Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
83. Jangan meminta maaf


__ADS_3

"Mas, apa mereka akan baik-baik saja? Aku khawatir," ucapYasna pada suaminya.


Sebagai seorang ibu, dia khawatir Vino dan Vico akan tersakiti. Mereka terlalu kecil untuk memahami masalah orang tuanya.


Emran merangkul pundak Yasna dan berkata, "Mereka akan baik-baik saja, Sayang."


"Kenapa Mas bisa begitu yakin? Bagaimana kalau suaminya Celina berbuat jahat?"


"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Jangan hanya mendengarkan dari salah satu pihak saja."


"Maksud, Mas, apa?" Yasna sama sekali tidak mengerti maksud Emran, tapi dia tahu ada sesuatu yang Emran ketahui tentang Celina.


"Ferdi tadi pagi datang ke kantor. Dia cerita semua yang terjadi dalam rumah tangganya. Dia juga mengatakan jika apa yang Celina katakan pada kita itu tidak benar, Ferdi selalu bersikap baik pada anak-anak. Dia juga sudah berusaha sabar menghadapi tingkah Celina yang selalu ingin menang sendiri."


"Aku semakin nggak ngerti, Mas. Kalau memang Celina berbohong, lalu kenapa waktu itu wajahnya merah?"


"Kamu tahu nggak, kenapa disetiap drama pemerannya ada yang babak belur bahkan berdarah. Apa itu juga darah sungguhan? Itu semu dibuat oleh mereka."


"Jadi maksud, Mas. Celina sengaja bermain drama, hanya untuk bisa deket sama Mas?"


"Sepertinya begitu."


Yasna menghela nafas panjang, ternyata wanita itu tidak juga berhenti mengejar suaminya. Padahal jelas-jelas dia sudah memiliki suami.


"Usia pernikahan mereka sudah cukup lama, kenapa baru sekarang masalah anak dipermasalahkan? Kalau memang Ferdi tidak mau menerima mereka, seharusnya sudah dari awal pernikahan mereka."


Yasna mengangguk, membenarkan apa yang suaminya katakan. Tidak semua orang bisa menerima kehadiran anak sambung. Karena bagi sebagian orang, mereka merepotkan dan hanya bisa membuat masalah.


"Karena itu, aku tadi menyuruhnya pulang. Sekaligus mengirim seseorang untuk mengantisipasi, aku juga tidak begitu percaya pada Ferdi. Siapa yang benar dan siapa yang salah, biarlah waktu yang menjawab."


"Mama Karina bagaimana, Mas? Mama sedang arisan, bagaimana kalau nanti Mama mencari mereka." Yasna khawatir mertuanya itu sedih, saat tahu cucunya sudah tidak tinggal di sini.


"Aku sudah memberi tahu mama, tadi aku sempat menghubungi dan meminta pendapat darinya."


"Syukurlah, kalau begitu aku jadi, tidak terlalu merasa bersalah."


"Kenapa harus merasa bersalah? Aku yang sudah memutuskannya."


"Waktu Vino dan Vico tinggal di sini, mama tuh seneng banget, tapi sekarang mereka sudah pergi. Pasti mama akan sedih."

__ADS_1


"Setiap orang tua, pasti senang saat bertemu dengan cucu mereka yang sudah lama tidak datang, tapi bukan berarti mereka harus tinggal bersama selamanya," ucap Emran. "Sudah, ayo, masuk!"


Mereka masuk ke dalam rumah. Biarlah Ferdi dan Celina menyelesaikan masalahnya, Emran dan Yasna tidak memiliki hak untuk ikut campur. Mereka akan turun tangan jika Vino dan Vico benar tersakiti.


*****


Hari ini, Fazilah membuat janji dengan Hisyam. Akhirnya, pria itu membalas pesan yang sudah Fazilah kirim beberapa hari yang lalu. Mereka bertemu di sebuah restoran. Fazilah datang lebih dulu tidak berapa lama, yang ditunggu pun akhirnya datang.


Senyum menghiasi bibir Fazilah, dia menjabat tangan Hisyam. Pria itu juga tersenyum.


"Apa kabar?" tanya Fazilah.


"Baik, kamu sendiri, bagaimana kabarnya?" tanya Hisyam balik.


"Aku juga baik."


"Kamu sudah pesan makanan?"


"Belum, aku sengaja menunggu kamu."


Hisyam memanggil seorang pelayan dan memesan makanannya, begitu pun dengan Fazilah.


"Aku ingin minta maaf padamu," ucap Fazilah setelah beberapa menit terdiam.


"Tidak perlu, Hafidz juga tidak keberatan tentang hal itu karena itu tidak sebanding dengan yang keluarga kalian rasakan," ucap Fazilah. "Kenapa kamu tiba-tiba melakukannya? Padahal sebelum itu, aku sudah memintamu untuk melepaskanku, tapi kamu menolaknya."


"Sebenarnya aku tidak ingin membatalkan pernikahan kita, tapi sebelum acara akad nikah. Aku melihat Tante Mirna memohon pada mama untuk membatalkan pernikahan ini karena kamu mencintai pria lain. Bahkan Tante Mirna sampai bersujud di depan mama saat itu. Aku berpikir pasti cintamu padanya begitu besar, hingga membuat Tante Mirna melakukan hal itu. Pasti dia juga sudah yakin kalau pria itu bisa membahagiakanmu. Itulah kenapa aku membatalkannya."


Fazilah terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka, mamanya akan memohon pada keluarga Hisyam. Padahal sebelumnya Mama Mirna melarang Fazilah membatalkan pernikahan ini.


"Kapan itu terjadi? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Bahkan Mama juga tidak mengatakan apapun."


Fazilah tidak pernah berpikir demi kebahagiaannya, sang mama rela memohon pada orang lain. Sesuatu hal yang tidak pernah Mama Mirna lakukan sebelumnya.


Wanita itu meneteskan air matanya, dia sungguh merasa bersalah pada mamanya. Selama ini dia selalu merepotkan, bahkan disaat sudah dewasa pun dia masih merepotkan sang mama.


"Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena mereka berbicara di ruangan khusus keluarga."


Fazilah menundukkan kepalanya dengan air mata yang masih menetes.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu merasa berdosa karena aku tahu, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan mereka tidak mempedulikan diri mereka sendiri." Hisyam mencoba menenangkan Fazilah. Dia tidak tega melihat seorang wanita bersedih apalagi sampai menangis.


"Aku berterima kasih padamu sekaligus minta maaf karena aku, kamu dan keluargamu jadi malu dan karena aku juga mama sampai ...."


Fazilah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia sungguh terluka mendengar kebenaran. Wanita itu mencoba menenangkan dirinya, dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain.


"Aku sudah katakan. Jangan minta maaf," sahut Hisyam. "Ngomong-ngomong Kapan pernikahan kalian? Jangan lupa mengundangku."


"Tentu, kamu adalah tamu pertama yang aku undang. Bolehkah aku memanggilmu, kakak?" tanya Fazilah dengan tersenyum.


"Tentu, aku sangat senang jika kamu masih menganggapku saudara."


"Kamu orang yang baik kenapa tidak untuk menjadikanmu saudara dan aku akan berdoa semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku," ucap Fazilah. "Aku akan menunggu kamu mencarikan aku seseorang kakak ipar."


'Tidak ada wanita sebaik dirimu. Suatu hari nanti aku akan menikah, tapi mungkin aku tidak akan bisa melupakanmu,' batin Hisyam.


Mereka menikmati makanan dengan sesekali bercanda. Fazilah lega sekaligus senang karena Hisyam tidak benci padanya apalagi dendam.


"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Hisyam.


"Mau pulang saja sih, nggak mau kemana-mana."


"Mau aku antar?"


"Tidak perlu, aku tadi bawa mobil. Kalau aku ikut kakak, bagaimana dengan mobilku? Meskipun mobil butut, tapi itu harta paling berharga buatku."


"Kamu ,kan, sekarang bos, masih sanggup beli yang lebih bagus."


"Bos apa? Aku sama sekali nggak merasa seperti itu. Aku juga nggak mau ngurus itu semua, biar saja Hafidz yang repot," ucap Fazilah seolah tidak peduli.


"Untung aku nggak jadi, nikah sama kamu. Pasti kamu akan membuatku repot." cibir Hisyam membuat mereka tertawa.


Hisyam yang melihat Fazilah tertawa pun merasa lega karena wanita itu, tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2