Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
230. S2 - Selamat


__ADS_3

"Kamu bicara apa, sih? Aku tidak suka kamu bicara soal nyawa. Jangan main-main," ucap Afrin.


"Aku nggak main-main, Sayang. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Kamu adalah orang yang bisa merubahku sampai detik ini. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang terdekatku, termasuk orang tuaku dan aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu."


Afrin sungguh terharu mendengar apa yang dikatakan Khairi. Dia tidak menyangka kehadirannya bisa membuat seseorang bisa lebih baik lagi. Hampir saja gadis itu menyia-nyiakan pria sebaik dia. Afrin bersyukur Tuhan menunjukkan kebenaran untuknya.


"Oh, ya, Mas. Di sini apa enggak ada baju ganti? Aku gerah pakai kebaya ini terus."


"Apa tadi?" tanya Khairi. "Kamu panggil aku apa?"


"Panggil apa?" tanya Afrin yang kebingungan dengan maksud Khairi.


"Tadi kamu manggil aku apa?"


Afrin berpikir sejenak. Kini dia mengerti apa maksud Khairi. Gadis itu tersenyum ke arah suaminya dan bertanya, "Apa kamu tidak suka, kalau aku panggil Mas?"


"Justru aku sangat senang dengan panggilan itu. Coba ulangi lagi!"


"Apaan sih, Mas?" sahut Afrin yang merasa malu.


Khairi tersenyum dan segera memeluk istrinya. Hari ini begitu banyak kebahagiaan yang Tuhan berikan padanya. Awalnya dia takut jika ini semua hanya mimpi. Namun, Afrin memberi pengertian padanya jika ini semua memang kenyataan.


"Ya sudah, kamu mandi saja dulu. Nanti juga ada yang nganter baju. Aku sudah minta Ivan buat beliin baju buat kamu dan buat aku. Sekarang kamu pakai aja handuk kimono itu," ucap Khairi setelah melepaskan pelukan sambil menunjuk sebuah handuk.


"Aku mau lepas hiasan ini dulu," ucap Afrin dengan berusaha melepas mahkota dan hiasan yang ada di kepalanya.


"Sini, aku bantu," ucap Khairi sambil membantu Afrin. "Kamu cantik saat pakai hijab.


"Maaf, ya, Mas. Aku masih belum siap memakainya."


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksamu. Bagaimanapun penampilanmu, aku tetap suka," sahut Khairi. "Sudah selesai."


"Ya sudah, aku mau mandi dulu," ucap Afrin berlalu membawa kimono tadi ke kamar mandi.


Khairi memandangi punggung Afrin yang menghilang di balik pintu. 'Terima kasih telah datang dan terima kasih karena masih mencintaiku. Aku akan selalu mencintaimu. Hanya kamu wanita yang ada di hatiku,'


*****


Acara resepsi di malam hari begitu meriah, banyak tamu undangan yang hadir di sana. Dari keluarga dan juga rekan bisnis. Tiba-tiba saja pandangan Afrin tertuju pada seorang gadis yang datang bersama dengan kedua orangtuanya. Siapa lagi kalau bukan Vira. Tidak heran memang gadis itu datang karena ayahnya adalah sahabat dari Pak Hamdan.


Jika Afrin tidak mengetahui apa pun, pasti saat ini dia akan sangat bahagia dan segera memeluk sahabatnya itu. Sekarang, jangankan untuk memeluk, berjabat tangan saja enggan.


"Hai, Afrin. Selamat, ya! Sudah dapetin Khairi. Aku yakin kamu memang wanita yang hebat, bisa menaklukkan pria dingin dan kaku seperti dia."

__ADS_1


"Iya, sama-sama." Vira memeluk Afrin dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Aku nggak nyangka kamu begitu tega menghianatiku,"


"Sayangnya, aku juga bukan gadis bodoh yang menyerahkan orang yang aku cintai pada seorang gadis yang hanya bermain cinta," balas Afrin dengan berbisik juga.


"Apa maksudmu?" tanya Vira.


Afrin tidak mau menjawab, dia segera melepas pelukan dari gadis itu. "Terima kasih, ya, sudah mau datang," ucap Afrin dengan tersenyum semanis mungkin.


"Iya, sama-sama," sahut Vira kemudian beralih menatap Khairi. "Selamat ya kamu berhasil mendapatkannya," ucap Vira dengan mengeluarkan tangan pada Pria itu.


Khairi meraih uluran Vira sebentar dan segera melepasnya. "Silakan dinikmati makanannya," ucapnya yang sengaja ingin membuatnya segera pergi.


Vira yang mengerti jika dirinya diusir segera turun dari pelaminan. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Afrin? Apa temannya itu tahu sesuatu?


"Kamu tadi bicara apa, Sayang, sama dia?" tanya Khairi setelah kepergian Vira.


"Tidak apa-apa, hanya obrolan sesama wanita."


Tamu yang diundang sangat banyak hingga kedua pengantin merasa kelelahan. Sesekali Afrin duduk.


"Kamu capek nggak, Sayang?" tanya Khairi. "Sebaiknya kita meninggalkan gedung ini saja. Aku tahu kamu capek."


"Ya sudah, tapi nanti kalau benar-benar sudah tidak kuat, bilang saja."


"Iya, Mas."


"Hai, Kak, selamat. Sorry gue nggak bisa lama-lama. Gue harus kembali," ucap Adit.


"Kembali ke hotel, kan?"


"Tidak, gue harus kembali pulang."


"Kenapa cepat sekali? Baru juga tadi pagi datang, sekarang sudah mau pulang? Memang Lo nggak kangen sama Mama?"


"Kerjaan gue ada banyak dan harus diselesaikan segera," ucap Adit yang dapat pukulan di bahu pria itu.


"Hati-hati, jaga diri, Lo," ucap Khairi.


Adit segera memeluk kakaknya. "Nanti kalau lo sudah punya anak, jangan lupa kabari gue, ya! Pasti gue akan datang," ucapnya di sela pelukan.


"Oh, iya, Sayang, ini kenalin adikku namanya Adit," ucap Khairi pada istrinya.

__ADS_1


"Halo, kakak ipar, saya Adit," ucap pemuda itu dengan mengulurkan tangannya. Namun, bukan Afrin yang menyambut, justru Khairi yang membalas uluran tangan itu.


"Ya ampun, Kak, Aku tuh mau salaman sama kakak ipar."


"Nggak usah, ini juga sama saja."


Adit mendengus, begitu protektifnya sang kakak pada istrinya. Untuk berjabat tangan saja tidak boleh.


"Ya udah, Kak, aku balik dulu," pamit Adit. "Kakak ipar hati-hati, ya! Sama buaya ini, jangan sampai mau diperdaya sama dia."


Adit segera pergi dari sana sebelum kakaknya mengucapkan sesuatu. Khairi tahu itu hanya candaan, tetapi justru itu yang membuatnya selalu rindu pada adik tirinya itu. Dari dulu dia selalu ingin memiliki adik. Namun, sayang keinginannya tidak pernah terkabul.


"Aku baru tahu, kalau kamu punya adik," ucap Afrin setelah Adit menjauh.


"Sebenarnya dia bukan adik kandungku. Dia anak Mama Merry dengan suami pertamanya."


"Anak Mama Merry? Aku semakin nggak ngerti!"


"Kapan-kapan saja aku ceritain, kalau aku cerita di sini kayaknya, nggak enak. Bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan hal itu," ucap Khairi yang diangguki Afrin.


"Afrin, selamat akhirnya sah juga," ucap Zahra pada sahabatnya itu. Mereka saling berpelukan.


"Terima kasih sudah datang."


"Tentu, dong! Aku nggak mau ngelewatin hari bahagia sahabatku. Kamu harus ingat, nanti kamu juga harus hadir di pesta pernikahanku."


"Insya Allah." Zahra mengurai pelukan mereka dan beralih mengulurkan tangannya pada Khairi. "Selamat, ya, Kak. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai tua nanti."


"Amin, terima kasih," sahut Khairi membalas uluran tangan Zahra.


"Ayo! Kita foto dulu, Ra. Kamu nggak boleh ngelewatin yang ini, biar nanti jadi kenang-kenangan, kalau aku pernah punya sahabat seperti kamu."


Mereka pun berfoto beberapa kali. "Ya sudah, aku ke sana dulu."


"Iya, mau cari gebetan?" goda Afrin.


"Aku mau cari makanan. Kalau cari pacar, bisa dibunuh aku sama abi kalau sampai rumah." Zahra kemudian berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2