Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
185. S2 - Maafkan Kak Aydin


__ADS_3

"Seperti yang aku katakan tadi, Bunda. Itu yang benar," jawab Nayla, dia tidak ingin semua orang salah paham pada Nuri.


"Sudahlah, Sayang. Pokoknya sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah menuruti keinginanmu," sahut Aydin kemudian beralih menatap Nuri. "Dan kamu, sebaiknya kamu pergi dari sini!" teriak Aydin pada Nuri yang masih diam, berdiri di tempat.


"Kenapa kamu masih diam? Cepat pergi!" usir Aydin. Segera Nuri pergi tanpa satu kata pun.


Ingin sekali gadis itu berteriak jika dia tidak mengerti apa pun mengenai permintaan Nayla, tetapi Nuri tahu jika itu percuma. Itu hanya akan semakin memperpanjang masalah karena Aydin sangat mencintai istrinya.


Gadis itu menangis sesenggukan, dia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Apalagi Nuri merasa tidak bersalah sama sekali, semua itu atas permintaan Nayla. Bahkan dia juga menolak, dia bukan gadis yang sekejam itu merebut kebahagiaan orang lain.


Setelah kepergian Nuri, semua orang terdiam. Memikirkan masalah yang terjadi sebenarnya. Hingga kata-kata Afrin membuat Aydin merasa tertampar.


"Jika kakak marah sama Kak Nayla. Kenapa harus melampiaskannya pada Nuri yang tidak bersalah. Jangan karena dia diam, Kakak bisa seenaknya. Kenapa tidak marah sama istri Jakak. Jangan karena dia istri Kakak dan Kakak membela kesalahannya dan menyalahkan orang lain yang tidak bersalah. Oke, kalau kakak tidak mau memarahi istri Kakak, tapi jangan juga menyalahkan orang lain atas kesalahan yang tidak mereka perbuat. Bagaimana jika itu terjadi padaku. Orang lain memarahiku atas kesalahan yang tidak aku perbuat dan tidak satu pun orang membelaku. Pasti terlihat sangat menyedihkan, bukan?"


Afrin segera berlalu menyusul Nuri. Afrin khawatir pada temannya karena dia yakin, Nuri hanya membawa sedikit uang. Pasti tidak cukup untuk membayar taksi, sedangkan di wilayah ini tidak ada angkot yang lewat.


"Kalian pikirkan masalah kalian sendiri. Bunda mau masuk," ucap Yasna segera berlalu.


Nayla kembali duduk di kursi tadi. Seharusnya dia melihat sekitar. Apa ada orang yang mendengar pembicaraan mereka atau tidak. Hingga tidak menjadi masalah seperti ini. Akan tetapi, semua sudah terlambat dan semuanya sudah terjadi.


****


Nuri terus berlari hingga suara klakson mobil dan motor, membuat dia tersadar sudah sampai di ujung jalan. Gadis itu segera mengusap air matanya. Dia sangat sedih mendapat tuduhan seperti itu. Bagaimana bisa Aydin menuduhnya? Padahal pria itu jelas-jelas mendengar pembicaraan mereka.


Gadis itu tertunduk lesu setelah sadar, dia tidak membawa apa pun saat lari dari rumah Afrin tadi. Tas dan dompetnya ada di kamar sahabatnya itu dan Nuri tidak sempat untuk ke sana.


Jarak dari sini ke rumah gadis itu sangat jauh lalu, bagaimana dia akan pulang? Mau kembali ke rumah sahabatnya pun, Nuri tidak memiliki keberanian. Mau tidak mau gadis itu harus berjalan kaki. Namun, Tuhan masih baik padanya. Baru beberapa langkah Nuri berjalan, dia mendengar teriakan Afrin dari dalam mobil.


"Nuri, ayo, aku antar pulang! Masuklah!"


Gadis itu awalnya ragu. Dia takut itu akan menjadi masalah nantinya. Afrin berusaha membujuknya beberapa kali hingga akhirnya dia mengangguk.

__ADS_1


Nuri segera masuk ke dalam mobil. Dia merasa lega karena sahabatnya mau membantu. Tadi Afrin memang meminta bantuan pada Pak Hari untuk segera mengejar sahabatnya, karena dia tahu kalau Nuri tidak membawa apa pun saat pergi. Tas sahabatnya itu masih ada di kamarnya.


Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang penuh dengan kebisingan lalu lalang kendaraan bermotor.


"Ini tas kamu, Ri," ucap Afrin dengan menyerahkan tas sahabatnya.


"Iya, terima kasih."


"Maafin Kakak, ya, Ri. Tadi dia sedang emosi saja, makanya dia marah-marah."


"Iya, aku tahu, tapi aku benar-benar tidak salah. Aku juga tidak mengatakan apa pun pada Kak Nayla. Dia yang meminta padaku, tapi kenapa aku yang disalahkan?" tanya Nuri dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, tadi juga Kak Nayla sudah menjelaskan. Aku percaya, kamu tidak akan setega itu dan kamu juga tidak akan melakukan hal yang tidak kamu sukai."


"Sebenarnya aku bingung. Aku tidak mengerti apa maksud kak Nayla, dengan mengatakan jika umurnya tidak lama lagi?"


Afrin terdiam sejenak dengan menatap sahabatnya. Sepertinya dia harus menceritakan mengenai Nayla pada Nuri agar tidak ada kesalahpahaman.


"Astaghfirulloh," ucap Nuri dengan menutup mulutnya. Dia tidak menyangka jika Nayla menderita sakit yang begitu ganas. Afrin pun menceritakan sedikit tentang penyakit yang diderita kakak iparnya.


"Jadi begitulah, Ri."


"Apa Kak Nayla tidak bisa sembuh? Sampai dia berkata seperti tadi kepadaku?" tanya Nuri dengan masih menatap sahabatnya itu.


"Kemungkinannya hanya dua puluh sampai dua puluh lima persen."


Nuri tidak tahu harus berkata apa lagi. Pasti sangat berat menjalani kehidupan ini bagi Nayla. Akan tetapi, bukankah hidup dan mati hanya Tuhan yang tahu.


"Kenapa tidak mencari dokter yang hebat, Frin? Maaf bukannya aku mau menyinggung. Kalian 'kan orang kaya, pasti sangat mudah mencari dokter yang hebat."


"Dokter juga manusia, Ri. Papa dan Kak Aydin juga masih berusaha mencari dokter terbaik. Kata papa juga semua dokter mengatakan hal yang sama."

__ADS_1


"Semoga saja Kak Nayla bisa sembuh dan tidak lagi memintaku untuk menjadi Ibu sambung."


"Amin, mudah-mudahan," sahut Afrin. "Sekali lagi aku mewakili Kakak, minta maaf, ya!"


"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti."


Afrin lega sahabatnya itu tidak dendam pada kakaknya. Bagaimanapun persahabatan mereka sangat dekat, sudah seperti saudara. Jika Nuri membenci Aydin akan terasa aneh saat mereka bersama.


Sementara di rumah, baik Nayla ataupun Aydin tidak lagi membahas kejadian tadi siang. Mereka sama-sama sepakat untuk melupakan hal itu dan menganggap tidak terjadi apa pun. Meski dalam hati wanita itu, masih tetap pada keinginannya.


*****


Dua minggu telah berlalu. Jadwal operasi Nayla sudah ditentukan yaitu lima minggu lagi. Aydin sudah konfirmasi dengan beberapa dokter. Dia juga berniat membawa istrinya ke luar negeri setelah operasi cesar.


Awalnya pria itu ingin operasi dilakukan di luar negeri sekalian dengan pengobatan Nayla, tetapi wanita itu menolak dengan tegas. Terpaksa Aydin yang mengalah.


Hari ini Aydin ada meeting penting, yang mengharuskannya untuk datang ke perusahaan. Nayla di rumah bersama dengan Yasna. Mereka menghabiskan banyak waktu dengan menanan bunga dan membuat kue.


Waktu makan siang sudah lewat. Sebentar lagi Afrin pulang sekolah. Sudah saatnya Pak Hari menjemput nona mudanya itu. Nayla berniat ikut menjemput adik iparnya. Wanita itu ingin bertemu dengan Nuri dan meminta maaf padanya, mengenai apa yang terjadi waktu itu.


Yasna sempat melarang, tapi Nayla berusaha meyakinkan mertuanya bahwa dia baik-baik saja. Akhirnya Yasna pun mengizinkan menantunya ikut dengan Hari dan mewanti-wanti agar berhati-hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2