairi yang selalu didekati wanita-wanita yang hanya ingin memanfaatkan harta dan kekuasaannya.


"Anda salah tentang saya, Nona. Saya tidak pernah sekali pun dekat dengan wanita, bagaimana bisa Anda mengatakan kalau saya ini buaya?"


"Lalu, sebutan apa untuk seorang pria yang melontarkan kata-kata gombalan, kepada seseorang gadis yang baru saja dia kenal?"


"Apa salahnya? Tidak ada masalah selagi dia bukan istri orang. Saya juga tidak memiliki istri."


"Tidak masalah untuk Anda dan saya tidak suka," jawab Afrin yang semakin tidak suka dengan pria yang ada di depannya.


"Kalau mengenai tidak suka, berarti masalahnya bukan pada saya."


"Capek, ya, ngomong sama Anda." Afrin lebih memilih menikmati minuman yang ada di depannya. Terserah pria itu mau melakukan apa.


Tidak berapa lama akhirnya mobil Afrin telah selesai. Gadis itu segera melihat keadaan mobilnya.


"Untung saja cuma lecet jadi, tidak perlu menunggu terlalu lama," gerutu Afrin sambil melihat hasil mobilnya. "Terima kasih, saya permisi dan Anda, Tuan. Sebaiknya lain kali hati-hati, di jalan bukan hanya ada nyawa Anda yang harus dijaga tapi ada orang lain juga," ucap Afrin pada Ivan.


"Maafkan saya, Nona," sahut Ivan.


"Saya permisi dan terima kasih sudah memperbaiki mobil saya. Assalamualaikum," pamit Afrin dan pergi berlalu begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun pada Khairi.


"Kamu sudah membuat saya tertarik, Nona. Kita lihat saja nanti. Sejauh apa kamu bisa menolak saya karena saya yakin, tidak ada wanita mana pun yang bisa lepas dari saya jika saya sudah menginginkannya," ucap Khairi pelan yang hanya bisa didengar oleh Ivan.


Ivan hanya diam mendengarkan. Dia tahu jika atasannya tidak suka dibantah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2